

DEMOCRAZY.ID – Iran masih terus meluncurkan rudal meski fasilitas bawah tanahnya di dekat Isfahan digempur hampir 20 kali oleh serangan udara Amerika Serikat dan Israel.
Fakta itu memunculkan perdebatan baru di kalangan militer dunia: apakah kekuatan bom penghancur bunker paling canggih milik AS ternyata tidak cukup untuk melumpuhkan jaringan rudal bawah tanah Iran secara permanen.
Kompleks rudal bawah tanah di Gunung Soffeh, selatan Isfahan, kini menjadi simbol ketahanan strategi militer Iran.
Isfahan (atau Esfahan) bukan sekadar kota bersejarah dengan arsitektur Persia yang memukau; dalam kacamata strategi pertahanan, kota ini adalah jantung dari kompleks militer-industri Iran.
Kota ini dikelilingi oleh pegunungan Zagros, yang memberikan perlindungan alami dan memungkinkan militer Iran membangun fasilitas bawah tanah (deep-buried facilities) yang tahan terhadap serangan bom penghancur bunker (bunker buster).
Serangan demi serangan yang dilancarkan pesawat pengebom siluman B-2 Spirit hingga B-52 Stratofortress memang menghancurkan sejumlah pintu terowongan, gudang senjata, dan jalur logistik.
Namun, beberapa jam setelah dibombardir, aktivitas peluncuran rudal disebut kembali berlangsung dari kawasan yang sama.
Kota Misil Isfahan di sekitar Gunung Soffeh Iran, sebelum hancur di ledakkan serangan udara AS/Israel. pic.twitter.com/2TPbFCtA1g
— Vi Tu (@vianratulangi) April 1, 2026
Seorang warga Isfahan menggambarkan situasi itu dengan kalimat yang kemudian viral di media sosial dan forum pertahanan internasional.
“Gunung itu hampir setiap malam dibom, kami melihat asap membubung. Tetapi saat pagi tiba, justru dari gunung yang sama rudal kembali meluncur ke langit,” ujarnya.
Fenomena tersebut membuat doktrin “Missile Cities” atau “Kota Rudal” milik Iran kembali menjadi sorotan.
Doktrin itu memang dirancang untuk memastikan kemampuan serangan balasan Iran tetap bertahan meski menghadapi superioritas udara Barat.
Infrastruktur rudal Iran dibangun ratusan meter di dalam pegunungan granit di berbagai provinsi.
Fasilitas bawah tanah itu bukan sekadar bunker biasa.
Di dalamnya terdapat jaringan terowongan luas yang mencakup jalur transportasi internal, ruang penyimpanan rudal, area persiapan peluncuran, pintu tahan ledakan, hingga banyak jalur keluar tersembunyi untuk menyulitkan penargetan musuh.
Rekaman yang pernah dipublikasikan Garda Revolusi Iran memperlihatkan lorong-lorong bawah tanah yang dipenuhi rudal Emad, Sejjil, Qadr, Khorramshahr-4, hingga Haj Qassem.
Seluruh sistem itu dipamerkan sebagai pesan penangkal bagi Israel dan Amerika Serikat bahwa Iran tetap memiliki kemampuan serangan balasan strategis.
Le han pegado a la ciudad de misiles de Soffeh que está en el sur de Isfahan, creo que es la primera vez que surge efecto y logra penetrar hasta las profundidades. https://t.co/v4GaRvrqRE
— AparicioSaravIA (@AparicioIAX) March 31, 2026
Analis open source memperkirakan Iran memiliki puluhan kompleks rudal bawah tanah utama dan ratusan jaringan terowongan kecil yang tersebar di berbagai wilayah negara tersebut.
Defense Security Asia melansir, setidaknya terdapat lebih dari 100 pintu masuk terowongan yang diketahui publik dan tersebar di puluhan fasilitas strategis.
“Kompleks Soffeh di dekat Isfahan menjadi salah satu titik paling penting karena kawasan itu juga menampung pusat produksi dan perakitan rudal terbesar Iran.
Sebagian area terowongan di kawasan tersebut sebelumnya disebut terkait fasilitas nuklir sebelum akhirnya terintegrasi dengan operasi rudal militer,” ulas situs pertahanan tersebut.
Namun, keberadaan pintu masuk terowongan yang terlihat jelas melalui citra satelit komersial justru menjadi titik lemah utama. Selama perang 2025–2026, titik-titik tersebut berulang kali menjadi sasaran serangan bom penghancur bunker.
Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menggunakan kombinasi serangan berlapis, mulai dari bom bunker buster, rudal jelajah jarak jauh, hingga serangan pesawat siluman.
Pesawat B-2 Spirit menjadi sorotan karena merupakan satu-satunya pesawat operasional yang mampu membawa GBU-57 Massive Ordnance Penetrator berbobot 30.000 pound, bom khusus untuk menghancurkan target bawah tanah yang sangat dalam.
