Trump Kembali Serang Paus: Beri Tahu Dia, Iran Bunuh 42 Ribu Demonstran 2 Bulan dan Punya Bom Nuklir!

DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kembali menyerang pemimpin Gereja Katolik sekaligus Kepala Negara Vatikan, Paus Leo XIV, secara verbal terkait konflik dengan Iran dan isu senjata nuklir.

Melalui platform Truth Social pada Selasa (14/4/2026) malam, Trump kembali menumpahkan kemarahannya kepada Paus Leo XIV karena tetap tidak bisa menerima perang di Iran dan menyebut retorika perang Trump ‘benar-benar tidak dapat diterima’.

Trump menyerang dengan meminta seseorang di sana memberi tahu Paus Leo XIV soal kejahatan yang sudah dilakukan Iran, demikian dlansir dari laman usatoday.com.

Menurut Trump, Paus Leo tidak mengerti apa-apa dan Vatikan sepertinya sengaja luput soal fakta di Iran.

Karenanya Trump sekali lagi menyerang Paus Leo XIV pada Selasa (14/4/2026) malam, dengan membela tindakan militer AS di Iran.

“Bisakah seseorang memberi tahu Paus Leo bahwa Iran telah membunuh setidaknya 42.000 demonstran yang tidak bersalah dan sama sekali tidak bersenjata dalam dua bulan terakhir, dan bahwa memiliki Bom Nuklir di Iran sama sekali tidak dapat diterima,” tulis Trunp di halaman Truth Social-nya, Rabu (15/4/2026).

Hal ini terjadi di tengah meningkatnya perselisihan antara Trump dan Paus Leo XIV dalam beberapa minggu terakhir.

Di mana, Paus telah mengecam retorika yang keluar dari Gedung Putih soal perang di Iran, dan menyerukan perdamaian di Timur Tengah.

Pada Sabtu (11/4/2026), Paus mengatakan kepada para jemaat di Basilika Santo Petrus untuk menghentikan penyembahan diri dan uang serta perang.

“Cukup sudah penyembahan diri dan uang! Cukup sudah pameran kekuasaan! Cukup sudah perang!” kata Paus Leo.

Pernyataannya diyakini banyak pihak menjurus ke Presiden Trump atas apa yang dilakukannya di Iran.

Paus juga mengkritik Presiden Trump atas ancamannya terhadap Iran bahwa seluruh peradabannya akan mati dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali, jika tidak mau membuka Selat Hormuz.

Paus menyebut pernyataan Trump ‘benar-benar tidak dapat diterima’.

Trump lalu membalas di Truth Social pada Minggu (12/4/2026) malam, dengan menyebut Paus LEMAH dalam Kejahatan, dan buruk dalam Kebijakan Luar Negeri.

Bahkan Trump menuding bahwa Leo bisa terpilih menjadi Paus, karena dirinya adalah warga negara Amerika Serikat.

Trump bahkan memposting gambar yang dihasilkan AI yang tampaknya menggambarkan dirinya mengenakan jubah sebagai Yesus Kristus yang tengah menyembuhkan orang sakit.

Foto itu memicu kontroversi dan reaksi keras di antara para pendukung Trump dan umat Katolik di media sosial.

Trump kemudian menghapus gambar tersebut dan mengklaim bahwa ia melihat gambar itu adalah dirinya sebagai dokter Palang Merah.

“Biasanya saya tidak suka melakukan itu, tetapi saya tidak ingin ada yang bingung. Orang-orang bingung,” tambah Trump, tentang penghapusan gambar tersebut.

Presiden mengklaim dalam unggahan panjangnya pada hari Minggu bahwa Leo yang 70 tahun, hanya diangkat menjadi Paus ‘karena dia orang Amerika’.

“Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan,” kata Trump sinis.

Trump menambahkan Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus.

“Menggunakan akal sehat, berhenti menuruti keinginan Kiri Radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan politisi. Ini sangat merugikannya dan, yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik!” kata Trump.

Dalam gambar yang dihasilkan AI yang diunggah di Truth Social, Trump tampak mengenakan jubah merah dan putih saat ia menyembuhkan seorang pria dengan tangan penyembuhnya sementara bendera Amerika berkibar di latar belakang.

Sebelumnya Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Minggu (12/4/2026) di Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland bahwa dirinya bukan penggemar Paus Leo.

“Saya bukan penggemar berat Paus Leo. Dia orang yang sangat liberal, dan dia orang yang tidak percaya pada pemberantasan kejahatan,” kata Trump.

Bahkan Trump juga menuduh pemimpin Gereja Katolik, yang memiliki 1,4 miliar anggota itu bermain-main dengan negara yang menginginkan senjata nuklir.

Ia melanjutkan kecamannya terhadap Paus pada Minggu malam, dengan menulis di Truth Social.

“Saya tidak menginginkan Paus yang berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir,” ujar Trump.

