DEMOCRAZY.ID – Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berkelakar dengan menyatakan bahwa dia adalah lulusan dari kampus yang namanya tidak bisa ditemukan di mesin pencarian Google.
Bahlil sendiri tercatat menempuh pendidikan tinggi di Akademi Keuangan dan Perbankan (Akubank) yang saat ini menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay di Jayapura.
Dia baru lulus pada umur 26 karena terdampak kerusuhan Mei 1998.
Kemudian, Bahlil melanjutkan ke jenjang S-2 bidang ekonomi di Universitas Cenderawasih di Papua.
Menteri itu lalu meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia tahun 2024, tetapi gelarnya ditangguhkan karena ditemukan dugaan pelanggaran etik dan akademik.
“Saya enggak pernah kuliah di ITB atau di manalah. Saya ini, kan, kampus saya enggak ada di Google,” kata Bahlil ketika menyampaikan pidatonya tentang ketahanan energi pada forum “Sinergi Alumni IPB untuk Bangsa” di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu, (2/5/2026).
Bahlil menyebut belum tentu lulusan kampus yang tidak ditemukan di Google akan kalah dengan lulusan kampus yang ditemukan di Google.
“Saya kebetulan menganut mazhab bahwa kampus tidak menjamin kualitas seorang mahasiswa. Yang menjamin kualitas seorang mahasiswa itu mahasiswa itu sendiri, apalagi rektornya nggak jelas, gitu, kan,” ujar dia yang kemudian disambut dengan riuhan tawa para alumni IPB.
Dalam momen itu Bahlil sempat bertanya kepada Dr. Alim Setiawan Slamet yang menjadi Rektor IPB pada usia 43 tahun.
“Usia 43, (pendidikan) doktornya enggak sampai 2 tahun? Bahaya ini soalnya. Bahaya kalau ada doktor tidak lebih 4 semester. Berbahaya itu,” katanya sembari tertawa.
Adapun pada tahun 2024 Bahlil sempat menjadi sorotan karena menyelesaikan pendidikan doktor di Kajian Stratejik dan Global UI hanya dalam waktu 1 tahun lebih 8 bulan.
Di samping itu, dia memperoleh predikat cumlaude.
Akan tetapi, gelar doktornya menimbulkan kontroversi. Disertasi dia yang berjudul Kebijakan, Kelembagaan, dan Tata Kelola Hilirisasi Nikel yang Berkeadilan dan Berkelanjutan di Indonesia itu tercoreng oleh dugaan plagiarisme.
UI kemudian menangguhkan gelar doktor Bahlil dan memintanya melakukan revisi.
Momen silaturahmi alumni IPB itu bukan pertama kalinya Bahlil mengatakan bahwa dia lulusan kampus yang tidak bisa ditemukan di Google.
Pada acara puncak HUT ke-60 Golkar di Sentul, Kamis malam, (12/12/2024), Presiden Prabowo pernah mengungkapkan hal itu.
Dalam hatinya, Prabowo pernah bertanya-tanya alasan Bahlil pernah ditunjuk mantan Presiden Jokowi menjadi Menteri Investasi.
Prabowo akhirnya bertanya langsung kepada Bahlil dan jawabannya dibagikan di hadapan ribuan kader Golkar.
“Waktu saya gabung dengan Pak Jokowi di Kabinet Indonesia Maju, kabinet beliau, kabinet Pak Jokowi, saya agak aneh juga beliau dipilih jadi Menteri Investasi,” kata Prabowo dikutip dari Tribun Tangerang.
“Biasanya Menteri Investasi itu lulusan universitas di Amerika. Ya kan? Harvard University. Atau Stanford. Atau Berkeley. Kalau enggak Amerika, minimal Inggris lah. Oxford University, Cambridge, atau Sorbonne.”
“Benar ini, serius. Aneh ini, kenapa Pak Jokowi milih Pak Bahlil Menteri Investasi. Apalagi beliau dari Papua kan. Biasanya jabatannya itu Menteri Pembangunan Desa Tertinggal. (Tapi) beliau dipilih Menteri Investasi coba,” katanya.
Prabowo pun akhirnya bertanya langsung kepada Bahlil mengenai latar belakang universitasnya meski diawali dengan perasaan tidak enak.
Bahlil mengakui kampusnya tidak ada di mesin pencarian Google.
“Waktu saya ketemu, saya tanya, ‘Pak Bahlil, Anda…’, pelan-pelan saya nanyanya, enggak enak, tersinggung nanti. ‘Pak Bahlil, anda lulus dari universitas mana?'” kata Prabowo.
Prabowo kemudian mendapat jawaban yang tidak disangkanya.
“‘Pak, universitas saya enggak ada di Google,'” kata Prabowo menirukan jawaban Bahlil.
Sumber: Tribun