DEMOCRAZY.ID – Tepat pada hari ini, 51 tahun yang lalu dunia kehilangan seorang pemimpin yang disegani dari Jazirah Arab.
Faisal bin Abdul Aziz al-Saud, raja ketiga dalam sejarah dinasti Arab Saudi, gugur pada 25 Maret 1975 usai ditembak oleh keponakannya sendiri.
Ayahnya, Abdul Aziz, wafat pada 1953. Semula, Sa’ud selaku putra sulung almarhum hendak diangkat sebagai penerus takhta.
Adapun Faisal diberi jabatan perdana menteri. Namun, persaingan kemudian muncul di antara keduanya.
Tampaknya, Sa‘ud sebagai raja kurang suka dengan eksistensi posisi perdana menteri, yang membuat kekuasaannya seolah-olah kurang absolut.
Akhirnya, Faisal terpaksa mengundurkan diri dari posisi perdana menteri pada 1960. Raja Sa’ud lalu mengambil alih kendali langsung atas kabinet.
Namun, ketidakstabilan politik masih saja terjadi. Pada 23 Maret 1964, ulama-ulama Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang menyerukan raja Sa’ud agar menyerahkan segala urusan pemerintahan kepada Faisal.
Mereka menghendaki bahwa raja “hanya” sebagai simbol persatuan negeri, tanpa kekuasaan eksekutif.
Fatwa itu menuai dukungan para menteri. Akhirnya, sang raja menerima fatwa tersebut.
Pergolakan politik ternyata tak kunjung henti sesudah itu. Pada akhir Oktober 1964, sejumlah pembesar Dinasti Saud beserta para ulama mengeluarkan pernyataan yang lebih keras.
Mereka menyerukan agar Sa’ud turun takhta. Selanjutnya, Faisal didorong naik sebagai raja.
Mulai tanggal 2 November 1964, perubahan itu mewujud sudah. Faisal bin Abdul Aziz al-Saud pun menjadi raja Arab Saudi.
Raja Faisal menjalankan kebijakan-kebijakan yang memuluskan proyek modernisasi Arab Saudi.
Ia misalnya memaklumkan penghapusan perbudakan dan penyusunan Undang-Undang Perburuhan.
Sang raja juga mendorong pembaruan dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Dalam masa pemerintahannya pula, Kerajaan terbagi ke dalam wilayah-wilayah provinsi, dengan majelis permusyawaratan pada masing-masing.
Raja Faisal membuka keran kebebasan berpendapat, yang lebih progresif daripada era pendahulunya. Dalam bidang ekonomi, ia mencanangkan pembangunan industri dan pertanian.
Visinya sudah menjangkau jauh agar Arab Saudi tidak melulu bergantung pada pemasukan dari pertambangan minyak bumi.
Seturut dengan kondisi zaman ini, Raja Faisal menyambut gelombang dekolonisasi negara-negara di Asia dan Afrika.
Ia menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara mayoritas Muslim, termasuk yang dahulu dijajah Eropa.
Dalam konteks regional Timur Tengah, ia terdepan dalam mengimbau kerja sama negara-negara Arab, termasuk dalam memerangi Zionis-Israel.
Yang luar biasa, manuver diplomatiknya di OPEC. Raja Faisal berhasil mendorong negara-negara Arab anggota OPEC agar kompak memberlakukan embargo minyak terhadap Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat yang pro-Israel.
Embargo itu berlangsung sejak Oktober 1973, ketika perang pecah antara Israel dan Palestina—serta koalisi Arab.
Embargo membuat harga minyak dunia naik hingga 75 persen atau 300 persen. Timbul pula efek jangka pendek dan panjang pada politik dan ekonomi global.
Pukulan berat dirasakan AS akibat kebijakan negara-negara Arab yang anti-Israel itu.
Sejumlah negara Eropa dan Jepang pun menarik jarak dari Washington. Mereka lalu menyatakan simpati pada Palestina atau mendesak dilakukannya perundingan damai antara Arab-Israel.
Kalau saja presiden AS saat itu, Richard Nixon, tetap netral terhadap konflik Arab-Israel, agaknya embargo minyak tidak sampai menjadi opsi yang diambil Raja Faisal dan negara-negara Arab.
Inilah yang dipandang sebagai “senjata ekonomi” yang dikirimkan Saudi saat itu untuk mendukung perjuangan Palestina.
Riyadh memang tidak ambil bagian dengan mengirimkan pasukan tempurnya ke medan Perang Ramadhan.
Namun, secara finansial Saudi menyampaikan bantuan logistik pada negara-negara Arab yang terlibat perang tersebut, termasuk Mesir dan Suriah.
Embargo minyak telah memaksa Israel—atas desakan AS—untuk menarik pasukannya dari medan perang dan juga sebagian wilayah Arab yang diduduki.
Berkat ketegasannya, Raja Faisal menjadi pemimpin yang paling berpengaruh di dunia Arab dan dunia Islam pada umumnya. Tokoh ini dipandang sebagai pemersatu negara-negara Arab.
Pengaruhnya di tataran global memang diakui luas. Majalah Time menganugerahinya sebagai “Man of the Year” pada 1974. Namun, usianya kian dekat di ujung.
Pada 25 Maret 1975, Raja Arab Saudi Faisal ditembak mati oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaed. Alasan pembunuhan tersebut masih tidak jelas kala itu.
Seperti dilansir laman BBC History, Raja Faisal sempat dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah ditembak dan dinyatakan masih hidup.
Dokter kemudian mengejutkan jantungnya dan memberinya transfusi darah, tetapi nahas, para dokter tidak dapat menyelamatkannya.
Pangeran Faisal bin Musaed diduga menembakkan tiga peluru ke arahnya dengan pistol dari jarak dekat selama audiensi kerajaan.
Menurut saksi mata, Pangeran Musaed sedang menunggu di ruang antre dan berbicara dengan utusan Kuwait yang sedang menunggu untuk bertemu dengan raja.
Sumber: Republika