DEMOCRAZY.ID – Isu riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi bahan perbincangan hangat publik di media sosial.
Sorotan baru ini mengemuka setelah dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Meilanie Buitenzorgy, mengunggah sejumlah tangkapan layar komentar dari para pengguna media sosial yang mengaku sebagai alumni dan pernah menempuh pendidikan di Orchid Park Secondary School (OPSS), Singapura.
Melalui akun media sosial pribadinya yang dikutip pada Rabu (21/10/2026), Meilanie menyindir kebingungan yang dialami oleh sejawat alumni sekolah Singapura tersebut pada kurun waktu yang disebut-sebentar berdekatan dengan masa studi Gibran.
“Waini. Anak Orchid Park Sec School Singapore angkatan sekitaran Gibby mulai pada celingak celinguk, ‘woyyy waktu sekola dulu kok gua ga pernah ketemu ni Wapres tetangga’? Dan komen2 roasting gimanaa gitu. Duh. Gw sih malu. Gatau mas Anang,” tulis Meilanie melalui akun media sosial pribadinya, Rabu (21/10/2026).
Dalam unggahan yang viral tersebut, Meilanie melampirkan tangkapan layar akun Threads @mamaaqr yang mengaku tidak mengingat sosok Gibran sebagai bagian dari rekan sekolahnya di Orchid Park Secondary School.
“Hi I am sleepless over the fact that Indonesia’s Vice President went to school at Orchid Park Secondary School. Among all the OPSS friends I made during my sec sch life, he is not one of them. Gdnight,” tulis akun tersebut.
Tak hanya itu, tangkapan layar lain dari akun @azlyjnor yang mengaku sebagai senior satu tingkat di atas Gibran turut membeberkan hal serupa.
Ia menyebut baik rekan seangkatannya, para senior, hingga mantan gurunya tidak mengingat kehadiran sang Wakil Presiden, padahal saat itu OPSS merupakan sekolah baru di mana para siswanya saling mengenali satu sama lain.
“He was a year my junior but I don’t seem to remember him, neither did anyone from my batch or the seniors. Not even my former teachers. And OPSS at the time was a new school (I was 2nd intake) so everyone knew each other,” tulis akun tersebut.
View on Threads
Meilanie, yang selama ini dikenal vokal mengkritisi dan mengedukasi publik mengenai jalur pendidikan luar negeri, penyetaraan kualifikasi O-Level, hingga program foundation, memantik gelombang reaksi netizen.
Deretan akun seperti Citra Melani, Hanny Setiawan, hingga Ari Panrita turut melayangkan nada sarkastis serta mempertanyakan keabsahan proses verifikasi dokumen akademik luar negeri tersebut.
Kendati perdebatan di ruang digital kian memanas, pengakuan personal para pengguna media sosial yang tidak mengingat sosok mantan rekan sekolahnya tentu tidak bisa serta-merta dijadikan bukti pembatalan hukum atas riwayat pendidikan seseorang.
Kepastian hukum dan keabsahan kualifikasi akademik pejabat publik tetap berpatokan penuh pada hasil pemeriksaan dokumen resmi, penyetaraan kementerian terkait, serta verifikasi kelembagaan dari sekolah bersangkutan.