DEMOCRAZY.ID – Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap tujuh kapal cepat milik Iran.
Langkah agresif ini merupakan bagian dari “Project Freedom”, sebuah operasi militer kontroversial yang dirancang Washington untuk memutus blokade Iran di jalur pelayaran penting dunia tersebut atau membuka paksa blokade Selat Hormuz bagi kapal komersial
“Pasukan AS telah menyerang tujuh perahu kecil Iran yang tengah berupaya membuka Selat Hormuz,” kata Trump dilansir dari BBC, Selasa (5/5/2026).
Dalam unggahan singkat, Trump juga mengatakan Iran telah “menembak beberapa negara yang tidak terkait”, termasuk sebuah kapal Korea Selatan.
Ia kembali mendorong negara-negara lain untuk meningkatkan dukungan dan berbuat lebih banyak untuk membantu upaya AS dalam mengamankan perdagangan di kawasan tersebut.
“Mungkin sudah saatnya Korea Selatan datang dan bergabung dalam misi ini,” kata Trump.
Trump menambahkan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine akan mengadakan konferensi pers besok pagi untuk memberikan informasi terbaru lebih lanjut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi penggunaan helikopter serang Sea Hawk dan AH-64 Apache untuk menghancurkan kapal-kapal kecil Iran yang dianggap mengancam kapal komersial.
Trump mengeklaim operasi ini berjalan “sangat baik”, meskipun Teheran memberikan bantahan keras dan menyebut klaim AS sebagai “kebohongan terang-terangan”.
Di tengah baku klaim tersebut, perusahaan pelayaran raksasa Maersk mengkonfirmasi bahwa salah satu kapalnya, Alliance Fairfax , berhasil keluar dari Teluk setelah tertahan sejak Februari 2026 berkat pengawalan ketat militer AS.
Namun, keberhasilan ini dibayar mahal dengan meningkatkan risiko eskalasi.
Iran mengumumkan selat tetap tertutup dan mengeklaim kapal telah melepaskan tembakan peringatan ke arah perusak AS.
Konflik ini mulai menyeret aktor regional dan internasional.
Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan telah mencegat 12 rudal balistik dan sejumlah drone yang diluncurkan dari Iran.
Serangan tersebut melaporkan menghantam zona industri minyak Fujairah, melukai warga sipil, dan memicu kecaman atas eskalasi berbahaya ini.
Sementara itu, Korea Selatan tengah menyelidiki dugaan serangan terhadap salah satu kapal kargonya yang mengalami ledakan misterius di ruang mesin.
Trump langsung meminta Iran berada di balik kejadian tersebut dan mendesak Seoul untuk segera bergabung dengan misi militer pimpinan AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik pedas dengan menyebut “Project Freedom” sebagai “Project Kebuntuan”.
Ia khawatir bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik ini dan mendesak AS agar tidak terseret kembali ke dalam “rawa” konflik Timur Tengah.
Pakar maritim dari Chatham House, Nitya Labh, menilai strategi Trump sangat berisiko tinggi.
“AS tampaknya telah menerima bahwa satu-satunya cara untuk melakukan pengiriman barang berada di bawah ancaman kekuatan,” ujarnya.
Tanpa persetujuan bantuan Iran, operasi ini diprediksi hanya akan bersifat sementara yang berpotensi memicu perang terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut.
Sumber: Tribun