DEMOCRAZY.ID – Senin malam, 12 Oktober 2026, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, masih diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan.
Warga marah. Mereka lantas mendemo Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang berada di dalam hotel mewah.
“Sudah tiga bulan kami begini pak. Tidak ada penanganan yang maksimal. Karhutla dan bencana asap juga tidak dinyatakan bencana nasional. Kalau tidak bisa jadi menteri, mundur saja,” kata Aris, warga setempat, melalui pelantang suara.
Aris mengatakan masyarakat Kalteng kecewa terhadap pemerintah karena tak kunjung menangani karhutla secara cepat dan tepat.
Tak ada bukti konkret asap mulai berpendar.
Baginya, karhutla tak hanya urusan ada lahan yang terbakar, tapi ancaman terhadap lingkungan, kesehatan, perekonomian, serta nyawa mereka.
“Artinya, Raja Juli sebagai Menteri Kehutanan sudah gagal,” tegasnya.
Woy.. Poni Pe’a @RajaJuliAntoni, bukannya fokus ngatasin karhutla, malah ngumpet di hotel, Goblok amat lu..! https://t.co/eZgaJf08ze
— Drs. Ir. H. Solekhan, SE, SH, ST, MT, M.Si, MH, M. (@__PASMANTAP) October 14, 2026
Selasa 13 Oktober siang, Raja Juli masih kebal dari kritik masyarakat.
Ia tetap melakukan kunjungan kerja ke lokasi karhutla di Taman Nasional Sebangau, Jalan Tjilik Riwut Km 23, Palangka Raya.
Ia sempat menyatakan tetap bakal bekerja meski semalam didemo masyarakat untuk mundur karena telah gagal mengatasi karhutla guna menyibak kabut asap yang sudah berlangsung selama 3 bulan terakhir.
“Pemerintah pusat punya empati mendalam kepada masyarakat yang tiga bulan terakhir terpapar asap. Ini jadi motivasi kami untuk bekerja,” kata Raja Juli, yang dulu sempat terpotret asyik main kartu domino bersama pengusaha Aziz Welang, eks tersangka kasus pembalakan liar.
Selang sehari, Rabu 14 Oktober malam, seorang anak berusia 9 tahun patah tulang tangan dan kaki akibat kecelakaan lalu lintas di persimpangan Jalan Cempaka, Kota Palangka Raya.
Asap mengurangi jarak pandang sang kakak yang memboncengnya memakai sepeda motor.
Hari yang sama, sejumlah rekaman video yang bertebaran di media-media sosial merekam langit kota itu berwarna oranye kehitam-hitamanekon karena digelayuti asap kebakaran hutan.
Jarak pandang warga semakin berkurang.
“Lihat asapnya. Blok depan rumah kami sudah tidak kelihatan. Ini masih di Bumi? Astaghfirullah. Matahari tak ada sekali,” kata perekam video itu, dikutip hari Kamis (15/10/2026).
Tiga bulan bukan waktu yang pendek.
Kehidupan warga Palangka Raya harus tetap berjalan meski harus menghidu asap karhutla yang berisi partikel-partikel mematikan.
“Saya punya anak dan istri. Kalau tidak buka warung, kami tidak makan. Takut juga sebenarnya karena asap ini sangat menyesakkan,” kata seorang pedagang warung di sana.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melansir data konsentrasi partikel terhirup (PM2.5) di Palangka Raya, Kamis pagi, mencapai 844,6 µg/m³ (mikogram per meter kubik).
Tentu saja, angka itu berada jauh di atas batas aman sehingga membahayakan, bahkan mematikan bagi manusia serta hewan.
Sampai hari ini, masih terdapat 7.934 lokasi titik karhutla di Kalteng.
Kesehatan masyarkat terus memburuk.
Pasien infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA semakin banyak.
Hingga Rabu kemarin, ada 101 kasus ISPA yang tercatat pada 8 puskesmas.
Heri Pauzi, Kabid PK Badan Penanggulangan Bencana Daerah Palangka Raya, mewanti-wanti agar masyarakat yang tetap beraktifitas selalu memakai masker.
“Tapi kalau tidak perlu, jangan berada di luar rumah. Kualitas udara masih berada di level berbahaya untuk kesehatan. Bila tedapat gejala sesak napas dan lainnya akibat asap, segera periksa ke puskesmas,” kata dia.