DEMOCRAZY.ID – Desakan agar Presiden Prabowo Subianto mencopot Budiman Sudjatmiko dari Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan atau BP Taskin, mengemuka setelah insiden dirinya didebat mahasiswa.
Bahkan, politikus Andi Harianto Sinulingga secara terbuka meminta Presiden Prabowo untuk segera memberhentikan Budiman dari jabatannya.
Permintaan ini muncul setelah video diskusi publik di Semarang menjadi viral di media sosial.
Andi Sinulingga menilai sikap dan pernyataan Budiman Sudjatmiko dalam forum tersebut, tidak mencerminkan integritas seorang pejabat publik dan dianggap merendahkan martabat warga negara, khususnya kalangan mahasiswa.
Melalui unggahan di media sosial X, Andi Sinulingga menyampaikan kegelisahannya.
Ia merasa perilaku Budiman saat berhadapan dengan aktivis mahasiswa, telah melampaui batas kewajaran seorang pelayan publik.
“Mohon kepada Presiden RI, sebagai warga negara yang kedudukannya sangat tinggi dalam NKRI, saya memohon untuk memberhentikan budiman sujadmiko dari jabatannya,” tulis Andi Sinulingga, dikutip hari Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, Budiman sudah menghina seorang mahasiswa yang berstatus warga negara.
“Budiman telah menghina, telah merendahkan seorang warga negara. Seorang mahasiswa muda yang bisa jadi, masa depannya akan jauh lebih baik dari seorang Budiman Sujadmiko itu sendiri,” tulis Andi Sinulingga.
MOHON KEPADA PRESIDEN RI
sebagai warga negara yg kedudukannya sangat tinggi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, saya memohon sama Presiden Indonesia untuk memberhentikan budiman sujadmiko dari jabatannya karena telah menghina, telah merendahkan seorang warga negara,… https://t.co/qxOgbBfVzi
— Andi Sinulingga (@AndiSinulingga) June 15, 2026
Orang seperti #BudimanSujadmiko itu jamak dinegeri ini, setelah nyaman dengan kekuasaan, lupa diri, lalu dia benci wajahnya sendiri. Menjengkelkan memang, tapi yg seperti itu dah terlalu lama jadi beban bangsa ini.
Saya ambil ini dari Cahyaningnalarhttps://t.co/vcJirC7dC9 pic.twitter.com/L5M8vAbMjg
— Andi Sinulingga (@AndiSinulingga) June 16, 2026
Andi tidak hanya menyoroti aspek etika, tetapi juga menyinggung perihal akuntabilitas pejabat negara yang dibiayai oleh rakyat.
Menurutnya, keberadaan Budiman di dalam struktur pemerintahan saat in justru kontraproduktif bagi visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam memimpin Indonesia.
Ia menegaskan, model pejabat yang arogan terhadap kritik anak muda tidak akan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa.
Sebaliknya, hal ini dianggap sebagai beban moral dan finansial bagi struktur kenegaraan.
“Justru sebaliknya menjadi beban negara, karena fasilitasnya di tanggung oleh uang pajak warga negara, termasuk uang pajak dari anak muda itu. Dalam situasi sulit seperti ini, model pejabat seperti Budiman itu juga hanya akan menjadi beban bagi citra pemerintahan yang bapak pimpin,” ujar Andi Sinulingga.
Insiden yang memicu kemarahan Andi Sinulingga ini terjadi dalam forum diskusi bertajuk “Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini” yang digelar di Semarang pada Jumat (12/6/2026).
Forum yang awalnya diharapkan menjadi ruang dialog akademis tersebut berubah menjadi arena debat panas antara Budiman Sudjatmiko dengan perwakilan mahasiswa.
Ketegangan bermula saat Ketua HMI Komisariat FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Muhammad Rafli Susanto, melontarkan kritik keras terhadap narasi idealisme yang dipaparkan oleh Budiman.
Rafli menilai paparan mantan aktivis 98 tersebut tidak menyentuh persoalan krusial yang dihadapi rakyat di tingkat akar rumput, seperti sengketa agraria di Pundenrejo.
“Bapak jangan bicara soal negara ideal kalau tidak pernah memikirkan ide maupun solusi dari akar masalah rakyat. Misalnya persoalan petani di Pundenrejo, pikirkan hal itu. Jangan cacat logika terus,” kata Rafli mengkritik di dalam forum diskusi.
Merespons kritik tersebut, Budiman meminta Rafli untuk mengelaborasi lebih dalam argumennya agar diskusi tetap berjalan pada jalur substantif.
Namun, Rafli menolak permintaan tersebut dengan alasan dirinya harus segera meninggalkan lokasi untuk bergabung dalam aksi unjuk rasa yang tengah berlangsung di kota Semarang.
Pada titik inilah, situasi mencapai puncak ketegangan ketika Rafli menantang Budiman untuk melanjutkan diskusi di luar forum resmi.
Budiman yang merasa forumnya tidak dihormati, melontarkan kalimat yang kemudian dianggap sebagai penghinaan oleh Andi Sinulingga dan sebagian publik di media sosial.
“Orang-orang tertarik argumen Anda. Anda pernah dipenjara tiga bulan, tapi bukan berarti lebih hebat serta berhak tak menghormati forum ini. Anda bukan siapa-siapa, silakan saja pergi,” kata Budiman.
Menanggapi gelombang kritik yang menyudutkan dirinya, Budiman Sudjatmiko segera memberikan klarifikasi.
Ia menepis narasi yang menyebutkan bahwa dirinya telah mengusir mahasiswa tersebut secara sepihak tanpa alasan yang jelas.
Menurut versinya, ia hanya berusaha menegakkan aturan main dalam sebuah forum diskusi bersama perwakilan BEM Undip dan BEM Universitas Brawijaya (Unbraw).
Budiman berkilah, tindakannya adalah bentuk teguran keras atas sikap mahasiswa yang dianggapnya tidak menghargai jalannya diskusi kolektif.
“Bagi saya, diskusi yang ingin diajukan tak lagi soal substantif. Saya minta dia tinggalkan forum. Tapi, karena hak saya merespons pertanyaannya dalam forum tak ditanggai, saya tegur keras. Dia malah minta saya keluar dari forum dan berdiskusi berdua di luar,” kata dia.
Sumber: Suara