DEMOCRAZY.ID – Upaya mediasi Pakistan untuk melanjutkan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran kini menemui sandungan besar.
Proposal baru yang diajukan oleh Iran dilaporkan telah membuat Presiden AS Donald Trump tidak senang, memicu kemungkinan negosiasi akan kembali mandek.
Penyebab utama kekecewaan Trump adalah karena dalam proposal tersebut, Iran sama sekali tidak memasukkan pembahasan mengenai penghentian program nuklirnya—salah satu tuntutan paling krusial dari pihak Washington.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dilaporkan tengah gencar melakukan lobi ke sejumlah negara seperti Pakistan, Oman, dan Rusia.
Tujuannya adalah untuk menggalang dukungan atas proposal Teheran yang lebih memprioritaskan pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara isu nuklir sengaja ‘disimpan’ untuk dibahas di tahap selanjutnya.
Para analis melihat langkah ini sebagai strategi cerdas dari Iran, yang berkaca pada kegagalan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA).
Saat itu, setelah Iran setuju membatasi program nuklirnya, AS di bawah pemerintahan Trump justru menarik diri dari kesepakatan tanpa konsekuensi apa pun.
“Negara-negara Eropa yang ikut merundingkan JCPOA juga tidak bisa diandalkan saat krisis,” kata seorang analis, Khan menyoroti lemahnya penjamin kesepakatan di masa lalu.
Kini Iran tampaknya ingin membangun basis dukungan regional yang lebih kuat sebelum masuk ke pembahasan isu paling sensitif.
“Idealnya Iran tidak ingin kesepakatan yang rentan terhadap siklus pemilu AS,” ujar mantan duta besar Pakistan, Jauhar Saleem.
Meskipun Gedung Putih belum mengonfirmasi secara resmi isi proposal tersebut, seorang pejabat melaporkan bahwa Trump tidak senang karena kepentingan utama AS tidak dibahas.
Sikap Trump sendiri sudah sangat jelas. Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, ia menegaskan bahwa tidak akan ada pertemuan jika isu nuklir tidak menjadi agenda utama.
“Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Kalau tidak, tak ada alasan untuk bertemu,” ujar Trump.
Sementara itu, Gedung Putih melalui juru bicaranya, Olivia Wales menyatakan bahwa AS tidak akan bernegosiasi melalui media dan hanya akan menerima kesepakatan yang mengutamakan rakyat Amerika serta tidak pernah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.
Dengan penolakan Iran untuk membahas isu nuklir di tahap awal, dan penolakan AS untuk bernegosiasi jika isu tersebut tidak dibahas, jalan menuju perdamaian kini kembali terlihat sangat terjal.
Sumber: Suara