“Saya tidak menginginkan Paus yang berpikir mengerikan bahwa Amerika menyerang Venezuela, negara yang mengirimkan sejumlah besar narkoba ke Amerika Serikat dan, yang lebih buruk lagi, mengosongkan penjara mereka, termasuk para pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat, ke negara kita,” kata Trump.

Trump mengatakan kepada CBS News pada hari Senin bahwa ia memutuskan untuk menyerang Paus kelahiran Amerika itu setelah melihat segmen 60 Minutes yang menunjukkan ketidaksetujuan Paus terhadap perang Iran dan agenda imigrasi Trump.

‘Dia salah dalam masalah ini,’ kata Trump.

“Saya rasa dia seharusnya tidak terlibat dalam politik. Saya rasa dia mungkin belajar dari ini,” kata Trump.

Paus Tidak Takut Trump

Pada Senin (13/4/2026), Paus Leo menanggapi serangan Trump.

“Saya tidak takut pemerintahan Trump,” kata Paus di dalam pesawat kepausan menuju Aljir, tempat Paus memulai tur 10 hari ke empat negara Afrika.

Paus mengatakan ia berencana untuk terus berbicara menentang perang, dan mengatakan tidak ingin berdebat dengan Trump.

“Saya tidak berpikir bahwa pesan Injil dimaksudkan untuk disalahgunakan seperti yang dilakukan beberapa orang,” kata Paus.

“Saya akan terus berbicara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mempromosikan dialog dan hubungan multilateral antar negara untuk mencari solusi yang adil bagi masalah-masalah,” ujarnya.

“Terlalu banyak orang menderita di dunia saat ini. Terlalu banyak orang tak bersalah yang dibunuh. Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan mengatakan ada cara yang lebih baik,” tambah Paus.

Karenanya Paus memastikan akan menentang perang dan berupaya mengkampanyekan perdamaian,

“Saya akan terus berbicara lantang menentang perang, dan berupaya mempromosikan perdamaian,” kata Paus.

Kecaman Luas

Perselisihan dengan pemimpin Gereja Katolik Paus Leo, telah memicu kecaman luas dari tokoh publik dan politisi kepada Trump, termasuk beberapa sekutu presiden.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian membela Paus dengan mengatakan bahwa ia mengutuk penghinaan terhadap Paus Leo.

“Dan atas nama bangsa Iran yang agung, menyatakan bahwa penodaan terhadap Yesus, nabi perdamaian dan persaudaraan, tidak dapat diterima oleh siapa pun yang merdeka. Saya mendoakan kemuliaan bagi Anda demi Allah,” kata Pezeshkian kepada Paus.

Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez mengatakan bahwa sementara sebagian orang menambah perang dengan perang, Leo XIV menabur perdamaian dengan keberanian.

“Akan menjadi suatu kehormatan untuk menerimanya di Spanyol dalam beberapa minggu mendatang,” ujar Pedro Sanchez.

Mantan anggota Kongres Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, menulis di X.

“Pada Paskah Ortodoks, Presiden Trump menyerang Paus karena Paus dengan tepat menentang perang Trump di Iran dan kemudian ia memposting foto dirinya seolah-olah ia menggantikan Yesus,” kecam Greene.

Lalu Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, sekutu Trump, menyebut pernyataan presiden AS itu tidak dapat diterima.

“Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah benar dan wajar baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk setiap bentuk perang,” kata Meloni.

Penolakan Trump terhadap Paus kembali terjadi ketika militer AS mengumumkan bahwa blokade militer terhadap jalur air vital Selat Hormuz telah sepenuhnya diterapkan.

Hal ini menyebabkan perdagangan yang masuk dan keluar dari Iran benar-benar terhenti.

Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS, membuat pengumuman pada tanggal X di tengah laporan bahwa sebuah kapal tanker Tiongkok dan kapal lain terpaksa berbalik arah setelah melewati Selat Hormuz, yang dilalui seperlima pasokan minyak dunia.

Kapal tanker minyak Rich Starry dimiliki oleh Shanghai Xuanrun Shipping Co Ltd akan menjadi sasaran sanksi AS karena digunakan untuk mengangkut minyak mentah Iran.

Setelah mengitari area tersebut pada Senin malam dan awalnya berbalik arah, kapal sepanjang 600 kaki itu melewati jalur air tersebut pada hari Selasa.

Sementara itu, Christianna yang terkait dengan Iran melakukan rute serupa, melewati Selat Hormuz sebelum berbalik arah tepat sebelum pukul 4 sore di Inggris.

Para pejabat AS kini dikabarkan sedang mempersiapkan putaran kedua pembicaraan damai dengan Iran di Pakistan.

Di mana Wakil Presiden JD Vance dilaporkan akan memimpin negosiasi sekali lagi setelah pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan pada akhir pekan lalu.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya