DEMOCRAZY.ID – Sirine peringatan bahaya memecah kesibukan warga Ukraina pada Selasa siang. Pasukan Rusia melancarkan salah satu gempuran siang hari paling masif sejak invasi dimulai.
Mengerahkan hampir 1.000 drone dalam kurun waktu 24 jam, serangan ini tak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan pusat bersejarah peninggalan budaya dunia.
Dilansir dari The New York Times, Di kota Lviv, Ukraina barat, sebuah drone Shahed terekam kamera menembus pusat kota dan menghantam fasilitas budaya yang dilindungi dunia.
Kepala Administrasi Militer Wilayah Lviv, Maksym Kozytskyi, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menyasar bagian dari Kompleks Biara Bernadine. Gereja tersebut merupakan bagian integral dari situs Warisan Dunia UNESCO Lviv – Kompleks Pusat Sejarah.
“Sebuah monumen arsitektur yang memiliki nilai penting nasional, Kompleks Biara Bernardine, telah mengalami kerusakan,” tulis Kozytskyi di Telegram, dikutip dari CNN International, pada Rabu (25/3/2026).
Ia menambahkan bahwa para ahli saat ini masih melakukan asesmen untuk menentukan seberapa parah tingkat kerusakannya.
Kawasan yang menjadi target bukanlah area sembarangan. “Lokasinya berada di dalam distrik bersejarah Lviv, sebuah situs yang terdaftar dalam Daftar Warisan Budaya Internasional di bawah perlindungan yang ditingkatkan,” kata Kozytskyi.
Dampak dari ledakan tersebut meluas ke area sekitar. Petugas pemadam kebakaran harus berjibaku memadamkan api yang berkobar hingga malam hari. Setidaknya lebih dari 20 orang dilaporkan terluka di kota tersebut.
“Api telah melahap bangunan-bangunan yang berdekatan dengan kompleks tersebut,” tambah Kozytskyi.
Hancurnya peninggalan bersejarah ini memicu kemarahan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Dalam pidato malamnya, ia secara khusus menyoroti penggunaan drone buatan Iran yang memporak-porandakan gereja di Lviv.
“Para ‘Syahid’ Iran, yang dimodernisasi oleh Rusia, menyerang gereja di Lviv – ini adalah penyimpangan mutlak, dan hanya orang seperti Putin yang bisa menikmatinya,” kecam Zelensky.
Ia menilai serangan brutal ini terjadi justru saat pemerintahannya sedang berusaha mengembalikan jalur perundingan perdamaian.
“Ini benar-benar menyimpang,” tegasnya.
“Skala serangan hari ini sangat menunjukkan bahwa Rusia tidak berniat untuk benar-benar mengakhiri perang ini.” tambahnya.
Seperti dilansir dari The New York Times, taktik serangan Rusia kali ini terbilang langka dan mematikan.
Setelah melepaskan 34 rudal dan 392 drone pada malam harinya, Rusia kembali meluncurkan lebih dari 550 drone di tengah hari kerja.
Gempuran mematikan ini menyasar sejumlah kota besar termasuk Ternopil, Vinnytsia, Ivano-Frankivsk, Zhytomyr, Zaporizhzhia, dan Dnipro. Warga yang tengah bekerja terpaksa berlarian mencari tempat perlindungan darurat.
Angkatan Udara Ukraina melabeli peristiwa ini sebagai “salah satu serangan paling besar” dalam sejarah perang tersebut.
Sebanyak 15 serangan dilaporkan berhasil menembus pertahanan udara meski militer Ukraina telah menjatuhkan 541 drone.
“Ini adalah salah satu serangan terbesar sepanjang hari,” ujar Juru Bicara Angkatan Udara Ukraina, Yuriy Ignat, merujuk pada rentetan drone yang diarahkan ke kawasan tengah dan barat negara itu.
Selain kerugian sejarah material, dampak kemanusiaan dari serangan ini sangat tragis. Zelensky mencatat setidaknya 40 orang terluka, termasuk lima anak-anak di seluruh negeri.
Kisah paling memilukan terjadi di sebuah rumah sakit bersalin di Ivano-Frankivsk.
Dua orang tewas dalam serangan tersebut, yang menurut pihak berwenang adalah seorang tentara Garda Nasional dan putrinya yang masih berusia 15 tahun.
Keduanya tewas seketika saat sedang berada di ruang bersalin untuk menjenguk istri sang tentara yang baru saja melahirkan bayi laki-laki.
Di kota ini, dua rumah sakit bersalin dan belasan bangunan tempat tinggal rusak parah.
Korban jiwa juga berjatuhan di wilayah Vinnytsia (satu pria berusia 59 tewas), serta di Poltava, Zaporizhzhia, dan di sebuah kereta penumpang di Kharkiv akibat serangan malam harinya.
Di sisi lain, gempuran tidak hanya terjadi di satu arah.
Pelaksana Tugas Gubernur Kursk di Rusia, Alexander Khinshtein, melaporkan bahwa serangan drone dari pihak Ukraina pada hari yang sama telah menewaskan seorang pria berusia 55 tahun dan melukai 13 orang lainnya di wilayah Kursk.
Sumber: Suara