DEMOCRAZY.ID – Inilah profil beserta rekam jejak Ismail A Jalil alias Ayahwa, Bupati Aceh Utara yang disorot usai menyindir Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terkait penanganan bencana banjir di wilayahnya.
Ayahwa menyinggung sikap pemerintah pusat yang dinilainya “seperti tutup mata” terhadap penderitaan masyarakat Aceh Utara.
Kritikan ini diutarakannya saat rapat resmi bersama DPR RI dan Satgas Pemulihan Pasca Bencana.
Pernyataan keras itu langsung menyita perhatian publik, terlebih Ayahwa menyebut wilayahnya luput dari perhatian karena minimnya akses komunikasi hingga tak bisa viral di media sosial.
Di balik kritik tajam tersebut, publik pun penasaran dengan sosok Ayahwa, mulai dari rekam jejak perjuangannya sejak era konflik GAM, perjalanan politiknya hingga akhirnya menjabat Bupati Aceh Utara, sampai total harta kekayaannya yang tembus miliaran rupiah.
Berikut profil lengkap, perjalanan karier politik, hingga rincian kekayaan Bupati Aceh Utara yang berani menyindir Presiden Prabowo di tengah rapat nasional.
Sindiran tersebut ia sampaikan saat mengikuti rapat koordinasi pimpinan DPR RI bersama Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Pasca Bencana bersama kementerian dan lembaga terkait serta kepala daerah terdampak di Aceh, Selasa (30/12/2025).
Menurut Bupati Ayahwa, selama ini Presiden Prabowo hanya mengunjungi beberapa daerah, seperti Aceh Tamiang dan Aceh Tengah.
“Mungkin di Aceh Utara selama ini Pak Presiden selalu ke Tamiang dan Takengon Aceh Tengah dan juga hadir di Pidie Jaya. Termasuk Wapres,” kata Bupati Ayahwa dalam rapat tersebut yang disiarkan melalui YouTube DPR RI, Senin (29/12/2025).
“Lagi kita undang,” kata Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, yang memimpin rapat tersebut.
Bupati Ayahwa menyayangkan absennya Presiden Prabowo mengunjungi daerahnya. Sebab, Aceh Utara juga termasuk kabupaten yang terdampak.
“Tapi di Aceh Utara kayaknya kek mana saya rasa, apa enggak tahu ada banjir,” ujarnya.
Bupati Ayahwa mengakui, wilayahnya tidak bisa diviralkan karena akses komunikasi terputus total.
Di awal bencana, ia hanya bisa melihat rumah, tempat ibadah, hingga warganya hanyut disapu banjir.
“Di Aceh Utara 27 kecamatan yang terdampak 25 kecamatan. Kami sinyal tidak ada. Telkom mati. Makanya tidak viral.”
“Kami hanya bisa melihat di atap meunasah. Tapi kami tidak bisa memviralkan,” tambahnya.
Bupati Ayahwa turut menyampaikan, dirinya pernah nangis-nangis ke demi bisa mendapatkan bantuan pesawat.
Sarana transportasi udara itu sangat diperlukan menyalurkan bantuan logistik karena akses di Aceh Utara terputus.
“Saya pernah menangis-nangis. minta pesawat untuk mengirim logistik kepada tempat-tempat yang terisolir,” katanya.
Menurut Bupati Ayahwa sendiri, bencana kali ini jauh lebih besar dampaknya daripada tsunami Aceh 2004.
Menurutnya, tsunami hanya terdampak di wilayah pesisir saja.
“Maka saya bilang bencana di Aceh Utara lebih daripada tsunami. Karena dari hulu sampai ke hilir, rumah masyarakat semua hanyut,” akunya.
Di akhir pernyataannya, Bupati Ayahwa menyindir pemerintah pusat yang tidak hadir di Aceh Utara.
“Pusat kayaknya tutup mata. Akibat kami tidak ada sinyal HP dan mati lampu. Makanya tidak viral. Mungkin itu alasan (pemerintah pusat) tidak hadir,” kata dia.
Terlepas dari berita di atas, siapa sosok Bupati Ayahwa?
Dirangkum dari acehutara.go.id, Ayahwa lahir di Desa Matang Serdang, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara, pada 12 Juni 1979 silam. Ia kini telah berusia 46 tahun.
Ayahwa menghabiskan masa kecil di tanah kelahirannya.
Dirinya menempuh pendidikan dasarnya di SD Negeri 15 Matang Serdang Tanah Jambo Aye (1986-1992).
Lalu lanjut di SMP Negeri 2 Tanah Jambo Aye (1992-1995).
