Blak-Blakan! Gatot Nurmantyo Ngaku ‘Dicopot’ Jokowi Gegara Tolak Naikkan Pangkat Jenderal

DEMOCRAZY.ID – Gatot Nurmantyo mengungkap penyebab diganti oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) sebagai Panglima TNI sebelum dirinya memasuki masa pensiun.

Sebagai informasi, Gatot menjadi Panglima TNI sejak 8 Juli 2015 dan digantikan oleh Hadi Tjahjanto yang saat itu menjabat Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) pada 8 Desember 2017.

Adapun Hadi menjadi calon satu-satunya yang diusulkan Jokowi untuk menggantikan Gatot.

Namun, Gatot menyebut ada alasan tertentu yang membuatnya diganti oleh Jokowi yakni terkait dirinya yang enggan untuk menyanggupi keinginan mantan Wali Kota Solo itu untuk mempromosikan perwira tinggi (pati).

Mulanya, Gatot menyinggung soal cara agar Indonesia menjadi negara maju yakni dengan memperbaiki iklim politik dan instituti negara.

Selain itu, ia juga menyebut kemajuan Indonesia bisa tercapai dengan memberantas korupsi.

“Jadi ini semua bisa dilakukan asal politik dan institusi kita benar-benar menjadi modal utama kita dan korupsi benar-benar diberantas,” katanya saat berpidato dalam acara Milad ke-5 Partai Ummat yang digelar di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Minggu (3/5/2026), dikutip dari YouTube Partai Ummat.

Gatot juga menyinggung soal pentingnya pemimpin yang bersih dan tidak memiliki rekam jejak buruk jika ingin Indonesia menjadi negara maju.

Menurutnya, tanpa faktor tersebut, maka Indonesia tak mungkin ‘naik kelas’.

“Jadi saya ulangi kalau Indonesia ingin naik kelas, nggak usah banyak-banyak deh, 70 persen politik, 20 persen ekonomi, 10 persen keberuntungan, dan punya pemimpin yang berani yang tidak punya masalah, tidak punya latar belakang. Tanpa itu, nggak bisa,” ujarnya.

Lalu, Gatot juga menyinggung soal pemimpin yang tidak tersandera dengan kepentingan pihak lain.

Pada momen inilah, Gatot menyebut Jokowi menjadi sosok pemimpin yang tersandera ketika memintanya untuk menaikkan pangkat perwira tinggi (pati) TNI ketika dirinya masih menjabat sebagai Panglima TNI.

“Saya buka aja sekarang, biar Pak Jokowi marah. Ketika Pak Jokowi minta ‘Pak Panglima, tolong dong ini naikkan (pati) bintang tiga. Saya periksa, nggak ada yang saya nggak periksa.”

“Setelah berat badan turun enam kilogram, saya kasih lembaran (ke pati yang dimaksud) mau dilanjutkan atau tidak? Kalau kamu nggak mau, lapor lewat jalur mana bilang,” jelasnya.

Setelah pati yang dimaksud memiliki rekam jejak buruk, Gatot lantas melapor ke Jokowi.

Kemudian, kata Gatot, Jokowi tidak jadi menaikkan pangkat pati TNI yang dimaksud.

“Besoknya saya dipanggil (Jokowi), (Jokowi bilang) ‘Pak Panglima, dia masih suka di sana’, (Gatot menjawab) ‘Oh iya pak, nggak apa-apa, bagus pak dia di sana aja. Nggak jadi naik bintang tiga dia,” katanya.

Gatot menilai terlalu selektif dirinya ketika akan menaikkan pangkat anak buahnya membuat Jokowi langsung mencopot jabatannya dari pucuk pimpinan TNI.

“Ya sudah ditendang lah saya karena nggak nurut (dengan Jokowi),” bebernya.

Lebih lanjut, Gatot mengatakan bahwa TNI memerlukan pemimpin yang berintegritas karena prajurit hanya akan patuh dengan perintah Panglima TNI.

Dia menegaskan jika Panglima TNI tidak berintegritas, maka justru akan berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Tapi tidak bisa, TNI adalah institusi yang besar bukan karena besarnya. Dia tetap prajurit yang dilatih, dipersenjatai, diorganisir. Kalau pemimpinnya nggak benar, bahaya sekali. Apalagi di negara yang begitu kompleks,” tuturnya.

[VIDEO]

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya