Perang Argumen! Donald Trump dan Israel Saling ‘Serang’ Soal Jasa Masa Lalu, Hubungan Retak?

DEMOCRAZY.ID – Duta besar Israel untuk Amerika Serikat (AS) Mike Huckabee saling sindir panas dengan Presiden AS Donald Trump.

Kedua belah pihak yang menjadi sekutu dalam perang melawan Iran itu saling ungkit jasa masa lalu antara siapa yang lebih berpengaruh terhadap negara lainnya.

Awalnya Donald Trump menyinggung soal jasa perlindungan AS terhadap bangsa Yahudi.

Menurut Trump, tanpa dirinya, Israel sudah musnah karena gempuran nuklir Iran.

Pernyataan Trump ini disampaikan saat keputusan perdamaiannya dengan Iran telah disepakati dan mendapat kecaman dari pejabat Israel pada Selasa (16/6/2026).

Setelah pernyataan Trump tersebut, Huckabee menyindir soal jasa bangsa Yahudi di AS.

Dimuat The Jarusalem Post, Huckabee mengatakan Amerika Serikat tidak akan ada jika bukan karena Israel.

Hal itu disampaikannya selama Konferensi Internasional tentang Warisan Israel di Yudea dan Samaria pada hari Selasa.

Huckabee juga menyatakan bahwa tugasnya adalah mewakili pentingnya Israel bagi AS.

Menurutnya AS berutang kepada bangsa Yahudi.

“Itu adalah warisan Anda, tanpa diragukan lagi,” katanya, “tetapi itu juga warisan Amerika Serikat. Tanpa Israel, tanpa fondasi Yahudi, tidak akan ada Amerika. Kita berutang keberadaan kita pada apa yang terjadi di tanah ini.”

Diketahui sejumlah warga Yahudi di AS memiliki cukup pengaruh baik di bidang ekonomi maupun pertahanan AS.

Termasuk senjata nuklir yang ditemukan AS merupakan karya fisikawan J. Robert Oppenheimer yang merupakan keturunan Yahudi.

Kemudian Oppenheimer pun kini dikenal sebagai Bapak Bom Atom.

Ketegangan AS dan Israel ini bermula dari sindiran Trump terhadap Israel.

Trump dalam sebuah wawancara Selasa (16/6/2026) di sela KTT G7 menjelaskan bahwa dirinya yang bisa menyelamatkan Israel dari kehancuran.

Sebab sebelumnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pernah memohon ke mantan Presiden AS Barack Obama untuk tidak melanjutkan kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.

Namun Israel menuduh Obama berpihak pada Teheran daripada Israel.

Oleh karena itu Trump membela perjanjian baru dengan Iran dan membandingkannya dengan kesepakatan yang dinegosiasikan di bawah pemerintahan Obama.

“Kesepakatan ini adalah tembok menuju senjata nuklir. Kesepakatannya (Barack Obama) adalah jalan menuju senjata nuklir,” kata Trump.

“Bibi datang ke Washington dan memohon, dia memohon kepada Obama untuk tidak membuat kesepakatan itu. Dan Obama berada di pihak Iran, bukan Israel. Dan dia membuat kesepakatan itu. Saya mengakhiri kesepakatan itu.”

Trump juga menegaskan kembali dukungannya untuk Israel sambil menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memainkan peran penting dalam memastikan keamanan negara tersebut.

Menurutnya tanpa AS, Israel sudah porak poranda.

“Tanpa saya atau AS, tidak akan ada Israel, mereka akan hancur sejak lama” ungkit Trump.

Diketahui Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif Senin (15/6/2026) di X miliknya mengumumkan kesepakatan damai Iran dan AS.

Sharif mengatakan AS dan Iran sepakat berdamai setelah pembicaraan intensif berbulan-bulan.

“Dengan senang hati kami mengumumkan bahwa Kesepakatan Perdamaian antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah TERCAPAI,” tulis Sharif.

Kata Sharif, kedua belah pihak telah menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.

Upacara penandatanganan resmi perdamaian AS dan Iran akan diadakan pada hari Jumat, 19 Juni di Swiss.

Namun keputusan AS ini membuat banyak pejabat Yahudi dan melakukan serangan narasi kepada Donald Trump.

AS sendiri memulai perang dengan Iran atas bujukan Israel dengan dalih rencana senjata nuklir Iran.

Padahal Iran berkali-kali memastikan pengembangan nuklir yang mereka lakukan murni untuk energi dan pendidikan bukan senjata.

Namun hal itu tidak membuat Donald Trump percaya hingga terjadi serangan 28 Februari 2026 ke Teheran dan berbagai kota di Iran.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya