VIRAL! Menteri Jepang Lari-Lari Telat Rapat Kabinet, Lalu Minta Maaf ke Publik

DEMOCRAZY.ID – Kimi Onoda yang menjabat sebagai Menteri Keamanan Ekonomi Jepang baru-baru ini menunjukkan sikap pertanggungjawaban publik yang luar biasa.

Pejabat tinggi negara ini menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga Jepang karena sebuah keterlambatan kecil.

Ia diketahui tidak hadir tepat waktu dalam agenda rapat kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi.

Momen memalukan bagi pejabat Jepang tersebut tertangkap kamera dan segera menjadi perbincangan hangat di jagat maya.

Warganet menyoroti dedikasi sang menteri yang tetap berusaha hadir meski waktu sudah menunjukkan keterlambatan lima menit.

Video yang beredar luas memperlihatkan politisi dari Partai Demokratik Liberal ini tergesa-gesa menuju lokasi pertemuan.

Peristiwa yang terjadi pada Jumat pekan lalu itu merekam detik-detik Onoda turun dari taksi dengan sangat cepat.

Tanpa memedulikan citra formalnya, menteri berusia 43 tahun itu terlihat berlari kencang sambil menjinjing tas tangannya.

Ia harus melewati kerumunan jurnalis yang sedang bertugas di depan gedung pemerintahan demi mencapai ruang sidang.

Tampak seorang ajudan setia mencoba mengimbangi langkah cepat sang menteri yang sedang berpacu dengan waktu tersebut.

Laporan dari Daily Mail pada 7 Maret 2026 menyebutkan bahwa Onoda sempat menuruni anak tangga dengan sangat terburu-buru.

Di sisi lain, lensa kamera media berhasil mengabadikan suasana formal di dalam ruangan sebelum rapat dimulai.

Perdana Menteri Sanae Takaichi terlihat memasuki ruangan dengan suasana yang sangat khidmat dan tertata rapi.

Seluruh jajaran anggota kabinet yang sudah hadir tampak berdiri secara serentak sebagai bentuk penghormatan protokoler.

Mereka terlihat merapikan kancing jas masing-masing sesaat sebelum pemimpin pemerintahan mengambil posisi duduk di kursinya.

Namun, pemandangan mencolok terlihat ketika kamera menyorot barisan kursi yang telah disediakan bagi para pejabat.

Satu kursi yang seharusnya ditempati oleh Menteri Keamanan Ekonomi masih tampak kosong melongpong saat itu.

Kekosongan ini menjadi bukti nyata keterlambatan Onoda di tengah kedisiplinan tinggi para kolega menteri lainnya.

Video di Akhir Artikel

Setelah pertemuan kenegaraan tersebut berakhir, Onoda tidak menghindar dan langsung memberikan penjelasan resmi kepada media.

Ia merasa perlu meluruskan situasi yang menyebabkannya gagal hadir tepat waktu dalam agenda penting pemerintahan tersebut.

Onoda mengungkapkan bahwa ada faktor eksternal yang menghambat perjalanannya menuju kantor perdana menteri pagi itu.

Ia terjebak dalam situasi jalan raya yang tidak kondusif akibat adanya insiden kecelakaan yang sangat mendadak.

Kepada para jurnalis, sang menteri menjelaskan situasi pelik yang dialaminya saat berada di dalam kendaraan taksi.

Politisi ini menyatakan dirinya “terjebak dalam kemacetan lalu lintas karena ada kecelakaan mendadak sehingga (kendaraan) tidak bisa bergerak,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa keterlambatannya murni disebabkan oleh faktor di luar kendali pribadinya sebagai pejabat publik.

Insiden ini menjadi refleksi mendalam mengenai betapa sakralnya nilai ketepatan waktu dalam budaya masyarakat di Jepang.

Bagi mereka, keterlambatan sekecil apa pun sering kali dipandang sebagai bentuk perilaku yang kurang sopan.

Kepatuhan terhadap jadwal bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk integritas diri yang dijunjung tinggi oleh setiap individu.

Meskipun Onoda terlambat, banyak warga yang justru memberikan pembelaan dan apresiasi atas etos kerjanya selama ini.

Dukungan mengalir di media sosial X yang menyebutkan bahwa Onoda biasanya selalu hadir jauh sebelum acara dimulai.

Seorang pengguna media sosial memberikan testimoni mengenai kebiasaan positif sang menteri dalam menjalankan tugas sehari-hari.

“Terlambat 5 menit Menteri Keamanan Ekonomi Onoda jelas disebabkan oleh kondisi tak terduga, kemacetan lalu lintas disebabkan oleh kecelakaan di jalan raya. Faktanya, kebiasaannya datang 15 hingga 20 menit lebih awal menunjukkan rasa tanggung jawabnya yang besar,” kata seorang pengguna X.

Komentar tersebut menegaskan bahwa keterlambatan lima menit ini merupakan pengecualian dari gaya hidupnya yang sangat disiplin.

Masyarakat melihat bahwa permintaan maaf yang dilakukan Onoda adalah bentuk kerendahan hati seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Kejadian ini semakin memperkuat citra Jepang sebagai negara yang paling menghargai setiap detik dalam kehidupan profesional.

Kimi Onoda kini menjadi simbol bagaimana seorang pejabat harus bersikap ketika menghadapi sebuah kegagalan kecil.

Tindakan meminta maaf kepada publik dianggap sebagai standar moral yang tinggi bagi para pemangku kebijakan di sana.

Meskipun hanya lima menit, bagi Onoda dan publik Jepang, hal tersebut tetap merupakan sebuah tanggung jawab besar.

Kini video aksinya berlari menuju ruang rapat tetap menjadi pengingat tentang pentingnya dedikasi dalam melayani negara.

Peristiwa ini pun sukses menarik perhatian dunia internasional mengenai standar disiplin yang diterapkan di negeri Sakura.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya