Rusia & China Murka, Korut Sebut Israel ‘Kanker Dunia’ – Prabowo Pilih Jalan Ini!

DEMOCRAZY.ID – Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran hari ini, Sabtu (28/2/2026), langsung memicu reaksi keras dari berbagai penjuru dunia.

Dari Moskow hingga Pyongyang, dari Beijing hingga Jakarta — berikut ini tanggapan lengkap empat negara kunci yang mencerminkan betapa dalamnya guncangan geopolitik global akibat serangan ini.

RUSIA: “Ancaman Trump Tidak Dapat Diterima!”

Moskow bereaksi dengan kecaman keras namun terukur.

Jauh sebelum serangan hari ini meletus, Kementerian Luar Negeri Rusia sudah memperingatkan pada 13 Januari 2026 bahwa “ancaman serangan militer terhadap Iran adalah tindakan yang tidak dapat diterima secara kategoris.”

Juru bicara Kemlu Rusia menyebut segala bentuk “campur tangan subversif eksternal dalam proses politik internal Iran” sebagai provokasi yang berbahaya.

Presiden Vladimir Putin sebelumnya telah melakukan panggilan bersama dengan Presiden China Xi Jinping, di mana keduanya menyerukan de-eskalasi dan menegaskan bahwa “tidak ada solusi militer” untuk sengketa nuklir Iran.

Putin juga menyatakan kekhawatiran mendalam atas potensi bencana nuklir, mengingat lebih dari 200 teknisi Rusia masih bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr yang dibangun Rusia di Iran.

Yang menarik, meski Putin dan Kremlin mengecam serangan ini, para analis dan mantan diplomat memperkirakan Rusia tidak akan turun tangan secara militer.

Boris Bondarev, mantan diplomat Rusia, berterus terang kepada Al Jazeera: “Untuk apa menggoyang pedang jika hasilnya hanya kegagalan reputasi lagi?”

Kremlin, kata Bondarev, terlalu khawatir kehilangan konsesi Trump dalam negosiasi Ukraina jika berani konfrontasi langsung di Iran.

Di lapangan, Rusia sudah mengambil langkah lebih senyap: pada 18 Februari 2026, Rusia bersama China dan Iran menggelar latihan militer gabungan maritim Maritime Security Belt 2026 di Selat Hormuz — sebuah sinyal diplomatik yang jelas kepada Washington, meski bukan konfrontasi militer terbuka.

CHINA: Kecam Keras, tapi Diam-Diam Bantu Intelijen Iran

Beijing mengeluarkan kecaman yang paling keras secara retorika namun, seperti pola sebelumnya saat perang 12 hari Juni 2025, tidak menerjemahkannya ke dalam tindakan militer nyata.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa “China menentang segala pelanggaran terhadap kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran, menentang eskalasi ketegangan, serta sangat khawatir dengan potensi konsekuensi serius dari operasi ini.”

Sebelumnya, China juga dengan tegas menolak sanksi baru PBB terhadap Iran, menyatakan bahwa “negara-negara harus berhenti mendorong sanksi terhadap Iran dan memancing konfrontasi.”

Di balik kata-kata keras itu, China mengambil langkah yang jauh lebih substansial: kapal riset China Da Yang Yi Hao sudah mengintai Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln sejak Januari 2026.

Kapal pelacak luar angkasa maritim Liaowang-1 beserta dua kapal perusak escort juga ditempatkan di Teluk Oman — mengumpulkan intelijen tentang pergerakan militer AS dan Israel.

Menurut National Interest, IRGC Iran juga dilaporkan bernegosiasi dengan produsen satelit China untuk mendapatkan akses citra satelit resolusi tinggi sebagai sistem peringatan dini.

China juga hampir menyelesaikan kesepakatan penjualan rudal jelajah anti-kapal supersonik CM-302 ke Iran pada Februari 2026 — meskipun rudal itu belum akan tiba tepat waktu untuk konflik hari ini.