Meski demikian, serangan besar-besaran itu belum mampu melumpuhkan jaringan rudal Iran secara total.
Analisis citra satelit menunjukkan adanya pintu terowongan runtuh, permukaan gunung hangus, serta bangunan pendukung yang hancur.
Namun, ruang terdalam di dalam pegunungan granit disebut tetap sulit ditembus bahkan oleh bom penetrasi paling canggih sekalipun.
Di tengah bombardir terus-menerus, Iran justru menjadikan operasi pemulihan cepat sebagai bagian dari doktrin pertahanan. Buldozer, alat berat, truk pengangkut material, dan kendaraan konstruksi kerap terlihat mendekati pintu terowongan yang rusak beberapa saat setelah serangan berakhir.
Citra satelit memperlihatkan pola beton baru, jalur akses yang diperbaiki, serta pembersihan puing dalam waktu singkat.
Strategi itu menunjukkan Iran memang telah mengantisipasi kemungkinan pintu masuk terowongan runtuh akibat serangan udara.
Karena itu, mereka membangun banyak jalur keluar cadangan dan menempatkan peralatan pemulihan di berbagai titik sejak awal.
Artinya, serangan udara hanya mampu mengurangi tempo operasi dan memperlambat produksi, tetapi belum berhasil menghilangkan kemampuan serangan balasan Iran.
Di sisi lain, perang ini juga menjadi salah satu konflik bawah tanah paling transparan dalam sejarah modern karena dipantau luas melalui citra satelit komersial dan analisis OSINT atau open source intelligence.
Perusahaan seperti Planet Labs, Maxar, Airbus, hingga Sentinel-2 terus menangkap gambar kerusakan, ledakan, hingga aktivitas pemulihan di kawasan Isfahan.
Video yang direkam warga sekitar pun memperlihatkan asap membubung dari pegunungan setelah serangan malam hari.
Namun beberapa waktu kemudian, video lain kembali menunjukkan rudal meluncur dari kawasan yang sama. Situasi itu memperkuat narasi Iran bahwa sistem rudal mereka tetap bertahan meski dibombardir berkali-kali.
Pengalaman di Isfahan kini menjadi bahan kajian penting bagi militer dunia.
Pentagon disebut mulai khawatir bahwa perang masa depan melawan jaringan rudal bawah tanah di Iran, Korea Utara, atau China mungkin membutuhkan operasi pengeboman berbulan-bulan, bukan hanya beberapa hari.
Bagi Israel, kegagalan menghentikan sepenuhnya peluncuran rudal dari kawasan Isfahan memperlihatkan bahwa infrastruktur bawah tanah yang diperkeras kini menjadi salah satu target paling sulit dihancurkan oleh kekuatan udara modern.
Laporan terbaru media Amerika Serikat (AS), The New York Times mengungkap adanya assessment (penilaian) rahasia intelijen AS yang menyebut Iran masih mempertahankan sebagian besar kemampuan militernya.
Laporan ini bertolak belakang dengan klaim pemerintahan AS, Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyatakan kekuatan militer Teheran telah “dihancurkan.”
Mengutip sejumlah sumber pejabat AS dan Iran, laporan itu menyebut badan-badan intelijen Amerika telah memberi tahu para pengambil keputusan kalau sekitar 90 persen fasilitas rudal bawah tanah Iran kembali beroperasi, baik sebagian maupun penuh.
Penilaian tersebut dilakukan awal bulan ini menggunakan citra satelit dan sistem pemantauan canggih.
Data intelijen menunjukkan Iran masih memiliki sekitar 70 persen peluncur rudal bergerak dan hampir 70 persen persenjataan rudal sebelum perang.
Selain itu, Teheran disebut telah memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 lokasi rudal yang menghadap Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia setiap hari.
Juru bicara Olivia Wells kembali menegaskan bahwa militer Iran telah “dihancurkan” dan menyebut pihak yang percaya Iran berhasil membangun kembali kekuatannya sebagai “berhalusinasi atau juru bicara Garda Revolusi.”
Trump sendiri menulis di media sosial bahwa menyatakan militer Iran masih dalam kondisi baik “hampir sama dengan pengkhianatan.”
Sementara itu, Pentagon menuduh The New York Times bertindak sebagai “agen humas rezim Iran” yang mencoba merusak keberhasilan operasi militer yang dinamai “Epic Wrath.”
Laporan itu juga mengungkap alasan mengapa Iran masih mampu mempertahankan sebagian besar fasilitas bawah tanahnya.
Karena keterbatasan bom penghancur bunker, Pentagon disebut memilih menutup akses masuk fasilitas dibanding menghancurkannya sepenuhnya dari dalam.
Langkah itu diambil untuk menghemat persediaan amunisi strategis AS, terutama sebagai antisipasi kemungkinan konflik dengan China dan Korea Utara di kawasan Asia.
Sumber: Tribun