Apa Saja Penyebab AS-Iran ‘Batal’ Sepakat Damai? Ini 4 Faktornya!

DEMOCRAZY.ID – Berikut beberapa sebab AS-Iran batal sepakat damai.

1. Program Nuklir

Salah satu penyebab utama kegagalan perundingan adalah perbedaan sikap terkait program nuklir Iran.

Pemerintah AS menuntut agar Iran menghentikan sepenuhnya program nuklirnya sebagai bagian dari kesepakatan damai.

Namun, Iran menolak tuntutan tersebut. Teheran bersikukuh bahwa program nuklir yang mereka jalankan bertujuan untuk kepentingan sipil, bukan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Iran bahkan menyatakan kesediaannya untuk membatasi aktivitas nuklirnya, tetapi dengan syarat seluruh sanksi ekonomi terhadap mereka dicabut.

Perbedaan posisi ini menjadi salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi.

AS menganggap penghentian total sebagai syarat mutlak, sementara Iran menilai tuntutan tersebut tidak realistis dan melanggar hak mereka sebagai negara berdaulat.

2. Sengketa Selat Hormuz

Selain isu nuklir, Selat Hormuz juga menjadi topik panas dalam perundingan.

Jalur laut strategis ini memiliki peran vital dalam perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati wilayah tersebut.

Sejak konflik memanas, Iran dilaporkan telah menutup akses Selat Hormuz secara efektif, yang berdampak besar pada lonjakan harga energi global.

Kondisi ini bahkan disebut-sebut sebagai guncangan ekonomi terburuk sejak embargo minyak tahun 1973.

Dalam negosiasi, Iran bersikeras ingin mengendalikan selat tersebut, termasuk memberlakukan biaya bagi kapal-kapal yang melintas.

Sebaliknya, AS menuntut agar Selat Hormuz tetap terbuka dan bebas biaya demi menjaga stabilitas perdagangan global.

Perbedaan kepentingan ini semakin memperlebar jurang antara kedua negara, mengingat Selat Hormuz bukan hanya soal kedaulatan, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi dunia.

3. Isu Lebanon dan Konflik Regional

Faktor lain yang turut menghambat kesepakatan adalah konflik di Lebanon.

Iran menekankan bahwa gencatan senjata seharusnya mencakup seluruh wilayah konflik, termasuk Lebanon yang masih mengalami serangan militer Israel.

Namun, posisi ini tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan sekutu AS, khususnya Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata.

Di sisi lain, Pakistan sebagai mediator justru menyatakan bahwa Lebanon seharusnya menjadi bagian dari kesepakatan.

Perbedaan pandangan ini menambah kompleksitas negosiasi, karena melibatkan kepentingan banyak pihak di kawasan Timur Tengah.

4. Rendahnya Tingkat Kepercayaan

Kegagalan perundingan juga dipengaruhi oleh rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua negara.

Iran menilai AS mengajukan tuntutan yang berlebihan dan tidak masuk akal.

Dalam pernyataannya, Esmail Baghaei menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi sangat bergantung pada keseriusan dan itikad baik kedua pihak.

Ia juga menekankan pentingnya menghormati hak serta kepentingan sah masing-masing negara.

Lebih jauh, Iran mengingatkan bahwa mereka tidak memiliki ekspektasi tinggi terhadap AS, mengingat pengalaman masa lalu di mana Washington dianggap pernah mengingkari kesepakatan saat negosiasi masih berlangsung.

Di sisi lain, AS menilai Iran tidak menunjukkan komitmen yang cukup untuk meredakan ketegangan, terutama dalam hal program nuklir dan stabilitas kawasan.

Kegagalan mencapai kesepakatan damai ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral AS dan Iran, tetapi juga memicu ketidakpastian global.

Gangguan di Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga energi, yang pada akhirnya mempengaruhi ekonomi berbagai negara.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya