Peta Politik 2029 Berubah Drastis! KDM Makin Moncer Sementara Elektabilitas Prabowo Terus Menurun, Peneliti SMRC Singgung Soal Legitimasi

DEMOCRAZY.ID – Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad, menyoroti elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang jauh melampaui Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Saidiman, temuan survei Tempo Data Science tidak hanya menunjukkan keunggulan elektabilitas KDM atas Prabowo, tetapi juga memperlihatkan pola dukungan yang menarik.

“Selain tentang elektabilitas KDM yang jauh melampaui Prabowo, temuan lebih detail survei Tempo Data Science ini juga lebih menarik,” kata Saidiman Ahmad, dikutip Jumat (4/9/2026).

Ia mengatakan KDM tidak hanya mendapat dukungan lebih besar dari pemilih yang tidak puas terhadap kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, arah bangsa, serta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Menurutnya, pemilih yang mengaku puas terhadap kondisi tersebut juga lebih banyak memilih KDM dibandingkan Prabowo.

“Ternyata KDM tidak hanya mengambil suara lebih banyak dari pemilih yang tidak puas dengan kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, arah bangsa, serta pelaksanaan program MBG dan KDMP. Mereka yang puas sekali pun juga lebih banyak memilih KDM dibanding Prabowo,” tuturnya.

Saidiman menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan legitimasi politik yang dihadapi Prabowo.

“Prabowo kehilangan legitimasi,” tegasnya.

Sebelumnya, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka merosot tajam menjadi 37 persen pada Agustus 2026.

Angka kepuasan atau approval rating tersebut turun dari 75 persen pada Desember 2025 menjadi 58 persen pada Maret 2026, sebelum kembali anjlok menjadi 37 persen pada Agustus 2026.

Survei Tempo Data Science tersebut melibatkan 1.260 responden di 38 provinsi.

Pengambilan data dilakukan pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026.

Secara nasional, tingkat ketidakpuasan publik mencapai 62 persen.

Banten mencatat angka ketidakpuasan tertinggi sebesar 76 persen, disusul DKI Jakarta 73 persen, serta Jawa Tengah dan DIY masing-masing 68 persen.

Dalam survei tersebut, elektabilitas atau top of mind publik terhadap Dedi Mulyadi mencapai 30 persen, sedangkan Prabowo Subianto berada di angka 20 persen.

Baca Juga:
Karhutla Kalimantan Tembus Malaysia-Filipina, Ekonom UI: ASEAN Akan Intervensi Prabowo
Namun, ketika responden diberikan sejumlah nama dalam pertanyaan mengenai awareness, tokoh dengan elektabilitas tertinggi adalah Prabowo, disusul Gibran Rakabuming Raka, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Dedi Mulyadi.

Dedi juga tercatat sebagai tokoh publik dengan kesan positif tertinggi.

Sebanyak 90 persen responden memberikan penilaian positif terhadap Gubernur Jawa Barat tersebut.

Temuan serupa sebelumnya dirilis SMRC pada Juli 2026.

Dalam survei tersebut, elektabilitas Dedi mencapai 35 persen, sedangkan Prabowo berada di angka 14,5 persen.

Hasil tersebut dinilai menarik karena secara umum presiden petahana cenderung memiliki tingkat elektabilitas yang tinggi.

Ketika responden ditanya siapa yang akan dipilih jika pemilihan presiden digelar hari ini, mayoritas memilih Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 41 persen.

Prabowo berada di posisi kedua dengan 15 persen, disusul Anies Baswedan 10 persen dan Gibran Rakabuming Raka 4 persen.

Baca Juga:Survei Median: Prabowo Unggul Jauh dari KDM, Anies LewatDedi Mulyadi juga disebut unggul di sejumlah wilayah, terutama di Pulau Jawa, Banten, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, serta sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan.

Sementara itu, Prabowo disebut masih kuat di Sulawesi.

Tempo Data Science juga mencatat tren kenaikan elektabilitas Dedi Mulyadi.

Pada Desember 2025, elektabilitas Dedi berada di angka 15 persen.

Angka tersebut meningkat menjadi 24 persen pada Februari 2026 dan kini mencapai 42 persen.

Sebaliknya, elektabilitas Prabowo menunjukkan tren penurunan.

Pada Desember 2025, elektabilitasnya masih berada di angka 48 persen, kemudian turun menjadi 37 persen pada Februari 2026.

Tempo Data Science juga memproyeksikan perolehan suara jika Dedi Mulyadi tidak maju dalam Pilpres 2029.

Dalam skenario tersebut, suara Dedi diproyeksikan beralih kepada sejumlah tokoh, dengan Sherly Tjoanda memperoleh 16 persen, disusul Anies Baswedan 13 persen dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 12 persen.

Artikel terkait lainnya