DEMOCRAZY.ID – Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan melontarkan kritik keras terhadap eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Dalam pidatonya di Ankara, Selasa (24/3/2026), Erdogan menilai ketegangan yang kini membesar bukan sekadar konflik regional, melainkan telah menjelma menjadi krisis global yang berpotensi mengganggu stabilitas dunia.
Erdogan secara terbuka menyebut bahwa konflik yang kian memanas dipicu oleh kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ia menuding Netanyahu menggunakan situasi perang sebagai alat untuk mempertahankan kepentingan politik domestiknya, sebuah langkah yang dinilai berisiko memperluas skala konflik dan menyeret lebih banyak pihak ke dalam pusaran krisis.
Menurut Erdogan, dinamika yang berkembang saat ini tidak lagi terbatas pada ketegangan bilateral atau kawasan, melainkan telah melibatkan kekuatan besar dunia.
Ia mengingatkan bahwa keterlibatan Amerika Serikat serta respons Iran berpotensi menciptakan efek domino yang meluas, termasuk terhadap keamanan energi global, stabilitas ekonomi, hingga keamanan internasional.
Dalam pidato yang disampaikan di hadapan publik dan pejabat pemerintah di Ankara, Erdogan menegaskan bahwa dunia tidak boleh tinggal diam.
Ia mendesak negara-negara internasional untuk mengambil langkah yang lebih berani dan proaktif guna menghentikan eskalasi kekerasan di Timur Tengah.
Menurutnya, upaya diplomasi harus segera diintensifkan untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang terbuka yang lebih luas
Pernyataan Erdogan mencerminkan kekhawatiran yang semakin meluas di kalangan pemimpin dunia terkait dampak konflik tersebut.
Sejumlah analis menilai, jika tidak segera dikendalikan, ketegangan antara Iran dan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat dapat memicu instabilitas jangka panjang, termasuk gangguan pada jalur perdagangan internasional dan meningkatnya risiko konflik berskala besar.
Turki, yang selama ini memposisikan diri sebagai salah satu aktor penting di kawasan, kembali menegaskan perannya dalam mendorong penyelesaian damai.
Erdogan menekankan bahwa pendekatan militer tidak akan memberikan solusi jangka panjang, dan justru berpotensi memperparah penderitaan masyarakat sipil di kawasan konflik.
Dengan nada tegas, Erdogan menutup pidatonya dengan seruan kepada komunitas internasional untuk tidak menunda tindakan.
Ia mengingatkan bahwa kegagalan dalam merespons situasi saat ini dapat membawa dunia pada krisis yang lebih dalam dan sulit dikendalikan.
Sumber: Tribun