

DEMOCRAZY.ID – Hubungan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu dikabarkan mulai renggang.
Keduanya disebut terlibat percakapan telepon yang cukup tegang terkait rencana serangan lanjutan ke Iran.
Di tengah isu retaknya hubungan tersebut, Trump akhirnya angkat bicara.
Saat ditanyai awak media terkait dengan pembicaraannya dengan Netanyahu, pria tersebut menegaskan bahwa Netanyahu akan mengikuti apapun yang diinginkannya.
“Dia pria yang sangat baik, dia akan melakukan apa pun yang saya ingin dia lakukan. Dan dia orang hebat… Jangan lupa, dia adalah perdana menteri di masa perang,” kata Trump dikutip dari laman Times of Israel, Jumat 22 Mei 2026.
Selam aini, Netanyahu memang kerap menonjolkan kedekatannya dengan Trump dan menganggap hubungan itu sebagai alasan di balik banyak keputusan pro-Israel yang diambil presiden AS tersebut.
Namun di sisi lain, hal itu juga memunculkan kritik bahwa Netanyahu dianggap sulit menolak keinginan Trump karena terlalu bergantung padanya.
Saat ditanya oleh The Times of Israel pada Maret lalu apakah keputusan mengakhiri perang dengan Iran akan sepenuhnya ditentukan dirinya atau juga melibatkan Netanyahu, Trump mengatakan keputusan itu akan bersifat bersama.
Namun ketika gencatan senjata diumumkan beberapa minggu kemudian, pemerintah Israel dilaporkan justru terkejut.
Meski begitu, Trump tetap berhati-hati agar tidak mengkritik Netanyahu.
Ia bahkan disebut sempat melobi Presiden Israel Isaac Herzog agar memberikan pengampunan kepada Netanyahu dalam kasus dugaan korupsi yang sedang dihadapinya.
Netanyahu diketahui mendukung dimulainya kembali perang melawan Iran.
Ia menilai target perang terkait program nuklir dan rudal Teheran, termasuk dukungannya terhadap kelompok-kelompok proksi, masih belum tercapai.
Netanyahu mengatakan dirinya bisa menerima penyelesaian lewat jalur diplomatik, tetapi tetap meragukan kesediaan Iran untuk bernegosiasi dengan itikad baik.
Media Axios melaporkan bahwa dalam percakapan telepon pada Selasa, Trump memberi tahu Netanyahu mengenai upaya mediasi baru dari sejumlah negara Arab dan Muslim untuk mencapai kesepakatan antara AS dan Iran.
Proposal yang sedang dibahas itu disebut disusun oleh Qatar dan Pakistan dengan masukan dari Arab Saudi, Turki, dan Mesir sebagai mediator kawasan.
Dalam proposal tersebut, Washington dan Teheran akan menandatangani ‘surat pernyataan’ yang secara resmi mengakhiri perang dan membuka negosiasi selama 30 hari mengenai sejumlah isu, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan program nuklir Iran, kata seorang sumber AS kepada Axios.
Namun, kedua pemimpin disebut berbeda pandangan soal langkah selanjutnya. Netanyahu dikabarkan sangat skeptis terhadap kerangka kesepakatan tersebut.
Ia percaya AS seharusnya terus memberi tekanan militer terhadap Iran untuk semakin melemahkan rezim di sana dengan menghancurkan infrastruktur penting mereka, menurut dua sumber Israel.
Sumber AS tersebut mengatakan Netanyahu sangat marah setelah panggilan telepon itu.
Meski demikian, sumber Israel menyebut Netanyahu memang selalu khawatir mengenai arah negosiasi dengan Iran, termasuk pada tahap-tahap perundingan sebelumnya yang akhirnya gagal.
Kantor Perdana Menteri Israel dan Gedung Putih menolak memberi komentar kepada Axios terkait laporan itu.
Sumber: VIVA