Sama Persis! Simak Spesifikasi Motor MBG Diduga Produk China Yang Di-Mark Up, Harga Asli Cuma Rp 10 Juta?

DEMOCRAZY.ID – Polemik pengadaan motor listrik untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bergulir.

Setelah sebelumnya disorot dari sisi anggaran, kini muncul temuan baru terkait dugaan kemiripan produk yang digunakan.

Motor listrik merek Emmo yang dibeli oleh Badan Gizi Nasional (BGN) disebut memiliki kesamaan mencolok dengan produk pabrikan asal China, hingga memicu pertanyaan publik soal transparansi dan spesifikasi.

Diduga Produk ‘White Label’

Isu yang mencuat tak hanya soal harga, tetapi juga asal-usul produk.

Motor Emmo disebut-sebut merupakan produk ‘white label’ yang identik dengan kendaraan listrik buatan Taizhou Okla Mobil, Zhejiang, China.

Pihak pemegang merek, PT Yasa Artha Trimanunggal, mengklaim tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) hampir 50 persen. Namun, temuan di lapangan menunjukkan kesamaan desain yang sangat signifikan.

Salah satu model yang disorot adalah Emmo JVH Max yang tampak serupa dengan produk generik milik Okla yang dipasarkan secara global.

Kemiripan Fisik Nyaris Tanpa Perbedaan

Jika dilihat secara detail, kemiripan antara Emmo JVH Max dan motor listrik Okla mencakup hampir seluruh bagian kendaraan.

Mulai dari lampu utama (headlamp), kaca depan, lampu sein, hingga desain fairing terlihat identik. Tak hanya bagian depan, sisi belakang pun menunjukkan pola yang sama.

Model jok, bentuk knalpot, spatbor, hingga rangka besi di bagian ekor disebut nyaris tidak memiliki perbedaan.

Selisih Harga dan Spesifikasi Jadi Sorotan

Penelusuran pada laman perdagangan internasional menunjukkan produk Okla dijual dengan harga mulai dari US$ 2.185 atau sekitar Rp37 jutaan.

Sementara itu, Emmo JVH Max di Indonesia dipasarkan dengan harga sekitar Rp48 jutaan, memunculkan selisih cukup signifikan.

Produk serupa juga ditemukan di situs resmi oklaglobal.com dengan nama OMAX.

Dari sisi spesifikasi, keduanya memiliki kemiripan pada kecepatan maksimum yang mencapai 90 km/jam. Namun, terdapat perbedaan pada daya jelajah.

OMAX mampu menempuh hingga 150 km, sedangkan Emmo JVH Max hanya sekitar 70 km.

Selain itu, OMAX menggunakan dual battery 74V 28A, sementara Emmo dibekali baterai 74V 30Ah.

Jejak Desain Industri Baru Terdaftar

Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah waktu pendaftaran desain industri dari produk tersebut.

Data di Pangkalan Data Kekayaan Intelektual (PDKI) menunjukkan bahwa model Emmo yang digunakan baru didaftarkan pada 2025.

Tipe Emmo JVX GT tercatat pada 22 Agustus 2025, disusul Emmo JVH Max pada 17 Oktober 2025, dengan pemohon atas nama PT Adlas Sarana Elektrik.

Dibeli Lewat Inaproc Tanpa Tender Panjang

Dalam proses pengadaannya, motor listrik ini tercatat dalam platform Inaproc milik LKPP.

Melalui sistem tersebut, instansi pemerintah dapat melakukan pembelian langsung tanpa melalui proses tender panjang, selama produk memenuhi syarat TKDN.

Namun, dengan kemiripan desain yang begitu kuat dengan produk luar negeri serta selisih harga yang cukup jauh, pengadaan ini kini menuai pertanyaan dari berbagai pihak.

Sorotan pun mengarah pada transparansi, efisiensi anggaran, serta kejelasan spesifikasi dalam program yang dibiayai oleh negara tersebut.

Sebelumnya, Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hilmi Firdausi, angkat bicara terkait dugaan markup dalam sejumlah pengadaan yang berkaitan dengan program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

Ia blak-blakan mengulik nilai pengadaan yang terkesan fantastis serta mempertanyakan urgensi di balik kebijakan tersebut.

Rincian Nilai Pengadaan Triliunan

Gus Hilmi memaparkan sejumlah angka pengadaan yang menjadi perhatian publik.

“105 ribu pickup dari India nilainya Rp24,6 T,” ujar Gus Hilmi dikutip fajar.co.id, Minggu (12/4/2026).

“Lalu Motor MBG cina sejumlah 21 ribu senilai Rp1,39 T. Ditambah 20.600 truk KMP senilai Rp10,8 T,” tambahnya.

Angka-angka tersebut, menurutnya, perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.

Pertanyakan Urgensi dan Efisiensi

Ia menegaskan bahwa besarnya anggaran tersebut perlu ditinjau dari sisi kebutuhan dan efisiensi.

“Dimana letak urgensi dan efisiensinya?,” timpalnya.

Gus Hilmi juga menaruh perhatiannya pada dugaan selisih harga pada pengadaan perangkat elektronik.

“Belum lagi Galaxy tab yang di pasar harga Rp9jtan tapi di anggaran jadi Rp17 juta,” jelasnya.

Selain itu, ia menyinggung pengadaan atribut yang disebut turut menghabiskan anggaran besar.

“Juga pengadaan kaos kaki dan printilannya yang luar biasa,” terang Gus Hilmi.

Minta Transparansi dan Bebas Korupsi

Lebih jauh, Gus Hilmi berharap seluruh pengadaan dapat dijelaskan secara transparan dan akuntabel.

“Semoga semua dapat dijelaskan, transparan, tidak ada korupsi, tidak ada markup dan tidak dibiayai dari nambah hutang,” tandasnya.

Gus Hilmi bilang, komentarnya tersebut merupakan suara hati dari masyarakat yang ikut menanggung beban pajak.

“Tertanda rakyat pembayar pajak,” kuncinya.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya