DEMOCRAZY.ID — Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, membeberkan sejumlah alasan di balik gelagat dan gelombang upaya kelompok yang kerap disebut sebagai “Geng Solo” yang dinilai begitu bernafsu merebut kekuasaan sebelum masa jabatan Presiden Prabowo Subianto berakhir pada 2029 mendatang.
Melalui catatan yang dibagikannya lewat akun TikTok pribadinya, Said Didu merinci lima poin utama yang mendasari manuver politik tersebut:
Keengganan Melepas Dinasti
Jokowi dinilai tidak pernah rela untuk melepaskan kendali kekuasaan dari genggaman lingkaran dinastinya.
Sinyal Ketidakpastian dari Prabowo
Hingga saat ini, Presiden Prabowo Subianto belum menunjukkan tanda-tanda positif atau kepastian apakah ia bersedia kembali berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029.
Kalkulasi Waktu dan Hambatan Politik
Geng Solo memperhitungkan bahwa jika harus menunggu hingga tahun 2029, jalan bagi Gibran untuk kembali maju dalam kontestasi nasional akan menjadi jauh lebih berat.
Membaca Celah Ketidakpuasan Publik
Kelompok tersebut melihat adanya celah dan peluang untuk menjatuhkan Prabowo, yang diklaim berlandaskan pada hasil survei bahwa tingkat kepuasan rakyat menurun serta kondisi perekonomian nasional yang dinilai semakin memburuk.
Doktrin “Sekarang atau Tidak Sama Sekali”
Akumulasi dari berbagai faktor tersebut akhirnya melahirkan sebuah kesimpulan dan opini internal di lingkaran mereka: “Kalau bukan sekarang, tidak akan mungkin lagi.”
👇👇
@muhsaiddidu♬ suara asli – Muhammad Said Didu