Kejayaan Runtuh! Dari 7 Bisnis Kini Sisa 1, Gurita Bisnis Udang Kaesang di Ambang Kebangkrutan

DEMOCRAZY.ID – Masuknya Kaesang Pangarep, putra bungsu eks Presiden Jokowi ke PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP) pada 2021, justru membuat perusahaan di ambang kehancuran.

Banyak unit bisnis yang ditutup dan keuangan perusahaan seketika ambruk karena didera utang Rp2,8 triliun dari sejumlah bank.

Dari penelusuran jejak digital, PMMP adalah perusahaan udang olahan yang export-oriented ini, semula memiliki 7 unit usaha.

Yakni, 5 unit bisnis berada di Situbondo, Jawa Timur (Jatim) dan 2 lainnya di Tarakan, Kalimantan Utara (Kalut).

Dengan 26 cold storage, kapasitas terpasangnya masing-masing 25.100 ton dan 46.000 ton per tahun.

Baik PMMP maupun anak usahanya, sempat menjadi salah satu eksportir udang terbesar dari Indonesia.

Volume ekspornya mencapai lebih dari 15.000 ton.

Udang yang diekspor berasal dari jenis Vannamei (Litopenaeus Vannamei) dan Windu atau Black Tiger (Penaeus Monodon).

Soal pangsa pasar, tak perlu khawatir. Produk udang dari PMMP cukup diminati pasar Amerika Serikat, Jepang dan negara lain.

Sebanyak 70-75 persen dari total produksi PMMP dikirim ke AS, sedangkan Jepang kebagian 20-25 persen.

Sisanya yang kurang dari 5 persen dilempar ke Denmark, Singapura dan Hong Kong.

Kini, semuanya tinggal kenangan atau sejarah. Dari tahun ke tahun, perusahaan milik suami Erina Sofia Gudono ini, selalu mengalami kerugian.

Per 30 September 2024, PMMP membukukan kerugian US$15,26 juta.

Kemudian meroket lebih dari 200 persen menjadi US$38,02 juta per 30 September 2025. Alhasil, akumulasi defisit meningkat menjadi US$117,24 juta.

Alhasil, unit bisnis PMMP pun terus menyusut.

Dari 7 unit kini tersisa hanya 1 unit di Situbondo. Soal kesehatan keuangannya, jangan ditanya. Saking seriusnya perusahaan ini sakit.

Potret neraca keuangan bisnis Kaesang yang kini menjabat Ketua Umum (Ketum) Partai Solidaritas Indonesia (PSI), bikin miris.

Di mana, total liabilitas PMMP mencapai US$257,13 juta. Jauh di atas total asetnya US$220,73 juta.

Artinya, perusahaan mengalami defisiensi modal (ekuitas negatif) sekitar US$36,40 juta.

Dengan kata lain: utang PMMP lebih gede ketimbang asetnya.

Likuiditas perusahaan pun berada di dalam tekanan hebat.

Saldo kas dan bank di akhir September 2025, hanya US$188.703, sementara utang di bank dalam jangka pendek, mencapai US$193,35 juta. Alias nombok.

Utang PMMP di Bank Tembus Rp2,8 Triliun

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap keuangan PMMP yang sudah berada di ujung kebangkrutan. Lantaran utang bank yang menggunung cukup tinggi.

Misalnya, di Bank Permata, outstanding utang PMMP nyaris Rp1 triliun. Tepatnya US$53,12 juta, atau setara Rp929,6 miliar (kurs Rp17.500/US$).

Itu belum termasuk fasilitas tambahan Rp5,49 miliar.

Di BCA yang dikenal sebagai bank beraset jumbo itu, utang PMMP tembus US$40,29 juta. Atau setara Rp705 miliar.

Sedangkan utang ke Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI), mencapai US$30,71 juta, atau sekitar Rp537,4 miliar.

Masih ada lagi utang perusahaan Kaesang ke PT Bank SMBC Indonesia Tbk, sebesar US$22,80 juta yang setara Rp400 miliar.

Utang ke Bank Maspion pun ada. Nilainya mencapai US$7,21 juta.

Terakhir utang di Bank Resona Perdania, sebesar US$5,99 juta.

Totalnya sekitar Rp2,8 triliun. Itupun belum termasuk bunganya.

Saat ini, PMMP sedang mengajukan restrukturisasi.

“Saldo tersebut di luar utang bunga,” tulis Manajemen PMMP, dikutip Selasa (7/7/2026).

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya