Prabowo Wanti-Wanti Bahaya AI, Gibran Justru Mengagungkan, Pengamat: Padahal Keduanya Sama-Sama Gak Paham!

DEMOCRAZY.ID – Pegiat media sosial, Herwin Sudikta, merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait potensi kecerdasan buatan (AI) sebagai alat penyebaran hoaks.

Ia mengatakan bahwa terdapat perbedaan cara pandang antara Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam melihat perkembangan teknologi tersebut.

Herwin menyebut perbedaan perspektif itu menunjukkan belum adanya pemahaman utuh terhadap AI.

Ia juga mengingatkan agar teknologi tersebut tidak dipandang secara berlebihan, baik sebagai ancaman maupun sesuatu yang harus diagungkan.

“Prabowo ngomong AI bisa jadi alat hoaks dan ganggu stabilitas. Di sisi lain, wakilnya sibuk glorifikasi AI sebagai masa depan,” ujar Herwin, Jumat(10/4/2026).

“Satu lihat ancaman. Satu lihat peluang. Padahal dua-duanya sama-sama gak paham AI. AI itu bukan buat ditakutin, juga bukan buat disembah,” tambahnya.

Menurutnya, kebijakan yang lahir tanpa pemahaman menyeluruh berpotensi bersifat reaktif. Ia menilai hal tersebut dapat berdampak pada arah kebijakan publik.

“Kalau cuma dimakan mentah, ujungnya ya begini, kebijakan jadi reaktif, bukan berbasis pemahaman,” tegas Herwin.

Dede Budhyarto: Dua Perspektif Saling Melengkapi

Menanggapi pernyataan tersebut, mantan Komisaris PT Pelni Dede Budhyarto menyampaikan pandangan berbeda.

Ia menilai sikap Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran justru merepresentasikan dua sisi penting dalam melihat perkembangan AI.

Presiden, kata Dede, melihat risiko yang dapat muncul dari penggunaan teknologi tersebut terhadap stabilitas informasi.

“Presiden Prabowo melihat risiko nyata AI: deepfake, hoaks massal, gangguan stabilitas, dan manipulasi opini publik,” ucap Dede.

“Itu bukan ketakutan berlebih, tapi tanggung jawab pemimpin negara yg harus menjaga kedaulatan informasi,” tambahnya.

Sementara itu, Dede menyebut Wakil Presiden Gibran menyoroti peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia di era digital.

“Wapres Gibran melihat peluang AI untuk lompatan teknologi, efisiensi, dan daya saing bangsa. Itu juga benar, karena Indonesia tidak boleh ketinggalan di era digital,” tukasnya.

Ia menegaskan kedua pandangan tersebut tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam perumusan kebijakan.

“Dua perspektif ini saling melengkapi, bukan kontradiksi. Yang justru berbahaya adalah pandangan simplistis, dua-duanya gak paham,” jelasnya.

Baginya, pemahaman terhadap AI harus melihat sisi risiko sekaligus peluang agar kebijakan yang diambil tidak ekstrem.

“AI memang bukan untuk ditakuti berlebihan, juga bukan untuk disembah tanpa kritis. Tapi memahami kedua sisi (risiko plus peluang) justru menunjukkan kedewasaan berpikir,” imbuhnya.

Dede menambahkan kebijakan yang matang lahir dari keseimbangan tersebut, bukan dari asumsi atau tudingan yang menyederhanakan persoalan.

“Kebijakan yg baik lahir dari keseimbangan itu, bukan dari tuduhan sama-sama gak paham atau kebijakan dadakan,” tandasnya.

Ia pun mengajak agar pembahasan AI dilakukan secara komprehensif dengan dukungan data dan regulasi yang matang.

“Mari bedah AI dengan data dan regulasi yang matang, bukan sekadar narasi polarisasi,” tutupnya.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya