DEMOCRAZY.ID — Eksistensi politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pasca-purnatugas kembali memantik sorotan publik.
Gelombang kedatangan para kepala desa (kades) dari berbagai daerah yang berbondong-bondong menyambangi kediaman pribadinya di Solo, Jawa Tengah, dinilai bukan sekadar agenda silaturahmi kultural biasa.
Tokoh militer senior, Letjen TNI (Purn) Suryo Prabowo, secara tajam melabeli fenomena tersebut sebagai “Comeback ala Raja Solo”, sekaligus menobatkan Jokowi sebagai figur sentral yang dijulukinya sebagai “Sang Kingmaker Desa”.
Suryo memandang bahwa kediaman Jokowi di Solo kini telah mengalami pergeseran fungsi yang signifikan.
Wilayah tersebut tidak lagi diposisikan sebagai tempat peristirahatan masa pensiun yang tenang, melainkan bertransformasi menjadi pusat kendali pergerakan politik akar rumput.
“Solo bukan lagi sekadar tempat pensiun tenang, melainkan pusat pergerakan,” ungkap Suryo dalam pandangannya.
Lebih lanjut, ia mengamati bahwa para kades yang pulang usai melakukan sowan ke Solo seolah-olah mendapakan suntikan “tuah” berupa kepercayaan diri ekstra untuk mengonsolidasikan dan mengondisikan warga di daerah pemilihan masing-masing.
APAKAH JOKOWI AKAN MENGKUDETA PRABOWO?
Apakaj Prabowo sedang diberakin kades di seluruh Indonesia dan jokowi ?
Peta politik hari ini justru memperlihatkan pola yang makin telanjang wak, dugaan Jokowi ingin mengkudeta Prabowo tidak lagi sekadar bisik-bisik. Tanda-tandanya… pic.twitter.com/ImFZdTkjb8
— Sumatera Adil & Federal (@indepenSumatera) August 31, 2026
Dalam analisisnya, Suryo menyoroti keunggulan strategis aparat pemerintahan desa jika dibandingkan dengan struktur kepengurusan partai politik konvensional.
Menurutnya, mesin partai politik umumnya hanya mengakar hingga level kepengurusan kecamatan.
Sebaliknya, para kepala desa memegang kendali akses langsung yang bersentuhan dengan dinamika keseharian warga—mulai dari urusan posyandu, hajatan warga, hingga kegiatan ronda malam.
“Memobilisasi kades sama saja dengan memegang ‘kunci gembok’ suara dari bawah,” tegasnya.
Tidak hanya itu, Suryo turut mengendus adanya dimensi kepentingan ekonomi-politik berbalut simbiosis mutualisme antara elite desa dan pusat di balik fenomena kunjungan massal ini.
Ia menduga ada pesan tersirat yang hendak dikirimkan kepada pemerintah pusat, yakni desakan agar alokasi Dana Desa tidak dipangkas demi menjaga stabilitas politik di tingkat lokal.
Melalui skema kompromi tersebut, para kepala desa diuntungkan dengan kepastian keamanan anggaran pembangunan di wilayah mereka, sementara para elite di tingkat pusat dapat menikmati terjaganya angka elektabilitas dan tren survei politik yang positif.
Sebagai konklusi dari analisanya, Suryo Prabowo menegaskan bahwa gelombang mobilisasi kekuatan kepala desa yang berpusat dari Solo ini membuktikan bahwa pengaruh politik sang mantan presiden sama sekali tidak meredup kendati telah menanggalkan jabatan eksekutif.
“Pensiun boleh di daerah, tapi pengaruh tetap mengontrol papan catur nasional,” pungkasnya.