PSI Sebut Jokowi Lebih Senang Terima Gelar Adat Ketimbang Honoris Causa, Sindir Megawati?

DEMOCRAZY.ID – Juru Bicara PSI, Dian Sandi Utama, bicara mengenai pemberian Gelar Adat Baginda Pemuka Bangsa kepada Presiden ke-7 RI, Jokowi.

Dikatakan Dian, Jokowi justru lebih menghargai penghormatan berupa gelar adat dibandingkan gelar akademik kehormatan (honoris causa).

“Pak Jokowi lebih senang menerima Gelar Adat daripada gelar HC,” ujar Dian, Minggu (28/3/2026).

Seperti diketahui, tidak sedikit pejabat atau mantan pejabat di Indonesia yang menyandang gelar honoris causa.

“Gelar adat itu soal perilaku, moral dan nilai-nilai keteladanan,” tukasnya.

Di antara tokoh Indonesia yang menyandang gelar tersebut di antaranya Jusuf Kalla, Airlangga Hartarto, Mochamad Basuki Hadimuljono, Nasaruddin Umar.

Dian menegaskan, gelar adat memiliki makna yang lebih dalam karena berkaitan dengan perilaku, moral, dan nilai-nilai keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Nilai yang mulai banyak hilang di masyarakat kita hari ini,” kuncinya.

Sebelumnya, PDI Perjuangan, partai politik berlambang kepala banteng moncong putih yang digawangi Megawati Soekarnoputri merespons aksi Joko Widodo menginjak kepala kerbau mirip banteng dengan moncongnya berwarna putih.

Aksi tersebut menjadi bagian prosesi adat saat Presiden ke-7 RI tersebut menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” dalam prosesi adat Lampung yang berlangsung di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kelurahan Sepang Jaya, Kecamatan Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung, Sabtu (27/6/2026).

Prosesi tersebut mencerminkan penghormatan masyarakat adat Lampung kepada Jokowi atas kontribusi dan pengabdiannya selama memimpin Indonesia.

Gelar adat itu diberikan melalui prosesi yang melibatkan tiga persaudaraan adat, yakni Penyeimbang Buwai Pemuka Way Kan, Buwai Subbing Terbanggi Balak, dan Buwai Bulan Megow Pak Tulang Bawang.

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Guntur Romli berpandangan, tindakan Jokowi menginjak kepala kerbau merupakan bentuk kesombongan dan tidak menghormati nilai-nilai tradisi.

Guntur menyayangkan, bahwa hewan kurban dalam tradisi mana pun seharusnya diperlakukan dengan hormat.

Namun demikian, ia enggan berspekulasi makna di balik tindakan tersebut.

“Saya juga tidak tahu kalau maksudnya seperti itu, tapi biasanya kalau hewan yang dikurbankan itu dihormati loh, mau dengan acara adat sekalipun, bukan diinjak seperti itu,” kata Guntur di Jakarta, Minggu (28/6/2026).

“Misalnya kerbau di Toraja atau daerah-daerah lain kalau jadi bagian upacara, kepalanya/tengkoraknya akan diabadikan dalam kehormatan dan kebanggaan, bukan dihinakan seperti yang dilakukan dengan kaki Jokowi seperti itu,” sambungnya.

Ia kemudian memberi penilaian bahwa aksi kaki kanan Jokowi yang diletakkan di atas sebuah kepala kerbau beralas kain di atas karpet merah kemudian dikelilingi para tokoh adat adalah wujud kesombongan. PDIP lantas meminta rakyat menilainya sendiri.

“Sikap Jokowi yg menginjak kakinya di atas kepala kerbau/sapi itu bentuk kesombongan. Tapi biarkan rakyat yang menilai,” ucap Guntur.

Sementara itu, dalam sambutannya, Jokowi menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepadanya.

Menurutnya, gelar adat bukan sekadar bentuk penghargaan, tetapi juga mengandung amanah untuk terus menjaga nilai-nilai kebangsaan dan persatuan.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Lampung, untuk terus merawat dan melestarikan budaya daerah sebagai identitas bangsa yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.

“Budaya adalah kekayaan yang tidak ternilai. Karena itu harus terus dijaga, dirawat, dan dilestarikan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” pesan Jokowi.

Penganugerahan gelar adat tersebut menjadi salah satu rangkaian penting dalam kunjungan Jokowi ke Lampung pada 26–28 Juni 2026.

Selain menghadiri prosesi adat, Jokowi juga dijadwalkan mengikuti berbagai agenda lain, seperti bertemu masyarakat, menghadiri kegiatan bersama kader partai, serta bersilaturahmi dengan sejumlah tokoh daerah.

Momen penganugerahan gelar ‘Baginda Pemuka Bangsa’ pun menambah makna kunjungan Jokowi ke Lampung, sekaligus menjadi simbol eratnya hubungan antara nilai-nilai adat, budaya, dan kebangsaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Sumber: Fajar

Artikel terkait lainnya