DEMOCRAZY.ID – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah kepada Iran imbas serangan terhadap kapal kargo berbendera Singapura di Selat Hormuz, karena aksi itu dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata antar kedua negara.
Alhasil Trump melayangkan serangan balasan kepada Iran.
Komando Pusat AS mengatakan alasan utama mereka melakukan serangan ini adalah untuk melawan agresi Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi di perairan Hormuz. Mereka menganggap serangan ini tak beralasan.
Dalam pelaksanaannya, pesawat-pesawat AS dilaporkan telah diterbangkan menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pantai. Serangan dilakukan pada Kamis (25/6) waktu setempat.
“Agresi yang tidak beralasan terhadap pelayaran komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata. Lebih lanjut, perilaku berbahaya Iran telah merusak kebebasan navigasi karena perdagangan melalui koridor perdagangan internasional yang vital,” kata Komando Pusat dikutip dari CNBC, Sabtu (27/6/2026).
Seperti diketahui, AS dengan Iran disebut telah menandatangani kesepakatan gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
Padahal, tepat seminggu yang lalu Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan untuk berdamai dan mengakhiri perang antara kedua negara.
Sementara, saat Trump ditanya oleh seorang reporter di Gedung Putih terkait konsekuensi bagi Iran karena melanggar gencatan senjata. Trump memberikan jawaban tersirat bahwa akan ada konsekuensi besar bagi Iran.
“Anda akan mengetahuinya,” ucap Trump.
Di sisi lain, dalam laporan Reuters dijelaskan Iran mengakui sebuah proyektil menghantam area sekitar dermaga di Sirik, kawasan Iran selatan, meski Teheran tidak memberikan rincian terkait kerusakan yang mungkin telah terkena.
Mereka hanya menegaskan bahwa pasukan angkatan laut Iran akan merespons dengan menyerang target militer AS di wilayah tersebut.
Iran dengan tegas mengatakan akan mengendalikan Selat Hormuz dan memperingatkan negara-negara Teluk untuk tidak berpihak pada AS atas aksi saling serang sekarang.
Sebab menurut Teheran perjanjian gencatan senjata dengan AS masih memberi negara itu kendali atas lalu lintas kapal di selat tersebut.
Atas dasar itu, Garda Revolusi Iran mengatakan angkatan laut mereka akan menyerang tempat-tempat yang menjadi markas militer AS di kawasan Teluk sebagai tindakan balasan.
Mereka memperingatkan jika AS masih memberikan serangan balasan, maka Teheran akan memberikan respons yang lebih luas.
“Namun, Amerika Serikat, dengan memprovokasi berbagai front, berupaya melanggar komitmen ini, dan tanggapan yang diperlukan telah diberikan dan akan terus diberikan. Jika agresi ini terulang, tanggapan kami akan lebih luas dari ini,” kata Garda Revolusi.
Pada akhirnya kondisi ini membuat AS dan Iran saling menuduh melanggar ketentuan gencatan senjata yang disepakati pekan lalu.
Mengancam kesepakatan damai awal, yang mengatur terkait gencatan senjata di kawasan Timur Tengah bersamaan dengan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sumber: Detik