DEMOCRAZY.ID – Budayawan Sujiwo Tejo melontarkan pandangan menarik mengenai cara masyarakat merekam aktivitas Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Di tengah pujian kalangan intelektual terhadap aktivitas Prabowo di forum internasional, Sujiwo Tejo justru menyoroti tindakan-tindakan sederhana Gibran yang menurutnya berpotensi lebih melekat dalam ingatan masyarakat.
Ia menyinggung kebiasaan Gibran membagikan susu hingga buku kepada masyarakat.
Dikatakan Sujiwo Tejo, hal-hal semacam itu bisa menjadi catatan tersendiri di mata rakyat, meskipun kerap dianggap sepele atau mengundang tawa.
Sujiwo Tejo menyinggung pandangan pengamat dan kaum intelektual yang mengagumi aktivitas Prabowo ketika menghadiri berbagai forum internasional dan bertemu dengan tokoh-tokoh dunia.
Ia menyebut, pencapaian tersebut memang bisa menjadi bahan pembicaraan dan pujian.
Hanya saja, menurutnya, ada perspektif lain yang perlu diperhatikan ketika menilai bagaimana seorang pemimpin diingat oleh masyarakat.
“Rocky boleh ngomong tentang wah, Prabowo ke forum internasional forum ini forum ini,” ujar Sujiwo Tejo, Jumat (23/10/2026).
Ia kemudian mengaitkan pandangannya dengan perspektif sutradara Garin Nugroho yang, menurut penuturannya, melihat Gibran sebagai sosok yang lebih tercatat melalui aktivitas sederhana di tengah masyarakat.
“Tapi ingat kalau menurut dari kacamata seorang sutradara kayak Garin Nugroho, Gibran lebih tercatat,” lanjutnya.
Sujiwo Tejo kemudian mencontohkan sejumlah aktivitas Gibran yang dinilainya mudah diingat masyarakat, seperti membagikan susu dan buku.
Menurutnya, masyarakat mungkin menertawakan atau menganggap remeh tindakan tersebut.
Namun, dalam pandangannya, rakyat tetap merekam apa yang mereka lihat dari para pemimpinnya.
“Datang, ngasih-ngasih, ngasih susu, ngasih. Kita ketawa semua kalau intelektual tapi rakyat itu merekam,” terangnya.
Ia pun mempertanyakan apakah kalangan intelektual menyadari perbedaan cara pandang tersebut.
Sujiwo Tejo menilai, perhatian terhadap aktivitas diplomasi dan pertemuan internasional seorang presiden belum tentu sama dengan hal-hal yang membekas dalam ingatan masyarakat sehari-hari.
“Sadar enggak sih, kaum intelektual ini? Wah, Prabowo ditepok ke India, jadi tuan rumah, terus ka ini wah. Rakyat enggak peduli,” imbuhnya.
Lebih jauh, Sujiwo Tejo mengajak melihat persoalan tersebut sebagai fenomena tentang bagaimana masyarakat mengingat tindakan para pemimpin, bukan semata-mata bagaimana kalangan elite menilai pencapaian mereka.
Ia bahkan menyinggung 2029 sebagai momentum ketika ingatan publik terhadap aktivitas para pemimpin itu kembali menjadi perhatian.
Sujiwo Tedjo bilang, aktivitas Gibran yang terlihat sederhana, seperti membawa dan membagikan buku, bisa saja justru lebih membekas dibandingkan berbagai pencapaian yang ramai dibicarakan kalangan intelektual.
“Kita lagi ngomong fakta ini. Yang diketawain 2029 ini, nanti yang diingat Gibran bawa buku, ngasih buku,” kuncinya.