DEMOCRAZY.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah sebuah surat kabar Iran menerbitkan infografis berisi daftar 13 pemimpin dunia yang diklaim menjadi sasaran pembalasan atas tewasnya mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei.
Daftar tersebut dimuat oleh Hamshahri, surat kabar konservatif yang diterbitkan otoritas Teheran dan dikenal memiliki gaya pemberitaan yang provokatif.
Infografis itu menampilkan foto sejumlah pemimpin politik dan militer dari Amerika Serikat (AS), Israel, hingga negara-negara Eropa.
Publikasi itu muncul tidak lama setelah pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatullah Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatullah Ali Khamenei, menyampaikan pernyataan publik pertamanya sejak prosesi pemakaman sang ayah yang berlangsung selama enam hari.
Dalam pesannya, Mojtaba Khamenei menegaskan pembalasan merupakan kehendak rakyat Iran.
“Pembalasan adalah kehendak bangsa kami dan tidak dapat dihindari. Para penjahat yang namanya ada dalam daftar itu akan membawa ke liang kubur keinginan mereka untuk meninggal dengan damai di tempat tidur mereka,” ujar Mojtaba Khamenei, dikutip dari Hindustan Times, Senin (13/7/2026).
Meski menyebut adanya daftar individu yang dianggap bertanggung jawab atas kematian ayahnya, Mojtaba Khamenei tidak mengungkap identitas mereka secara terbuka.
Hingga kini juga belum ada pernyataan resmi yang menyebut daftar yang diterbitkan Hamshahri merupakan sikap resmi pemerintah Iran.
Infografis yang dipublikasikan Hamshahri menampilkan foto Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di bagian paling atas dengan ilustrasi bidikan penembak jitu di dahi mereka.
Di bawah keduanya terdapat sebelas tokoh lain yang digambarkan mengenakan seragam tahanan berwarna oranye.
Di antaranya PM Inggris Keir Starmer, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, PM Italia Giorgia Meloni, hingga Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Versi daring Hamshahri juga memuat pernyataan Mojtaba Khamenei bersamaan dengan infografis tersebut.
Namun, menurut laporan AFP, daftar itu tidak dimuat dalam edisi cetak surat kabar tersebut.
Infografis Hamshahri memuat nama 13 pemimpin politik dan militer dari AS, Israel, dan Eropa yang disebut sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kematian Ayatullah Ali Khamenei. Mereka adalah:
Selain pejabat tinggi AS dan Israel, infografis tersebut juga mencantumkan para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia.
Selama perang berlangsung, Iran berulang kali menuduh sejumlah pemerintah Eropa tidak mengutuk serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap wilayahnya.
Teheran juga menuding beberapa negara Eropa telah memberikan dukungan tidak langsung dengan mengizinkan pesawat militer AS menggunakan wilayah udara mereka selama operasi militer berlangsung.
Beberapa media AS pekan ini melaporkan bahwa Iran diduga telah merencanakan upaya pembunuhan terhadap Donald Trump.
Menurut laporan CNN yang mengutip sejumlah sumber intelijen, Washington telah memantau informasi mengenai kemungkinan rencana pembunuhan terhadap Trump selama beberapa waktu.
Namun, peringatan terbaru dari Israel disebut berkaitan dengan sebuah rencana yang lebih spesifik.
Israel dikabarkan membagikan informasi intelijen kepada AS mengenai dugaan skema pembunuhan tersebut.
Laporan itu juga menyebut informasi tersebut menjadi salah satu alasan Trump memutuskan berganti pesawat dan menggunakan pesawat yang lebih tua saat meninggalkan KTT NATO di Turki.
Menanggapi laporan tersebut, Trump mengatakan dirinya mengetahui namanya masuk dalam berbagai daftar target Iran.
“Mereka ingin menyingkirkan pemimpin AS, yaitu saya. Saya ada di daftar mereka. Saya melihat pagi ini nama saya ada di setiap daftar mereka,” ungkap Trump kepada wartawan di dalam Air Force One.
Publikasi daftar balas dendam itu muncul ketika konflik antara Iran dan AS terus meningkat, terutama di kawasan strategis Selat Hormuz.
Eskalasi terbaru bermula setelah Iran menyerang tiga kapal kontainer di Selat Hormuz hingga terbakar dan memaksa seluruh awak meninggalkan kapal.
Iran mengeklaim kapal tersebut mengabaikan peringatan mengenai jalur pelayaran yang telah ditentukan.
Sebagai balasan, AS melancarkan serangkaian serangan terhadap sekitar 140 target militer Iran.
Sasaran operasi meliputi sistem pertahanan udara, instalasi radar, fasilitas rudal dan drone, depot amunisi, aset Garda Revolusi, jaringan komunikasi, hingga fasilitas pengawasan pantai.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke wilayah Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Oman, yaitu negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat atau berada di sekitar zona konflik.
Sirene peringatan rudal dilaporkan berbunyi di Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Sementara media pemerintah Iran juga melaporkan terjadinya ledakan baru di sejumlah wilayah negaranya.
Selat Hormuz masih menjadi titik utama perselisihan. Iran menegaskan ingin mengendalikan lalu lintas pelayaran di jalur tersebut, sedangkan militer AS berjanji menjaga kebebasan navigasi bagi kapal-kapal komersial.
Iran bahkan menyatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga campur tangan AS di kawasan berakhir.
Meningkatnya konflik memicu reaksi dari sejumlah negara Teluk. Qatar menyebut serangan terhadap wilayahnya dan negara-negara tetangga sebagai eskalasi berbahaya.
Sementara media Pemerintah Oman menyatakan pemerintahnya mengutuk keras serangan tersebut.
Ketua Parlemen Iran yang juga menjadi salah satu negosiator utama, Mohammad Bagher Qalibaf, melalui akun X menulis era kesepakatan sepihak telah berakhir.
“Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah memperingatkan: tepati janji Anda atau bayar harganya. Kenyataan kini datang mengetuk,” tegas Qalibaf.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres memperingatkan kembalinya perang berskala penuh antara Iran dan AS dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat buruk bagi kawasan Timur Tengah maupun perekonomian global.
Sementara itu, pernyataan terbaru Mojtaba Khamenei menjadi sinyal paling kuat sejauh ini kepemimpinan baru Iran bertekad mengejar pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas tewasnya Ayatullah Ali Khamenei, meski hingga kini Pemerintah Iran belum mengonfirmasi bahwa daftar yang diterbitkan Hamshahri merupakan kebijakan resmi negara.
Sumber: BeritaSatu