

DEMOCRAZY.ID – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, menyoroti kondisi ekonomi dan demokrasi Indonesia yang disebutnya semakin memburuk.
Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah forum dialog bersama diaspora dan mahasiswa Indonesia di kawasan DeKalb, Illinois, Amerika Serikat, yang videonya diunggah di kanal YouTube pribadinya, Sabtu (4/7/2026).
“Indonesia hari ini masih intact. Tapi situasi ekonomi kita, harus saya katakan, sangat menantang. Extremely challenging,” ujar Anies membuka pemaparannya.
Ia menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hanyalah gejala, bukan akar masalah.
“Depresiasi rupiah itu hanya simptom. Anda tidak bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan mengobati simtomnya,” katanya.
Menurut Anies, krisis kali ini berbeda dari krisis 1997–1998.
Saat itu, sektor swasta, terutama perbankan, yang memicu krisis akibat minim pengawasan, sementara fiskal pemerintah justru surplus dan dikelola secara prudent.
“Dulu itu private sector yang menyebabkan krisis, bukan sektor publik,” ujarnya.
Sebaliknya, kini justru utang pemerintah yang menjadi tantangan terbesar.
“Sekarang justru utang pemerintah yang jadi salah satu tantangan terbesar kita,” ucapnya.
Anies menekankan masalah struktural ini bukan diciptakan oleh pemerintahan Prabowo Subianto.
“Ini bukan masalah yang diciptakan oleh pemerintahan Prabowo. Dia mewarisi masalah ini,” katanya.
Namun, ia menilai kebijakan pemerintahan Prabowo dalam satu setengah tahun terakhir justru memperburuk situasi karena alokasi anggaran dinilai tidak mendukung pertumbuhan ekonomi, ia menyebut program makan gratis, koperasi tingkat desa, hingga pengadaan alat pertahanan strategis sebagai contoh belanja yang menambah beban.
Selain ekonomi, Anies juga menyoroti pelemahan institusi demokrasi sejak periode kedua pemerintahan Joko Widodo.
“Pelemahan institusi demokrasi sedang terjadi,” ujarnya, merujuk pada revisi aturan KPK, sentralisasi hubungan pusat-daerah, serta reformasi penegakan hukum yang menurutnya justru melemahkan lembaga-lembaga terkait.
Meski demikian, Anies menyatakan tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia. Ia menyebut tiga hal yang menjadi indikator harapannya: “Kebebasan berekspresi ada, suara oposisi ada, dan tiga cabang pemerintahan berfungsi.”
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia pernah menghadapi ancaman disintegrasi wilayah pada 1999–2000, namun berhasil melewatinya. “Indonesia sering mengecewakan para pesimis,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Anies turut mendorong mahasiswa dan diaspora Indonesia di luar negeri untuk memperluas jejaring dengan komunitas internasional.
“Jaga nama baik, itu peran yang kalian punya,” pesannya kepada para mahasiswa dan diaspora yang hadir.
Sumber: JakartaSatu