Jejak Digital Bicara! Dulu Sesumbar Rupiah Menguat Rp15.000, Kini Purbaya ‘Berkelit’ Saat Rupiah Anjlok ke Rp18.000

DEMOCRAZY.ID – Pasar keuangan nasional kembali diguncang oleh sentimen negatif setelah nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali terperosok hingga sempat menyentuh level psikologis kritis di angka Rp18.000 per dolar AS.

Pergerakan tajam ini memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku pasar dan masyarakat, mengingat level tersebut menjadi salah satu titik terlemah yang dicatatkan mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir.

Sikap Defensif Menteri Keuangan

Di tengah sorotan tajam terhadap anjloknya nilai tukar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampak mengambil langkah defensif.

Saat dimintai tanggapan mengenai fenomena pelemahan Rupiah yang kian akut, Purbaya justru memilih untuk melimpahkan otoritas penjelasan kepada Bank Indonesia (BI).

“Tanyakan ke bank sentral kitalah. Saya pikir bank sentral ngerti,” ujar Purbaya singkat saat ditemui pewarta di kawasan olahraga Senayan, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Purbaya enggan memberikan elaborasi lebih jauh mengenai akar permasalahan yang memicu pelemahan mata uang ke level Rp18.000, pun ia tidak membeberkan langkah strategis apa yang akan diambil oleh pemerintah untuk meredam volatilitas yang terjadi.

Jawaban diplomatis yang cenderung tertutup ini seolah kontras dengan situasi pasar yang membutuhkan sinyal kepastian dari pemangku kebijakan fiskal.

Antara Optimisme dan Realitas Pahit

Publik kini menoleh ke belakang, menagih janji dan pernyataan kontroversial sang Menteri Keuangan yang sempat memicu perdebatan sengit pada Mei lalu.

Kala itu, Purbaya tampil dengan kepercayaan diri tinggi, bahkan mengeluarkan seruan terbuka kepada para pelaku pasar valuta asing (valas).

Dalam acara Jogja Financial Festival pada Jumat (22/5/2026), Purbaya dengan optimis memproyeksikan penguatan Rupiah ke level Rp15.000 per dolar AS pada Juni 2026.

Ia bahkan tidak segan-segan memberikan instruksi kepada pasar untuk segera melepas kepemilikan dolar AS.

“Kalau saya bilang pemain valas, cepat-cepat jual lah. Kita akan dorong rupiah ke arah Rp15 ribu,” ucapnya kala itu dengan penuh keyakinan.

Namun, realita yang tersaji di pasar justru berbalik arah.

Alih-alih menguat ke level yang dijanjikan, Rupiah justru semakin terjepit di tekanan jual yang kuat hingga menyentuh level Rp18.000.

Inkonsistensi antara proyeksi pemerintah dan kenyataan di lapangan ini kini menimbulkan pertanyaan besar mengenai efektivitas kebijakan serta akurasi analisis ekonomi yang diambil oleh kementerian terkait.

Kini, para pelaku usaha dan investor tengah menanti langkah konkret dari otoritas terkait.

Apakah Rupiah akan kembali menemukan titik keseimbangan baru, ataukah janji pemulihan ekonomi hanyalah sekadar retorika di tengah turbulensi global?

Artikel terkait lainnya