DEMOCRAZY.ID – Polri telah menetapkan Kepala Staf Kepresidenan Listyo Sigit Prabowo (LSP) sebagai tersangka kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Sigit ditetapkan sebagai tersangka bersama dua jenderal lain, yakni Kadivkum Polri Irjen Ahrie Sonta Nasution dan Irjen Eko Hadi Santoso.
Ketiga tersangka diduga melakukan penyadapan terhadap Prabowo, tokoh politik, media, hingga pengusaha secara ilegal sejak 2025.
Kasus ini terungkap pada Oktober 2026.
Sebelum menjadi tersangka, ketiganya pernah menjabat sejumlah posisi penting di Polri.
Berikut profil ketiganya:
Sigit lahir di Ambon, Maluku, pada 5 Mei 1969.
Sigit lulus dari Akpol pada 1991.
Dia pernah mengemban sejumlah jabatan di Polri, antara lain Kapolres Pati pada 2009, Wakapolrestabes Semarang pada 2010, Kapolresta Surakarta (Solo) pada 2011, Kapolda Banten pada 2016, Kadiv Propam Polri pada 2018, Kabareskrim Polri pada 2019, hingga akhirnya dipilih sebagai Kapolri pada 2021.
Sigit juga pernah menjadi ajudan Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi pada 2014 hingga 2016.
Selama bertugas di Polri, Sigit pernah menangani kasus bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS), Kepunton, Solo, Jawa Tengah, saat menjabat Kapolresta Solo.
Saat menjadi Kabareskrim, dia menangkap terpidana kasus Bank Bali Djoko Tjandra yang jadi buron selama 11 tahun.
Sigit menjabat sebagai Kapolri sejak 2021 hingga 2026.
Sigit kerap mendapat pujian dari Presiden Prabowo karena Polri ikut dalam berbagai program pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis lewat SPPG Polri hingga penanaman jagung.
Dia kemudian digantikan oleh Jenderal Suyudi Ario Seto pada 1 Oktober 2026.
Pada hari yang sama, Sigit dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
Sigit juga dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna.
Penganugerahan itu diberikan langsung oleh Prabowo.
Ahrie Sonta lahir di Bandung pada 1981.
Dia lulus Akpol pada 2002.
Ahrie kemudian dipercaya mengemban sejumlah jabatan di Polri.
Dia pernah menjabat Kanit di Ditresnarkoba Polda Metro Jaya pada 2018.
Dalam dua bulan, dia membongkar peredaran 100 kg narkoba.
Dia juga terlibat dalam operasi membongkar sindikat Taiwan dengan barang bukti 1,6 ton narkoba.
Ahrie pernah menjabat sebagai Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok pada 2020.
Ahrie juga terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.
Nama Ahrie makin dikenal karena menjadi satu-satunya perwira menengah Polri yang mendampingi Listyo Sigit Prabowo saat menjalani uji kelayakan calon Kapolri di DPR pada 2021.
Sigit kemudian mengangkat Ahrie sebagai sekretaris pribadi (sekpri).
Ahrie juga dikenal netizen Indonesia karena sering merespons berbagai keluhan lewat akun media sosialnya.
Ahrie Sonta menjadi ajudan Presiden Prabowo dari Polri pada 2024.
Pangkatnya naik jadi kombes.
Pangkatnya naik lagi jadi brigjen pada Oktober 2025.
Pangkatnya naik menjadi irjen dan kemudian dipercaya oleh Kapolri Jenderal Suyudi menjadi Kadivkum Polri sejak Oktober 2026.
Irjen Eko Hadi merupakan Widyaiswara Kepolisian Utama TK1 Sespim Lemdiklat Polri.
Eko merupakan perwira tinggi lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) pada 1999.
Dia pernah menduduki berbagai jabatan strategis.
Nama Eko melejit saat dipercaya oleh Jenderal Sigit sebagai Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri pada 2025.
Eko terlibat dalam pengungkapan berbagai kasus peredaran narkoba yang beberapa di antaranya menyeret personel Polri, antara lain kasus yang menjerat mantan Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro sebagai tersangka narkoba.
Pada 2026, Eko dan jajarannya membongkar peredaran sabu, ganja, dan etomidate dalam paket bernilai ratusan juta rupiah.
Eko juga membongkar kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam perkara jaringan narkoba Ko Erwin.