‘Politisi Penjilat Racun Bagi Generasi Muda’

‘Politisi Penjilat Racun Bagi Generasi Muda’

APA saja yang datang dari Bahlil selalu menarik perhatian. Entah itu ucapannya, tingkahnya, dan kebijakannya. Gerakannya yang lincah karena bodynya ramping semakin melengkapi rasa penasaran publik.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memang menjadi perhatian sejak menjabat sebagai Kepala BKPM.

Deretan jabatan bergengsi ia raih dengan cepat dan mulus, mulai dari Ketua HIPMI, Ketua Umum Golkar hingga Ketua Dewan Pembina Masjid Dunia.

Bahlil pawai bermain kata-kata. Namun sayang, sering kata-katanya berlebihan dan naif. Yang paling sering adalah memuja-muja atasan.

Kini, ia kembali menunjukkan kebiasaannya dalam menjilat kekuasaan.

Setelah sebelumnya ia menyebut Presiden Jokowi sebagai “Raja Jawa” dan meminta masyarakat untuk hati-hati, kini ia mengalihkan pujiannya kepada Presiden Prabowo Subianto, menyebutnya sebagai “penguasa laut, darat, dan udara” yang tidak bisa dianggap main-main.

Bahlil menempatkan diri sebagai anak manis yang patuh siap dengan segala puji bagi junjungannya.

Pertanyaannya, apakah Bahlil benar-benar memiliki keyakinan yang kuat terhadap sosok-sosok yang ia puji, ataukah ia hanya ingin mencari keuntungan politik? Sangat mungkin Bahlil hanya ingin mencari keuntungan politik.

Bahlil telah menunjukkan dirinya sebagai politisi yang tidak memiliki prinsip dan hanya ingin mencari kekuasaan.

Ia siap menjilat siapa saja yang bisa membantu memuluskan mencapai tujuannya, tanpa memedulikan nilai-nilai dan prinsip serta kepatutan di tengah masyarakat.

Strategi Bahlil tampaknya berhasil. Sederet tindakannya yang tidak patut, keliru dan bahkan melanggar hukum, nyatanya tidak bisa membawanya ke pengadilan.

Sebut saja beberapa tindakan kontroversial Bahlil di antaranya:

Penghapusan pengecer gas 3 kg yang nyata-nyata akan merugikan pedagang kecil. Sebuah kebijakan yang tidak adil, tetapi Bahlil tak diberi sanksi.

Lalu ada kasus gelar Doktor kilat, di mana Bahlil menyelesaikan program doktornya dalam waktu 1 tahun 8 bulan, yang menimbulkan kecurigaan tentang kualitas akademiknya.

Masih dalam dunia pendidikan, Bahlil diduga melakukan plagiarisme Disertasi dengan tingkat kesamaan hingga 95 persen.

Dalam mengembangkan tugas sebagai Menteri, Bahlil diduga melakukan jual-beli izin tambang di berbagai wilayah termasuk di Raja Ampat, Papua.

Bukan Bahlil namanya kalau tidak memproduksi kontroversi. Beredar foto Bahlil dengan minuman keras (miras) seharga Rp 38 juta yang viral di media sosial.

Dan masih banyak lagi tontonan menarik sekaligus memiriskan tentang sosok Bahlil.

Politisi penjilat, seperti Bahlil, tampaknya telah menjadi fenomena yang lazim di Indonesia. Ada banyak Bahlil Bahlil lain yang sejenis.

Mereka hanya mengandalkan kesetiaan dan puja puji kepada kekuasaan, tanpa memedulikan moralitas, harga diri, dan kejujuran.

Mereka adalah contoh buruk bagi generasi muda, yang sedang mencari teladan dan inspirasi.

Politisi yang baik adalah mereka yang bisa memberi contoh tentang kebaikan, keteguhan, dan apa adanya.

Mereka adalah orang-orang yang berani berbicara kebenaran, yang tidak takut untuk mengambil risiko, dan yang selalu berusaha untuk melakukan yang benar.

Namun, politisi penjilat hanya akan merusak generasi muda. Mereka akan mengajarkan bahwa kesetiaan dan puja puji adalah kunci untuk mencapai kesuksesan, bukan kemampuan.

Mereka akan mengajarkan bahwa harga diri dan moralitas dapat dikompromikan demi kekuasaan.

Generasi muda Indonesia membutuhkan teladan yang baik, bukan politisi penjilat yang suka jalan pintas.

Kita harus memilih politisi yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, bukan politisi yang hanya ingin membawa diri mereka sendiri ke puncak kekuasaan.

Kita harus waspada terhadap politisi penjilat seperti itu. Kita harus berani berkata tidak pada politisi seperti Bahlil, yang hanya ingin mencari keuntungan politik dan tidak memiliki komitmen terhadap demokrasi, kebenaran, dan keadilan. ***

Artikel terkait lainnya