DEMOCRAZY.ID – Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, kembali melontarkan pernyataan terkait polemik dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Jokowi.
Kali ini, Amien meminta pemerintah mengawasi pergerakan Jokowi menjelang proses persidangan perkara yang berkaitan dengan laporan terhadap Roy Suryo Cs.
Pernyataan tersebut disampaikan Amien dengan harapan Jokowi hadir apabila dipanggil dalam proses persidangan.
Amien Rais meminta Presiden Prabowo Subianto mengawasi Jokowi agar tidak meninggalkan Indonesia.
“Nah saya minta pemerintahan Pak Prabowo mengawasi terus gerak-gerik Jokowi,” ujar Amien, Jumat (26/6/2026).
Ia kemudian menyampaikan pandangannya terkait kemungkinan Jokowi berada di luar negeri.
“Jadi jangan sampai lari ke RRC (Republik Rakyat China) meniru tokoh-tokoh PKI dulu seperti Yusuf Adjitorop, Sobron Aidit, Tio Kong Boen, Sardjono dan lain-lain yang melarikan diri ke negara Xi Jinping,” tukasnya.
Amien juga menyampaikan pendapat pribadinya mengenai hubungan Jokowi dengan Tiongkok.
“Negara Xi Jinping ini mungkin seolah-olah paman angkatnya Jokowi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Amien menegaskan harapannya agar Jokowi hadir dalam persidangan apabila diperlukan dalam proses hukum yang sedang berjalan.
“Maka hal yang sangat ditakuti Jokowi, manusia abnormal dari Solo itu, dia harus hadir ke pengadilan,” tandasnya.
Sebelumnya, Praktisi hukum, Ferdinand Hutahaean, menyebut bahwa keputusan tersebut memunculkan sejumlah pertanyaan publik.
Terutama terkait konsistensi penegakan hukum dalam perkara yang sejak awal menjadi perhatian luas masyarakat.
Ferdinand mengaku baru menerima informasi mengenai tidak ditahannya Roy Suryo dan Dokter Tifa oleh Kejari Jakarta Selatan.
“Tadi saya dapat informasi memang Roy dan Tifa tidak ditahan Kejari Jakarta Selatan,” ujar Ferdinand, Senin (22/6/2026).
Di satu sisi, ia menganggap keputusan itu dapat dipandang positif karena memberikan ruang bagi terpenuhinya rasa keadilan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam perkara tersebut.
“Ada dua sisi, pertama memang ada bagusnya mereka tidak ditahan supaya rasa keadilan bagi semua pihak bisa terpenuhi,” ucapnya.
Namun di sisi lain, Ferdinand menilai keputusan tersebut justru dapat memunculkan persepsi bahwa proses hukum yang berjalan tidak sepenuhnya berlandaskan aspek penegakan hukum.
“Tetapi dengan tidak ditahannya mereka, kesannya bahwa perkara ini seperti mainan,” Ferdinand menuturkan.
“Jadi terlalu tinggi nilai politisnya daripada nilai penegakan hukumnya,” tambahnya.
Politikus PDIP ini berharap seluruh pihak yang terlibat dalam perkara tersebut dapat menunjukkan keseriusan dalam menyelesaikan kasus yang telah menjadi perdebatan publik selama beberapa waktu terakhir.
Baginya, penyelesaian perkara harus dilakukan secara transparan dan profesional agar tidak menimbulkan spekulasi yang semakin luas di tengah masyarakat.
“Kita sih berharap semua serius dalam menyelesaikan perkara ini, termasuk Jokowi, penyidik, maupun penuntut,” timpalnya.
Ia menilai muncul kesan bahwa para pihak yang terlibat belum sepenuhnya yakin terhadap substansi perkara yang sedang diproses.
“Jadi kesannya bahwa semua pihak tidak yakin ijazah itu asli,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Ferdinand membandingkan perkara tersebut dengan penanganan kasus lain yang memiliki ancaman hukuman di atas lima tahun.
Kata dia, apabila keyakinan terhadap alat bukti dan substansi perkara benar-benar kuat, maka proses hukum biasanya berjalan sebagaimana praktik yang selama ini diterapkan aparat penegak hukum.
“Kalau yakin itu asli, saya pikir proses hukumnya akan berjalan seperti layaknya, seperti selama ini kasus apa perkara yang ancaman hukumannya di atas lima tahun yah ditahan. Ini kan tidak,” jelasnya.
Karena itu, keputusan tidak melakukan penahanan terhadap Roy Suryo dan Dokter Tifa dinilai membuka ruang munculnya pertanyaan di tengah masyarakat.
“Akhirnya memunculkan tanda tanya di kita,” lanjut Ferdinand.
Tidak berhenti di situ, Ferdinand mengaku keputusan tersebut justru membuat dirinya semakin mempertanyakan polemik yang selama ini berkembang terkait ijazah Jokowi.
Ia menyebut keraguannya muncul karena melihat dinamika penanganan perkara yang berlangsung belakangan ini.
“Saya pribadi semakin ragu soal kebenaran ijazah Jokowi itu loh,” kuncinya.
Sumber: Fajar