Ayahwa kemudian memperdalam ilmu agama di Pondok Pendidikan Islam Darul Ulum Tanah Merah Kabupaten Bireuen (2001-2004).
Sedangkan di tingkat perguruan tinggi, dirinya memilih merantau ke Jawa.
Ia berkuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Budi Bakti (STIM) Bekasi (2006-2010).
Pada 2022, ia kembali ke Bireuen, Aceh dengan berkuliah di Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI).
Ayahwa lulus pada 2024 dengan titel Magister Manajemen.
Sejak masih muda, Ayahwa sudah ikut berperan aktif di organisasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Keluar masuk hutan dalam perang gerilya menjadi makanan sehari-harinya.
Karena sepak terjangnya, Ayahwa kemudian dipercaya sebagai Komandan Operasi Daerah IV Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 1996.
Singkat cerita, GAM sepakat berdamai dengan pemerintahan Indonesia diwujudkan melalui Kesepakatan Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Finlandia.
Setelah damai, seluruh aktivitas militer Ayahwa bersama GAM ditinggalkan.
Dia pun beralih dalam “perjuangan” politik dan menjadi anggota DPRD Aceh Utara tahun 2009.
Dalam Pemilihan Umum 2014, Ayahwa dipercaya Partai Aceh menjadi Ketua DPRD Aceh Utara.
Sementara itu, pada Pemilu 2019, Ayahwa melenggang menjadi anggota DPR Provinsi Aceh dari Partai Aceh.
Ia kembali terpilih kembali menjadi anggota DPR Provinsi Aceh di periode selanjutnya.
Ayahwa kemudian memutuskan maju di Pilkada 2024 dengan menggandeng Tarmizi.
Keduanya diujung PKB, Gerindra, PDIP, Golkar, NasDem, PKS, PAN, Demokrat, PSI, PPP, Partai Nanggroe Aceh, Partai Aceh, Partai Adil Sejahtera Aceh, dan Partai Sira.
Ayahwa-Tarmizi melawan kotak kosong.
Pada akhirnya, keduanya menang dengan perolehan suara 357.738 suara atau 97 persen.
Keduanya resmi menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Utara terpilih periode 2025-2030 setelah dilantik dan diambil sumpah oleh Gubernur Aceh, H Muzakir Manaf (Mualem) dalam ruang Sidang Paripurna DPRK Aceh Utara, yang dipimpin ketua ketua DPRK Arafat Ali, Senin (17/2/2025).
Berdasarkan laporan LHKPN KPK, Ayahwa mencatatkan harta per 31 Desember 2023.
Dalam kurun waktu 2022 ke 2024, harta kekayaan Ayahwa baik hingga total Rp 5 miliar.
Berikut rincian kekayaan Ayahwa:
A. Tanah dan Bangunan Rp. 2.828.000.000
1. Tanah Dan Bangunan Seluas 691.25 M2/691.25 M2 Di Kab / Kota Aceh Utara, Hasil Sendiri Rp. 530.000.000
2. Tanah Dan Bangunan Seluas 5 M2/5 M2 Di Kab / Kota Aceh Utara, Hibah Tanpa Akta Rp. 1.550.000.000
3. Tanah Dan Bangunan Seluas 1000 M2/260 M2 Di Kab / Kota Aceh Utara, Hibah Tanpa Akta Rp. 550.000.000
4. Tanah Dan Bangunan Seluas 26.75 M2/115.9 M2 Di Kab / Kota Aceh Utara, Hasil Sendiri Rp. 198.000.000
B. Alat Transportasi Dan Mesin Rp. 2.045.000.009
1. Lainnya, Hitachi Zx210m(Forest) Tahun 2004, Hasil Sendiri Rp. 250.000.000
2. Mobil, Toyota Fortuner Tahun 2012, Hasil Sendiri Rp. 220.000.000
3. Mobil, Honda Brio Rs Tahun 2019, Hasil Sendiri Rp. 150.000.000
4. Mobil, Honda CRV Tahun 2012, Hasil Sendiri Rp. 150.000.000
5. Mobil, Honda H/RV Tahun 2021, Hasil Sendiri Rp. 275.000.009
6. Mobil, Lexus Rx200t Tahun 2017, Hasil Sendiri Rp. 1.000.000.000
C. Harga Bergerak Lainnya Rp. 11.000.000
D. Surat Berharga Rp. —-
E. Kas Dan Setara Kas Rp. 400.000.000
F. Harta Lainnya Rp. —-
Sub Total Rp. 5.284.000.009
Utang Rp. —-
Total Harta Kekayaan Rp. 5.284.000.009
Sumber: Tribun