DEMOCRAZY.ID – Seorang anggota TNI AL asal Kabupaten Bangkalan, Madura, Ghofirul Kasyfi (22), ditemukan meninggal dunia di kapal KRI dr Radjiman Wedyodiningrat pada 26 April 2026.
Kini, pihak keluarga secara resmi menuntut proses autopsi untuk mengungkap berbagai kejanggalan serta mencari kejelasan, atas penyebab kematian korban, yang dinilai masih simpang siur oleh pihak keluarga.
Keluarga pun mendesak transparansi dan pengusutan tuntas, menyusul adanya temuan luka lebam serta riwayat pengakuan kekerasan yang sempat disampaikan almarhum sebelum wafat.
Mendiang Ghofirul Kasyfi, prajurit TNI AL berpangkat Kelas 2, memulai pengabdiannya setelah dilantik sebagai Tamtama di Surabaya pada Desember 2025.
Sejak Februari 2026, Ghofirul mulai berdinas dengan penempatan di Jakarta pada KRI dr Radjiman Wedyodiningrat untuk menjalani masa orientasi atau pengenalan lingkungan dinas selama tiga bulan.
Mahbub Madani (55), ayah kandung korban, mengenang keberangkatan anak sulungnya tersebut dengan rasa bangga.
“Bahkan dia merasa bangga, berangkatnya bangga diterima di Angkatan Laut untuk bisa mengabdi kepada negara” ungkap Mahbub setelah tahlilan di rumah duka Jalan Kartini 12, Kelurahan Kraton, Bangkalan, Minggu (3/5/2026) malam.
“Tahu-tahunya pulang tinggal mayatnya saja, dia berangkat ke Jakarta dengan gagah meskipun saya sendiri berat melepas dia, namanya juga anak,” imbuhnya.
Selama masa orientasi, Ghofirul sering mengeluh kepada orang tuanya mengenai perlakuan tidak wajar yang ia terima di dalam kapal.
Ghofirul mengaku sering mendapatkan kekerasan dari senior di dalam kamar, bahkan hanya diberi waktu tidur satu jam dalam sehari.
“Tapi kurang lebih satu bulan kemarin dia menelepon dan bilang, ‘papa saya tidak kuat di sini, saya disiksa’,” tutur Mahbub menirukan rintihan anaknya.
Aduan tersebut terus berlanjut hingga Ghofirul mengirim pesan WhatsApp bernada mendesak untuk pindah tugas ke Surabaya.
“Pa, saya tidak kuat, saya minta pindah ke Surabaya. Saya benar-benar sakit Pa, tolong-tolong,” tulisnya.
Korban juga sempat mengaku kepada ayahnya telah disiksa oleh puluhan orang.
“Cuma saya yang dibantai pa, bukan oleh satu orang tetapi 60 (orang)” lanjut pesan dari korban.
Beberapa hari sebelum wafat, Ghofirul bahkan mengirim pesan bernada pasrah kepada ibunya, Yati Andriani (45),
“Kalau mama tidak menuruti kemauan ku, jangan harap bisa bertemu aku lagi” sambung korban.
Menerima pesan dari anaknya, benak Mahbub berkecamuk, sebab bagi Mahbub, permintaan untuk pindah tempat dinas merupakan hal yang tidak mungkin meskipun lewat cara belakang.
“Kecuali ada hubungan dengan jenderal. Tetapi bagaimana pun saya upayakan cari jalan meski saya tahu tidak mungkin, tetapi saya kuat-kuatkan saja, dia mendesak benar hampir setiap hari dengan HP baru, sembunyi-sembunyi. Berarti HP lama disita,” tegas Mahbub.
Misteri dimulai pada 26 April 2026, ketika pihak kapal menelepon keluarga dan mengabarkan bahwa Ghofirul melarikan diri dari kapal.
Namun, informasi tersebut berubah drastis pada malam harinya yang menyebutkan korban ditemukan meninggal di dalam kamar kapal.
“Itu kan janggal, kemarin kata dua orang yang mengaku komandannya telah menggeledah setiap kamar dan anak saya tidak ditemukan,” ucap Mahbub heran.
Tidak lama kemudian, muncul informasi susulan yang menyebutkan, penyebab kematian putranya adalah bunuh diri.
Jenazah tiba di rumah duka di Kampung Kaskel, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan, pada Senin (27/3/2026) dini hari.
Sebelum pemakaman, Mahbub membuka jasad anaknya dan menemukan sejumlah kejanggalan fisik, di mana terdapat luka lebam pada bagian wajah, serta darah yang keluar pada bagian selangkangan.
