Sejarawan Bandingkan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia dengan Perjuangan Palestina Usir Penjajah

DEMOCRAZY.ID – Sejarawan senior Prof. Anhar Gonggong menyoroti sikap rakyat Palestina yang dinilainya lebih banyak mengandalkan bantuan internasional ketimbang membangun kekuatan perlawanan fisik sendiri, seperti yang dilakukan Indonesia saat mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.

Pernyataan itu disampaikan Anhar melalui kanal YouTube pribadinya yang diunggah Jumat (4/9/2026).

Dalam paparannya, Anhar menegaskan dukungan Indonesia terhadap Palestina sudah terjalin sejak awal berdirinya kedua bangsa.

Ia bahkan menyebut adanya pendekatan dari pihak Israel kepada pemerintah Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan negara itu.

“Pernahkah Yahudi ingin mendekati kita pada saat masih awal terbentuknya. Dia mau kirim ketemu dengan pemerintah Indonesia, Pak Hatta. Tapi kita hanya pemerintah kita hanya mengucapkan terima kasih,” ujar Anhar.

Menurutnya, pendekatan itu berujung sia-sia karena posisi Indonesia sejak semula memang berpihak kepada Palestina.

“Akhirnya rupanya Yahudi sadar bahwa Indonesia tidak akan mendukung dia, begitulah,” katanya.

Anhar menilai salah satu akar masalah yang membuat perjuangan Palestina tak kunjung membuahkan kemerdekaan penuh adalah ketergantungan negara-negara Arab terhadap Amerika Serikat, sekutu utama Israel.

Ia mengaitkan hal ini dengan kepentingan ekonomi, khususnya perdagangan minyak.

“Kesulitan orang Arab itu adalah ketergantungan mereka terhadap Amerika,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa mayoritas anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebenarnya telah mengakui kemerdekaan Palestina.

Ironisnya, kata Anhar, pengakuan diplomatik itu tidak diikuti dengan pembelaan nyata di lapangan.

Ia menyinggung situasi di Jalur Gaza, tempat warga Palestina kerap kehilangan rumah dan harta benda tanpa perlawanan berarti.

“Pengambilan milik-milik Palestina di Gaza, rumahnya diambil lalu diduduki oleh orang-orang itu dan sebagainya, dan semacam tidak ada perlawanan gitu loh,” katanya.

Ia juga menyebut adanya dugaan bahwa dana milik negara-negara Arab justru turut mengalir untuk kepentingan yang merugikan Palestina sendiri.

“Saya pernah mendengar bahwa terkadang Yahudi itu menggunakan uang orang Arab untuk menggarap menggebuki mereka. Lucu kan?” ujarnya.

Poin utama yang ditekankan Anhar adalah minimnya perlawanan bersenjata dari pihak Palestina, meski status kemerdekaannya telah diakui PBB dan negara itu memiliki presiden serta perdana menteri sendiri.

Ia membandingkannya dengan langkah Indonesia yang langsung membentuk kekuatan militer begitu merdeka pada 17 Agustus 1945, meski saat itu tanpa persenjataan memadai.

“Kami awalnya berhadapan dengan Belanda setelah 17 Agustus. Kami enggak punya tentara. Kami bentuk tentara. Kami ambil senjatanya Jepang,” kata Anhar, mempertanyakan mengapa langkah serupa tidak diambil oleh Palestina.

Ia menyayangkan pola yang menurutnya berulang: warga Palestina disebutnya hanya bereaksi dengan tangisan dan seruan bantuan setiap kali mengalami kekerasan, tanpa upaya membangun kekuatan pertahanan mandiri.

“Kenapa tidak ada perlawanan fisik gitu loh, seperti yang pernah kita lakukan berhadapan dengan Belanda?” ujarnya.

Anhar turut menyinggung pengalaman pribadi yang pernah ia saksikan lewat pemberitaan, mengenai warga yang dilarang menguburkan jenazah keluarganya di tempat asal namun tidak memberi reaksi perlawanan.

“Coba bayangkan,” katanya singkat.

Untuk memperkuat argumennya, Anhar mengingatkan bagaimana agresi militer Belanda kedua terhadap Indonesia justru mempercepat pengakuan kemerdekaan RI di kancah internasional, termasuk memicu kemarahan Amerika Serikat di forum PBB kala itu.

“Itu adalah dampak dari clash kedua, agresi keduanya Belanda,” ujarnya, sembari mencatat bahwa konteks geopolitik saat itu, di tengah Perang Dingin, memang berbeda dengan situasi Palestina saat ini.

Ia berandai-andai, seandainya perlawanan fisik besar-besaran pernah dilakukan pasukan Palestina meski berujung korban jiwa dalam jumlah besar, dampaknya terhadap opini dan tekanan internasional disebutnya akan jauh lebih signifikan dibanding sekadar protes verbal.

Anhar juga mengkritisi rencana pembukaan jalur logistik bantuan kemanusiaan ke Gaza melalui Mesir, yang menurutnya tidak akan menyelesaikan akar persoalan jika tidak dibarengi upaya perlawanan dari rakyat Palestina sendiri.

“Apa artinya bantuan itu kalau mereka sendiri menikmati bantuan itu sudah itu selesai, tanpa ada perjuangan, tanpa mereka sendiri mau berjuang bagaimana menghadapi Yahudi?” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dukungan internasional, termasuk dari Indonesia, memiliki keterbatasan dan tidak bisa terus-menerus diberikan tanpa disertai upaya mandiri dari pihak yang dibantu.

“Negara kita enggak bisa terus-terusan ngasih bantu, dalam arti pasti ada kekurangannya, pasti ada habisnya juga kalau enggak ada perlawanan,” katanya.

Di ujung penjelasannya, Anhar menegaskan bahwa kritiknya bukan berarti ia tidak mendukung kemerdekaan Palestina.

Sebaliknya, ia berharap pernyataannya dapat membangkitkan kesadaran baru di kalangan rakyat Palestina untuk membangun kekuatan perlawanan mandiri.

“Ini bukan maksudnya kita bilang kita enggak berharap Palestina merdeka. Justru harapannya Palestina merdeka. Makanya saya ngomong ini dengan harapan ada kekuatan baru dalam diri mereka untuk merdeka,” ujarnya.

Namun ia menutup dengan nada pesimistis jika pola ketergantungan pada bantuan asing terus berlanjut tanpa upaya perlawanan mandiri.

“Yakin saya, 10 tahun yang akan datang belum tentu merdeka, kalau dari mereka sendiri tidak ada semangat untuk membangun kekuatan baru dalam dirinya,” pungkas Anhar.

Artikel terkait lainnya