Analisis Middle East Institute menyimpulkan bahwa China menjalankan strategi “active non-alignment” — mengecam AS dan Israel di podium PBB, sambil diam-diam melindungi kepentingan energi dan Belt and Road Initiative-nya di Iran.

KOREA UTARA: Israel “Entitas Mirip Kanker”, AS “Penyulut Api Perang”

Pyongyang tampil sebagai suara paling vokal dan paling keras di antara keempat negara ini.

Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengeluarkan pernyataan resmi dengan judul yang sangat provokatif: “Kekuatan agresif yang membawa perang baru ke Timur Tengah tidak akan pernah lolos dari tanggung jawab atas penghancuran perdamaian global.”

Pernyataan itu menggambarkan serangan Israel terhadap Iran sebagai “tindakan terorisme negara yang ilegal” dan “kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak dapat diampuni.”

Israel disebut sebagai “entitas mirip kanker bagi perdamaian di Timur Tengah,” sementara Amerika Serikat dituduh “menyulut api perang.”

Pyongyang juga secara eksplisit memperingatkan AS dan negara-negara Eropa agar berhenti “memfanning flames of war.”

Namun di balik retorika keras itu, para analis di 38 North melihat Korea Utara sebenarnya sedang mengambil pelajaran diam-diam dari konflik ini.

Kim Jong Un, kata Newsweek, kemungkinan besar tengah mengkaji dua hal: pertama, urgensi meningkatkan sistem pertahanan udara Korea Utara yang sudah usang, dan kedua, kebutuhan untuk terus memperkuat kapasitas nuklir dan rudal sebagai satu-satunya deterren nyata.

Konflik Iran justru memperkuat keyakinan Pyongyang bahwa tanpa nuklir yang kuat, tidak ada yang akan melindungi mereka — seperti yang terjadi pada Iran.

INDONESIA: Prabowo Pilih Non-Blok, Evakuasi WNI Jadi Prioritas

Indonesia merespons serangan hari ini dengan mengaktifkan posisi diplomatik non-blok yang selama ini menjadi ciri khas kebijakan luar negeri Prabowo Subianto.

Kemlu RI sudah meningkatkan status keamanan KBRI Teheran dari Siaga 2 ke Siaga 1 — status tertinggi yang memberi lampu hijau untuk evakuasi penuh WNI dari Iran.

Juru bicara Kemlu RI, Rolliansyah Soemirat, menegaskan bahwa Indonesia “mengecam keras” serangan berskala besar ke Teheran ini dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan kawasan secara dramatis.

Soemirat menyatakan bahwa semua negara wajib menyelesaikan sengketa secara damai sesuai hukum internasional.

Uniknya, serangan hari ini seolah membuktikan prediksi Prabowo yang sudah disampaikannya jauh-jauh hari, dalam sebuah wawancara pada 6 April 2025 di kediamannya di Hambalang.

Prabowo kala itu menyatakan: “Amerika siap mau nyerang Iran, Rusia mengatakan jangan menyerang Iran.

Kalau menyerang Iran, berhadapan dengan saya, Rusia. What does that mean? Masalah Iran — nanti perang dunia ketiga.” Pernyataan itu kini viral kembali.

Dalam sikapnya hari ini, Wamensesneg Juri Ardiantoro menegaskan posisi resmi pemerintah: “Posisi Indonesia adalah posisi yang menginginkan bahwa perdamaian jauh lebih baik ketimbang perang yang membawa korban di kedua belah pihak.”

Presiden Prabowo disebut sedang memantau situasi secara langsung dan telah memerintahkan seluruh jajarannya untuk mengantisipasi evakuasi WNI jika diperlukan.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah memperingatkan bahwa dampak konflik ini bisa langsung menghantam ekonomi Indonesia — terutama lewat lonjakan harga minyak dunia dan kepanikan pasar energi.

“Ini bukan sekadar konflik dua negara. Ini pertarungan pengaruh global,” kata Amir kepada wartawan, Kamis (26/2/2026), dua hari sebelum serangan ini meletus.

Sumber: Seruji

Artikel terkait lainnya