DEMOCRAZY.ID – Aroma konfrontasi kian menyengat di ruang sidang perkara dugaan pencemaran nama baik yang menjerat Roy Suryo dan dr. Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa).
Di tengah panasnya proses hukum, tokoh reformasi sekaligus Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, melayangkan tantangan “maut” kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Ia mendesak Jokowi untuk berhenti bersembunyi dan segera unjuk nyali di pengadilan.
Bagi Amien, persidangan bukan sekadar urusan hukum bagi Roy Suryo dan Dokter Tifa, melainkan panggung penentuan nasib sejarah bagi Jokowi sendiri.
Amien Rais secara blak-blakan menantang Jokowi untuk hadir langsung dan menunjukkan dokumen ijazah yang selama ini menjadi “hantu” dalam karier politiknya.
Menurut Amien, jika Jokowi berani melakukan langkah berani ini, maka label-label negatif yang selama ini melekat pada dirinya bisa saja luntur seketika.
“Kalau betul-betul berani datang ke persidangan itu, citranya akan berubah! Publik akan melihat sosok yang berbeda, bukan lagi sosok yang dicap sebagai ‘begajul banci’ atau penakut,” ujar Amien dengan nada menantang dalam pernyataannya, Rabu (15/7/2026).
Namun, Amien tidak lantas percaya begitu saja.
Tokoh yang dikenal dengan retorikanya yang berapi-api ini mengaku sangat skeptis.
Ia merujuk pada peristiwa April 2025 lalu, ketika massa Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA) menyambangi kediaman Jokowi untuk menuntut pembuktian, namun pulang dengan tangan hampa.
Amien bahkan kembali mengorek memori lama dengan menyinggung julukan “King of Lip Service” dari BEM UI (2021).
Ia menegaskan bahwa pola “janji manis tanpa bukti” itulah yang membuatnya meragukan Jokowi akan benar-benar berani membuka dokumen ijazah asli di meja hijau.
Menanggapi gempuran kritik tersebut, pihak Jokowi tidak tinggal diam.
Mantan orang nomor satu di Indonesia ini telah menegaskan kesiapannya untuk hadir di persidangan kapan pun majelis hakim mengetuk palu pemanggilan.
“Kalau saya diundang yang mulia majelis hakim untuk hadir di forum persidangan, ya saya akan hadir!” tegas Jokowi saat ditemui di Solo, Selasa (7/7/2026).
Tidak tanggung-tanggung, Jokowi berjanji akan memboyong seluruh “bukti otentik” dari jenjang pendidikan paling dasar hingga bangku kuliah.
“Sesuai yang saya sampaikan yang lalu, saya akan membawa dan menunjukkan ijazah dari SD, SMP, SMA, dan S1 yang saya miliki. Kita harus menghormati proses hukum yang ada,” imbuhnya.
Perseteruan ini ternyata bukan sekadar urusan ijazah.
Amien Rais secara tersirat mengaitkan isu ini dengan kelangsungan dinasti politik Jokowi, terutama nasib politik putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, di Pemilu 2029 mendatang.
Baginya, jika isu ini tidak segera diselesaikan secara tuntas di pengadilan, maka ia akan terus menjadi “bom waktu” yang merusak reputasi politik keluarga Jokowi hingga bertahun-tahun ke depan.
Kini, bola panas berada di tangan majelis hakim.
Akankah Jokowi menepati janjinya untuk berhadapan langsung dengan para pengkritiknya di persidangan, ataukah janji untuk membawa ijazah tersebut hanya akan berakhir sebagai retorika yang kembali memicu gelombang kekecewaan publik?
Satu hal yang pasti, publik kini sedang menyaksikan “pertarungan terakhir” dari sebuah polemik yang telah menguras energi bangsa selama bertahun-tahun.