DEMOCRAZY.ID – Akademisi Rocky Gerung kembali mengungkit pengalamannya ketika berada di posisi minoritas karena mengkritik pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Rocky mengatakan, sekitar satu dekade lalu dirinya tetap melontarkan kritik terhadap Jokowi meski saat itu tingkat dukungan publik terhadap sang presiden disebut sangat tinggi.
Hal itu disampaikan Rocky dalam program Rakyat Bersuara bertajuk “Isu Panas Program Prioritas” yang disiarkan iNews, Selasa (22/9/2026).
“10 tahun lalu Jokowi punya dukungan publik 80 persen, lalu saya caci maki secara akademis. Bahkan walaupun bahasa saya caci maki, saya pakai argumen di situ. Lalu semua orang caci maki saya, saya sendirian,” ujar Rocky, dikutip dari kanal YouTube iNews, Rabu (23/9/2026).
Rocky mengatakan, kritik yang dilontarkannya terhadap Jokowi kala itu membuat dirinya menghadapi sejumlah laporan.
“Karena saya kritik Jokowi, saya dilaporkan. Ada 30 berkas yang saya hadapi itu. Tapi saya minoritas,” katanya.
Menurut Rocky, dirinya tetap memilih mengkritik Jokowi karena menilai pemikiran mayoritas publik saat itu telah menjadi alasan pembenaran terhadap pemerintahan.
“Kenapa saya kritik Jokowi? Karena pikirannya dibela oleh mayoritas. Mayoritas dungu, saya bilang waktu itu. Orang benci saya,” tuturnya.
Namun, Rocky mengatakan, setelah Jokowi tidak lagi menjabat, pandangan sebagian masyarakat terhadap kritiknya berubah seiring berjalannya waktu.
Ia mengaku pernah mendapat pengakuan dari orang-orang yang sebelumnya mengecam sikap kritisnya.
“10 tahun kemudian orang bilang, ‘Lu yang benar, Rock.’ Gue bilang, ‘Gue enggak benar, kalian yang dungu,’ fair. Saya bilang begitu. ‘Minta maaf waktu itu kita enggak dukung Anda,’ saya enggak perlu dukungan,” ujar Rocky.
Rocky menegaskan, dirinya tidak menjadikan dukungan publik sebagai dasar dalam mempertahankan sebuah pemikiran.
“Otak saya saya pertanggungjawabkan sendiri. Logik saya pertanggungjawabkan sendiri. Reasoning saya saya bantu dengan pikiran ilmu pengetahuan. Jadi saya enggak butuh bantuan untuk dibela atau dikritik,” katanya.
Lebih lanjut, Rocky mengatakan dirinya kembali mendapat kecaman.
Namun, ia mengaku kali ini tidak sedang melontarkan kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto.
“Hari ini saya tidak mengkritik Prabowo, saya dicaci itu tanpa tahu kenapa saya tidak mengkritik. Caci maki duluan,” ujar Rocky.
Rocky menyebut dirinya akan membiarkan waktu yang menentukan bagaimana pandangannya tersebut dinilai publik.
“Saya tunggu 10 tahun lagi. Kalian akan minta maaf ke saya tuh. Tapi saya enggak peduli soal itu,” pungkasnya.
Dalam forum yang sama, Rocky juga menyinggung persoalan paradigma yang menjadi dasar pandangannya dalam melihat kebijakan pemerintah.
Ia mengatakan dirinya tidak sedang membela figur tertentu, melainkan membahas paradigma yang mendasari suatu kebijakan.
Pernyataan Rocky tersebut disampaikan di tengah perdebatan mengenai sikapnya terhadap pemerintahan Prabowo.
Ia menegaskan bahwa posisi kritis tidak selalu berarti harus menentang setiap kebijakan pemerintah.
Sebaliknya, menurut dia, tidak semua kebijakan harus diterima hanya karena mendapat dukungan mayoritas.