DEMOCRAZY.ID – Dosen Lintas Budaya Ali Syarief menyoroti wacana duet antara mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2029.
Ali menilai duet Anies-Purbaya cukup sulit terwujud karena terdapat sejumlah faktor yang membuat peluang terealisasinya relatif kecil.
Menurutnya, pasangan Anies-Purbaya akan menarik bagi kalangan intelektual, tetapi kurang populer di akar rumput.
Selain itu, keduanya juga terganjal aturan pencalonan presiden yang tetap mewajibkan dukungan partai politik.
“Kalau Anies dan Purbaya dipasangkan, menjadi menarik bagi kalangan elit intelektual- tapi tidak populer di grassroots, dan parpol mana yang akan mengusung? Inilah problema sistem presidensial di Indonesia. Toja’iah dengan prinsipnya sendiri,” tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Kamis (17/9).
Ada yang mewacanakan bahwa pada 2029 Prabowo berpasangan dengan Pramono Anung. Bisa terjadi karena Pak Pram kader sholeh di PDIP. Kalau Anies dan Purbaya dipasangkan, menjadi menarik bagi kalangan elit intelektual- tapi tidak populer di grassroots, dan parpol mana yang akan…
— Ali Syarief – アリ・シャリーフ (@alisyarief) September 16, 2026
Sebagai informasi, meskipun presidential threshold (ambang batas pencalonan presiden) sudah tidak berlaku lagi pada Pilpres 2029, jalur perseorangan (independen) tetap tidak diperbolehkan.
Putusan MK Nomor 62/PUU-XXII/2024 hanya menghapus ambang batas pencalonan bagi partai politik.
Namun, pencalonan presiden tetap wajib melalui partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu.
Dalam putusan tersebut, MK menyatakan bahwa Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang sebelumnya mengatur syarat ambang batas 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak lagi memiliki kekuatan hukum mengikat.
Menurut saya, purbaya bakalan ikut nimbrung di perpolitikan 2029.
Bisa jadi, kek Mahfud MD, tidak masuk parpol, tapi tetap kritis ke pemerintah prabowo.Apalagi dia mantan menteri keuangan, posisi strategis….
Baca JugaEnak banget nyerang program PRABOWO…
Kalo pun dia masuk partai,…
— Yudhistira Ismara (@CiptaBuana_) September 16, 2026
Eks Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa digadang-gadang bakal menjadi salah satu kandidat kuat pada Pilpres 2029 mendatang ia bahkan disebut sangat cocok disandingkan dengan Anies Baswedan sebagai calon presiden dan calon wakil presiden, jika terwujud pasangan ini diperkirakan bakal menjadi salah satu yang paling superior pada perhelatan Pemilu mendatang.
Wacana duet Anies Baswedan-Purbaya Yudhi Sadewa ini sedang ramai dibahas masyarakat di media sosial, wacana itu mengemuka di tengah polemik pemecatan Purbaya dari jabatan Menteri Keuangan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dosen Lintas Budaya Ali Syarief turut menyoroti wacana tersebut, menurutnya duet kedua figur jelas sangat menarik, namun ada beberapa hal penting yang bikin duet ini sukar terealisasi salah satunya kedua figur sama-sama tak punya kendaraan politik.
Maju sebagai calon independen jelas tidak bakal terwujud lantaran terganjal berbagai regulasi.
“Kalau Anies dan Purbaya dipasangkan, menjadi menarik bagi kalangan elit intelektual- tapi tidak populer di grassroots, dan parpol mana yang akan mengusung? Inilah problema sistem presidensial di Indonesia. Toja’iah dengan prinsipnya sendiri,” kata Ali, Kamis (17/9/2026).
Sebagai informasi, meskipun presidential threshold (ambang batas pencalonan presiden) sudah tidak berlaku lagi pada Pilpres 2029, jalur perseorangan (independen) tetap tidak diperbolehkan.
Putusan MK Nomor 62/PUU-XXII/2024 hanya menghapus ambang batas pencalonan bagi partai politik.
Namun, pencalonan presiden tetap wajib melalui partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu.
Dalam putusan tersebut, MK menyatakan bahwa Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu yang sebelumnya mengatur syarat ambang batas 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak lagi memiliki kekuatan hukum mengikat.
Terpisah Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas mengatakan, Purbaya jelas menjadi salah satu komoditas politik yang sangat laris setelah didepak Prabowo.
Dia mengatakan, Purbaya punya karakter yang sangat unik, dia punya cara komunikasi yang ceplas-ceplos dinilai mirip dengan eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hal ini membuatnya menjadi rebutan Partai Politik.
“Gaya ceplas-ceplos eks Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memang sosok pemimpin yang lebih disukai oleh masyarakat. Itu seperti ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat menjadi Gubernur DKI Jakarta,” kata Fernando Emas.
Lantaran gaya ceplas-ceplos dan suka tampil apa adanya Purbaya bahkan sempat dijuluki menteri koboi lantaran pernyataannya gerap memancing debat terbuka dengan sesama pejabat negara, namun justru karena gaya tersebut Purbaya juga langsung mendapat banyak simpatisan dalam kurun waktu yang lumayan singkat.
“Karakter kuat dan basis dukungan simpatisan yang besar membuat Purbaya menjadi komoditas politik yang bernilai tinggi. Sangat mungkin bagi partai-partai politik untuk meminangnya demi kepentingan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029,” beber Fernando.
Sosok seperti Purbaya lanjut Fernando tidak hanya diminati partai-partai besar sekaliber Golkar dan PDI-Perjuangan yang bergelimang figur dan sosok besar, ia juga bakal menjadi buruan nomor satu bagi partai politik yang saat ini sedang krisis figur besar macam Partai Amanat Nasional (PAN) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
“Masih sangat mungkin Purbaya bisa digandeng oleh Partai Golkar, PAN, PKB, atau PKS, untuk kemudian dipasangkan dengan kader dari partai lain, seperti dari PDI Perjuangan,” paparnya.
Fernando mengatakan, untuk saat ini popularitas Purbaya sedang di atas angin seluruh simpati publik sedang tertuju padanya setelah dirinya didepak dengan sangat tidak hormat oleh Prabowo, kesempatan ini bisa dimanfaatkannya untuk memilih kendaraan politik untuk melanjutkan karier politik di Tanah Air.
Apabila popularitas dan simpati publik tidak dikelola dengan baik, maka semuanya bakal menguap dan berakhir begitu saja, Purbaya bisa kehilangan momentum dan panggung politik.
“Kalau Purbaya tidak memiliki kendaraan untuk panggung politiknya, maka secara perlahan akan redup dengan sendirinya. Kecuali, para simpatisan Purbaya memang sungguh-sungguh menginginkan ia mengikuti kontestasi Pilpres 2029, lalu secara swadaya membuatkan ‘panggung’ terhadap mantan menteri keuangan tersebut,” tutup Fernando.