Selat Hormuz Diblokade Iran, AS Mulai Incar Selat Malaka? Kapal Perang Trump Lintasi Perairan RI

DEMOCRAZY.ID – Setelah konflik di Timur Tengah membuat jalur penting seperti Selat Hormuz terganggu, perhatian dunia perlahan beralih ke jalur lain yang tak kalah vital, yaitu Selat Malaka.

Hal ini pun menimbulkan rasa penasaran, jika tak bisa lewati Selat Hormuz, apakah Amerika Serikat mulai mengincar Selat Malaka?

Isu ini semakin disorot setelah kapal perang AS USS Miguel Keith dilaporkan melintas di perairan Indonesia di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Lalu, benarkah ini bagian dari strategi besar AS untuk menguasai jalur perdagangan dunia? Berikut ulasan lengkapnya.

Tak Bisa Lewati Selat Hormuz, Fokus Bergeser ke Selat Malaka?

Ketegangan di Selat Hormuz membuat jalur distribusi energi global tidak lagi stabil. Amerika Serikat diketahui meningkatkan tekanan terhadap aktivitas maritim yang terkait Iran di kawasan tersebut.

Kondisi ini memicu perhatian baru terhadap jalur lain yang tak kalah penting, yaitu Selat Malaka.

Di saat yang sama, muncul perkembangan baru berupa kerja sama pertahanan antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Mengutip The Daily Star, kesepakatan ini memberikan akses operasional yang lebih luas bagi pesawat militer AS di wilayah udara Indonesia.

Secara resmi, kerja sama ini disebut sebagai upaya memperkuat hubungan pertahanan.

Namun, banyak pihak menilai ada dampak strategis yang lebih luas.

Dengan akses tersebut, Amerika Serikat berpotensi meningkatkan kemampuan pengawasan dan jangkauan operasionalnya di sekitar Selat Malaka.

Selat Malaka sendiri memiliki peran yang sangat besar. Tidak hanya untuk distribusi minyak, tetapi juga perdagangan barang seperti elektronik, mesin, dan komponen industri.

Jalur ini menjadi andalan banyak negara Asia, terutama China, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari rute ini.

Inilah yang kemudian memunculkan dugaan bahwa fokus kekuatan besar, termasuk Amerika Serikat, mulai bergeser ke kawasan Indo-Pasifik, termasuk Selat Malaka.

Kapal Perang AS Terdeteksi di Perairan Indonesia

Di tengah situasi tersebut, kapal perang Amerika Serikat, USS Miguel Keith, terdeteksi melintas di perairan Indonesia, tepatnya di sekitar timur Belawan, Sumatra Utara.

Kapal ini terpantau bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 13 knot.

Kemunculannya pun langsung menarik perhatian publik, terutama karena waktunya bertepatan dengan meningkatnya ketegangan global.

Banyak yang kemudian mengaitkan kehadiran kapal ini dengan operasi militer Amerika Serikat yang disebut-sebut sedang memburu kapal-kapal yang terafiliasi dengan Iran, bahkan hingga ke kawasan Indo-Pasifik.

Pernyataan dari pejabat militer AS juga memperkuat dugaan tersebut.

Mereka menyebut bahwa operasi pengawasan dan pencegahan akan dilakukan hingga ke wilayah yang jauh dari Timur Tengah, termasuk kawasan strategis seperti Selat Malaka.

Penjelasan Resmi TNI AL

Menanggapi kekhawatiran yang berkembang, TNI Angkatan Laut memberikan penjelasan resmi. Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Tunggul, menegaskan bahwa keberadaan kapal perang asing tersebut masih dalam batas yang diperbolehkan.

Menurutnya, Selat Malaka merupakan jalur pelayaran internasional.

Oleh karena itu, semua kapal, termasuk kapal perang, memiliki hak untuk melintas selama memenuhi ketentuan yang berlaku.

“Hak kapal termasuk kapal perang yang melintas di perairan tersebut merupakan hak lintas transit pada selat yang digunakan untuk pelayaran internasional,” ujar Tunggul, dikutip Senin (20/4/2026).

Hak lintas transit diatur dalam UNCLOS 1982. Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa kapal boleh melintas selama dilakukan secara langsung, terus-menerus, dan tidak melakukan aktivitas lain di luar tujuan perjalanan.

Selain itu, kapal yang melintas juga wajib mematuhi berbagai aturan internasional, seperti keselamatan pelayaran dan pencegahan pencemaran laut.

Yang terpenting, kapal asing tetap harus menghormati kedaulatan Indonesia sebagai negara yang wilayahnya dilintasi.

Demikianlah penjelasan isu Selat Hormuz dan Selat Malaka yang kini disorot dunia.

Meski TNI AL memastikan tak ada pelanggaran, situasinya tetap perlu diwaspadai karena posisi Malaka yang strategis.

Sumber: Suara

Artikel terkait lainnya