DEMOCRAZY.ID – Kelompok peretas yang dikaitkan dengan Iran mengancam akan melancarkan serangan siber terhadap ajang FIFA World Cup 2026 yang mulai digelar pekan ini di Amerika Serikat.
Ancaman tersebut langsung memicu kekhawatiran internasional terkait keamanan digital dan potensi gangguan terhadap salah satu turnamen olahraga terbesar di dunia.
Laporan mengenai ancaman pertama kali diungkap oleh SITE Intelligence Group, organisasi yang selama ini memantau aktivitas kelompok jihadis dan ancaman digital global.
Dalam laporannya, SITE menyebut kelompok hacker bernama Handala mengklaim telah meretas sistem drone milik FBI dan memperoleh akses terhadap berbagai data pengawasan.
Kelompok tersebut mengaku telah memantau rekaman dari drone FBI selama berbulan-bulan, termasuk data yang disebut berkaitan dengan sistem pengenalan wajah dan pemindaian plat nomor kendaraan yang digunakan dalam operasi antiterorisme di Amerika Serikat.
Tak hanya mengklaim berhasil membobol sistem pengawasan, kelompok itu juga melontarkan ancaman langsung terhadap keamanan Piala Dunia.
Dalam pernyataan yang dikutip The Straits Times, Handala meminta pihak keamanan memperketat pengamanan turnamen Piala Dunia 2026 yang akan digelar di 16 kota di tiga negara Amerika Utara, karena mereka mengaku tidak menyukai beberapa tim peserta.
“Sebaiknya perketat keamanan Piala Dunia Anda. Kami sama sekali tidak menyukai beberapa tim tersebut,” tulis kelompok itu.
Lebih lanjut, mereka juga mengancam bahwa drone FPV atau first-person view dapat muncul di mana saja dan bahkan menyinggung kemungkinan serangan terhadap bus tim peserta turnamen.
Ancaman tersebut menjadi perhatian serius karena pemerintah Amerika Serikat memang tengah memperketat sistem keamanan Piala Dunia 2026.
Meski ancaman tersebut menimbulkan kekhawatiran, SITE Intelligence Group menyebut sebagian klaim Handala masih diragukan.
SITE mengungkap bahwa salah satu video yang diklaim sebagai hasil peretasan drone FBI ternyata merupakan materi promosi teknologi yang diproduksi sebuah platform perangkat lunak pada Desember 2024.
Video tersebut sebelumnya digunakan untuk menunjukkan bagaimana teknologi drone dipakai oleh kepolisian AS dalam survei kerusakan tornado, bukan hasil pembobolan sistem keamanan FBI.
Namun demikian, aparat keamanan AS tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat kelompok tersebut sebelumnya juga pernah mengklaim meretas akun email pejabat tinggi FBI.
Otoritas AS diketahui telah menerapkan zona larangan drone di sekitar stadion, pusat keramaian suporter, dan area fan zone guna mengantisipasi ancaman udara maupun potensi sabotase teknologi selama kompetisi berlangsung.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari sistem keamanan berlapis guna mencegah ancaman udara maupun potensi serangan siber selama kompetisi berlangsung.
Departemen Kehakiman AS juga sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan meningkatnya serangan siber dari kelompok yang terkait Iran setelah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Ancaman yang dilontarkan kelompok hacker Handala ini bukan kali pertama menjadi perhatian aparat keamanan Amerika Serikat.
Sebelumnya, pada Maret lalu, kelompok yang dikaitkan dengan Iran tersebut juga mengklaim berhasil meretas akun email Direktur FBI, Kash Patel.
Dalam aksinya saat itu, Handala disebut menyebarkan sejumlah foto pribadi dan dokumen lain ke internet.
Kasus tersebut sempat menghebohkan publik Amerika Serikat dan memicu investigasi lebih lanjut terkait aktivitas siber kelompok tersebut.
Sejak saat itu, pemerintah AS terus meningkatkan upaya pencarian terhadap anggota jaringan Handala.
Bahkan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menawarkan hadiah hingga 10 juta dolar AS bagi siapa saja yang dapat memberikan informasi untuk membantu mengidentifikasi maupun menangkap anggota kelompok hacker tersebut.
Kasus ini kembali menunjukkan bahwa ancaman terhadap event internasional kini tidak lagi hanya berasal dari serangan fisik, tetapi juga dari perang siber dan perkembangan teknologi digital modern.
Penggunaan drone, sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan atau AI, hingga ancaman peretasan kini menjadi tantangan baru dalam sistem keamanan global.
Situasi tersebut menjadi perhatian serius menjelang berlangsungnya FIFA World Cup di Amerika Serikat.
Aparat keamanan internasional kini menghadapi tekanan besar untuk memastikan turnamen olahraga terbesar dunia itu dapat berlangsung aman di tengah meningkatnya ancaman serangan siber, sabotase digital, dan ketegangan geopolitik global yang terus memanas.
Sumber: Tribun