Guru Besar UGM Lempar Isu Panas: Presiden Yang Terpilih Secara Curang Pasti Akan Insecure, Sindir Prabowo?

DEMOCRAZY.ID – Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Prof Uceng, blak-blakan mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam videonya yang beredar di X, ia menguraikan pandangannya mengenai arah kebijakan pemerintah yang dikaitkan dengan kondisi politik pasca-Pemilu.

Prof Uceng menyampaikan pandangan tersebut saat menjelaskan tesis yang menurutnya juga menjadi benang merah dalam film dokumenter Dirty Vote 2.

Dalam penjelasannya, Prof Uceng menyebut pemimpin yang terpilih secara curang akan memiliki rasa tidak aman atau insecure.

“Karena insecure maka dia akan melakukan apapun untuk merebut hati publik, merebut yang namanya pundi-pundi uang, merebut yang namanya kekuasaan senjata,” ujar Prof Uceng pada Kamis (2/7/2026).

Ia kemudian mengaitkan pandangannya dengan sejumlah kebijakan pemerintah.

“Makanya dia akan entertain tentara dan polisi, dia akan mencari pendanaan untuk mereka, itulah sebabnya ada yang namanya MBG dan Koperasi Merah Putih,” tukasnya.

Prof Uceng juga menyinggung penguatan institusi militer yang menurutnya akan terus dilakukan.

“Tentara dia akan ditaruh di semua provinsi, kodam akan dibangun di semua provinsi, ditambah pasukan sampai 1 juta menuju ke 2029,” Uceng menuturkan.

“Komcad-komcad dibangun, bahkan diambil dari bekas tahanan, napi, akan diambil dari napi untuk memperkuat sebagai pasukan,” tambahnya.

Ia melanjutkan, berbagai langkah tersebut merupakan konsekuensi dari kondisi yang disebutnya sebagai rasa tidak aman.

“Nah karena insecure itu, dia memaksa dirinya untuk memperkuat dari segala arah,” imbuhnya.

Kaitkan dengan Dirty Vote 2

Prof Uceng mengatakan pola tersebut menjadi salah satu pembahasan yang diangkat dalam film dokumenter yang disutradarai Dandhy Laksono.

“Nah teman-teman bisa lihat itu, bagian pertama kita membangun logika itu di film Dirty Vote 2,” timpalnya.

Ia menyebut tesis tersebut dibangun berdasarkan pembacaan dari berbagai perspektif.

“Nah tapi maksud saya begini. Teman-teman kalau lihat itu, nyambung nih sebenarnya. Kami punya tesis yang sama,” bebernya.

“Dengan pembacaan apapun, sejarah, konteks sosiologi, politik, dan lain sebagainya, kita melihat ada kondisi yang sama,” sambung dia.

Menurutnya, kondisi tersebut berujung pada upaya memperkuat kekuasaan melalui berbagai instrumen.

“Dia akan bangun dengan cara memperkuat yang namanya otot. Ototnya itu adalah senjata, dia memperkuat otaknya, konsolidasi politiknya akan dia buat untuk menyokong itu. Makanya semua partai dipeluk, semuanya mendukung itu,” terangnya.

Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya dukungan pendanaan dalam membangun kekuatan politik.

“Dan yang ketiga dia ongkos. Dia akan bangun ongkos yang bisa membiayai otak dan otot itu tadi,” tandasnya.

Prof Uceng bilang, konsep tersebut kemudian dirangkum dalam judul film dokumenter yang ia sebut.

“Makanya kenapa judul film Dirty Vote 2 itu kami judulkan sebagai 3 O, otak, otot, dan ongkos,” kuncinya.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya