Prabowo Beri Ultimatum Keras: Jika Merasa Indonesia Suram, Silakan Angkat Kaki dari Negara Ini!

DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan sikap tegasnya yang tak kenal kompromi terhadap pihak-pihak yang kerap meragukan masa depan bangsa.

Dalam pidatonya di acara Hari Koperasi, Minggu (12/7/2026), Prabowo memberikan pesan menohok bagi para “pengeluh” yang hobi memandang sebelah mata potensi negara sendiri.

Sindiran Pedas buat Para “Penyebar Pesimisme”

Bagi Prabowo, tidak ada ruang bagi mereka yang hanya bisa menabur narasi kegelapan tentang Indonesia.

Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, ia bahkan mempersilahkan mereka yang tidak percaya pada kebangkitan bangsa untuk tidak perlu ikut campur dalam agenda pembangunan nasional.

“Yang ragu-ragu, silakan duduk di rumah saja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang,” ujar Prabowo dengan nada sindiran yang cukup menohok.

Pernyataan ini seolah menjadi jawaban bagi kalangan yang selama ini gemar melontarkan kritik destruktif tanpa memberikan solusi nyata.

Alih-alih sibuk dengan narasi pesimisme yang tidak produktif, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sudah memiliki modal kekayaan dan potensi besar untuk melesat maju.

Fokus pada Gotong Royong, Bukan Saling Caci

Di tengah dinamika yang ada, Presiden menekankan bahwa energi bangsa seharusnya digunakan untuk hal-hal yang konstruktif.

Ia mengingatkan bahwa budaya saling mencaci, dengki, dan curiga yang belakangan ini masih kerap berseliweran di media sosial hanya akan menghambat kemajuan.

“Kita ini satu keluarga, apa pun latar belakang kita, apa pun suku kita, apa pun partai kita,” tegasnya.

Prabowo juga menitipkan pesan kepada masyarakat untuk saling menguatkan.

Bagi mereka yang kuat, ia meminta agar membantu yang lemah.

Sebaliknya, bagi yang lemah, ia meminta agar bersedia diajak kerja sama dengan baik.

Baginya, pertikaian hanyalah buang-buang waktu yang justru menjauhkan Indonesia dari target kebangkitan nasional.

👇👇

Peringatan bagi Para “Pengeluh”

Narasi yang disampaikan Prabowo ini dinilai sebagai “peringatan keras” agar publik segera berhenti menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk terus berseteru.

Di saat pemerintah sedang berjibaku mengamankan aset strategis negara dan memperkuat kemandirian ekonomi, Presiden tampaknya sudah kehilangan kesabaran dengan mereka yang lebih memilih sibuk menyebar rasa curiga dan dendam politik.

Kini, bola panas kembali ke tangan masyarakat: apakah ingin tetap terjebak dalam budaya caci maki yang stagnan, atau memilih untuk benar-benar berkontribusi dalam perjuangan membangun Indonesia ke depan?

Pilihan ada di tangan masing-masing, namun Presiden sudah memberikan “pintu keluar” bagi siapa saja yang merasa Indonesia tidak lagi layak diperjuangkan.

Artikel terkait lainnya