Bekas luka jeratan tali di leher berada di posisi agak ke bawah, yang dinilai Mahbub tidak wajar untuk korban gantung diri.
“Saya kenal anak saya, sosok yang tidak mudah menyerah bahkan justru saya yang rapuh dibandingkan dia. Artinya, bunuh diri bagi dia sangat-sangat tidak mungkin,” tegas Mahbub yang meragukan klaim tersebut.
Kasus ini akhirnya resmi dibawa ke meja kuasa hukum Sholeh and Partners di Surabaya.
Pada Senin (4/5/2026), tepat setelah tahlilan malam ke-7 berakhir, Mahbub Madani menandatangani surat kuasa di kediamannya, Jalan Kartini nomor 12, Kelurahan Kraton, Bangkalan.
Kuasa Hukum, Muhammad Sholeh, SH, MH (Cak Sholeh), menyatakan penyebab kematian korban masih sangat simpang siur karena hingga satu pekan ini keluarga tidak mendapatkan berkas kronologi maupun Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
“Hanya mayat yang dikasih, selebihnya tidak ada, tidak ada kronologi dan BAP. Kami tidak tahu faktanya seperti apa,” papar Sholeh.
Sebagai langkah tindak lanjut, pihak kuasa hukum akan segera bersurat ke Koarmada II Surabaya pada hari Selasa untuk meminta autopsi dan pembongkaran makam.
“Besok (Selasa) kami akan berkirim surat ke Koarmada II Surabaya supaya dilakukan autopsi, harus ada pembongkaran makam untuk mencari seterang-terangnya sebab-sebab kematian korban,” ungkap Cak Sholeh didampingi Mahbub.
“Karena itu, kami harapkan Koarmada II akan kooperatif segera melakukan autopsi, karena mayat ini semakin lama dibiarkan tentu pembusukannya akan semakin kuat,” tegas Sholeh.
Pihak keluarga bapak menuntut transparansi total dan keadilan agar jika ditemukan tanda kekerasan, seluruh pelaku atau senior yang terlibat harus dihukum tuntas.
“Pertama diberitakan kalau ghofirul melarikan diri dari kapal, besok paginya berubah anaknya meninggal di kamar, dan siangnya berubah lagi anaknya bunuh diri. Tetapi kecurigaan pihak keluarga ini matinya tidak wajar,” sebut Sholeh.
Sholeh menyatakan, ketidakwajaran itu berdasarkan keluhan yang sering disampaikan almarhum kepada bapak maupun ibunya karena sering mendapatkan kekerasan dari para senior di dalam kamar.
“Satu hari hanya dikasih waktu tidur satu jam, kesehariannya seperti itu hingga Ghofirul meminta kepada orang tuanya agar dipindahtugaskan dari kapal. Dengan harapan tidak bertemu dengan senior-senior yang suka melakukan kekerasan,”jelas Sholeh.
Sholeh melanjutkan, beberapa hari sebelum meninggal, Ghofirul melalui pesan singkat bahkan mengancam orang tuanya dengan kalimat, ‘Kalau mama tidak menuruti kemauan ku, jangan harap bisa bertemu aku lagi’.
“Artinya korban ini sudah pasrah karena sering mendapatkan kekerasan, bisa jadi nyawanya sudah tidak akan bertahan lama, dan itu terbukti kejadian tanggal 26 April, ketika mayat dibawa pulang dan keluarga melihat, ada bukti-bukti foto kalau memang pada tubuh jasad Ghofirul ada lebam-lebam,” jelasnya.
Sholeh mengatakan, kala itu memang sempat ada perdebatan antara pihak keluarga dari ibu dan pihak keluarga dari bapak.
Di mana pihak keluarga ibu tidak ingin dilakukan autopsi, sementara dari pihak keluarga bapak tetap dilakukan autopsi.
Sekarang ini, lanjutnya, dari pihak keluarga bapak juga menuntut keadilan, harus ada transparansi sebab-sebab kematian korban.
“Kalau memang hasil autopsi ternyata tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan, tidak ada lebam-lebam keluarga ikhlas, tetapi ketika hasil autopsi menyatakan ada tanda-tanda kekerasan, maka mau tidak mau harus diusut tuntas” lanjut Sholeh.
“Siapa pun pelakunya, senior-seniornya harus semuanya diusut, semuanya yang terlibat harus dihukum,” pungkasnya.
Sumber: Tribun