Tumbal Politik: Alasan Tragis ‘Messi Iran’ Dicoret dari Piala Dunia 2026

DEMOCRAZY.ID – Tim Nasional Iran akhirnya menginjakkan kaki di Amerika Utara untuk berlaga di Piala Dunia 2026.

Namun, ada satu pemandangan ganjil yang langsung memicu tanda tanya besar: ketidakhadiran sang megabintang sekaligus penyerang terbaik mereka, Sardar Azmoun.

Banyak yang menduga pemain berjuluk “Messi Iran” tersebut absen akibat cedera parah atau masalah visa Amerika Serikat. Namun, fakta yang terungkap jauh lebih gelap.

Absennya pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang sejarah Timnas Iran ini ternyata berakar dari kemelut politik dan tudingan pengkhianatan dari otoritas negaranya sendiri.

Bermula dari Foto Bersama Penguasa Dubai

Petaka bagi Azmoun bermula pada bulan Januari lalu.

Striker berusia 31 tahun yang kini membela klub Shabab Al Ahli di Uni Emirat Arab (UEA) itu mengunggah sebuah foto di media sosial saat dirinya berjabat tangan dengan penguasa Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum.

Momen yang mungkin dianggap biasa bagi pesepak bola profesional tersebut justru memicu murka Garda Revolusi Iran (IRGC).

Dalam sebuah unggahan di Telegram, IRGC secara terbuka melabeli tindakan Azmoun sebagai “kerja sama dengan musuh-musuh Iran”.

Kemarahan otoritas ini tak lepas dari memanasnya tensi geopolitik menyusul Operasi Epic Fury, di mana Iran dan UEA saling serang.

IRGC juga mengecam Azmoun karena dianggap bungkam saat tanah airnya dibombardir oleh pihak yang mereka sebut sebagai “rezim Amerika dan Zionis”.

Bantah Klaim Cedera, Azmoun Tegaskan Kesetiaan

Bulan lalu, saat pelatih Amir Ghalenoei mengumumkan skuad sementara Piala Dunia, nama Azmoun sudah menghilang.

Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, kala itu merilis narasi bahwa sang pemain ditinggal karena mengalami cedera.

Namun, Azmoun tak tinggal diam dan membantah keras klaim palsu tersebut.

Melalui media sosial dan wawancara dengan media olahraga Varzesh3, mantan penyerang AS Roma dan Bayer Leverkusen ini menegaskan bahwa dirinya sangat sehat dan pencoretannya murni karena alasan emosional dari pihak luar.

“Menurut saya, semua orang harus tahu: Saya orang Iran, darah saya dari Iran,” tegas Azmoun. “Bahkan jika klub memberi saya libur satu hari, saya akan pulang ke Iran… Itulah mengapa saya sangat marah.”

“Saya selalu bermain untuk tim nasional dengan bangga… Saya mencintai sepak bola, dan saya mencintai orang-orang baik dan pantas di negara saya, Iran,” tambahnya dengan getir.

Azmoun sejatinya memang punya riwayat vokal dalam menyuarakan isu kemanusiaan.

Pada 2022, ia dengan berani mempertaruhkan kariernya di timnas demi mengecam kematian Mahsa Amini dan mendukung gerakan pembebasan perempuan Iran.

Digantikan Pemain Antah Berantah

Sebagai gantinya, pelatih Amir Ghalenoei justru memanggil Dennis Eckert, yang kini menggunakan nama paspor Iran, Dennis Dargahi.

Keputusan ini memicu keheranan publik, mengingat Dargahi adalah pemain kelahiran Jerman berusia 29 tahun yang belum pernah mencatatkan satu pun caps (penampilan) untuk Timnas Iran, dan musim lalu hanya mencetak lima gol di Liga Belgia.

Saat didesak jurnalis mengenai alasan teknis membuang Azmoun, Ghalenoei hanya memberikan jawaban klise yang terkesan mengelak.

“Sardar adalah pemain luar biasa, ia telah melakukan banyak hal untuk kami. Ia tidak bersama kami, kami harap ia ada di sini, tetapi inilah sepak bola. Saya beri contoh: Neymar, ada kalanya dia tidak bermain di beberapa pertandingan,” kilah sang pelatih.

Mimpi Sardar Azmoun untuk melakoni “tarian terakhirnya” di Piala Dunia 2026 kini harus terkubur.

Pintu bus timnas telah tertutup, dan pesawat ke Amerika telah lepas landas meninggalkannya, menjadikannya tumbal tragis dari campur tangan politik di lapangan hijau.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya