Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Ternyata ‘Algojo’ Jokowi? Istana Bereaksi: Akan Dilawan Prabowo!

DEMOCRAZY.ID – Istilah “algojo” kini menjadi kata paling tabu di lingkar kekuasaan. Pasca-praktisi intelijen senior, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, membongkar rahasia dapur bahwa mantan Jampidsus Febrie Adriansyah adalah “eksekutor” pesanan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, pemerintah pun langsung bereaksi keras.

Bukannya memberikan klarifikasi substantif, Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah justru sibuk melakukan “cuci tangan” dan mengalihkan isu ke arah komitmen normatif pemberantasan korupsi di bawah Presiden Prabowo Subianto.

Bakom “Bantah” Febrie, Klaim Korupsi Adalah Kerja 12 Ribu Jaksa

Dalam upaya meredam narasi miring tersebut, Deputi III Bakom, Kurnia Ramadhana, mencoba menepis habis-habisan peran Febrie Adriansyah sebagai sosok sentral dalam penegakan hukum di era lalu.

Menurutnya, tidak ada yang namanya “algojo” tunggal di Korps Adhyaksa.

“Algojo di Kejaksaan Agung itu bukan satu orang. Algojo pemberantasan korupsi di Kejaksaan Agung adalah 12.000 orang jaksa di seluruh Indonesia,” ujar Kurnia dengan nada diplomatis yang kaku.

Seolah ingin menegaskan bahwa Kejaksaan Agung jauh lebih besar dari sekadar satu figur, Bakom bersikeras bahwa agenda pemberantasan korupsi tidak akan pernah bergantung pada sosok siapa pun, termasuk Febrie Adriansyah.

Sebuah retorika yang tentu terasa janggal bagi mereka yang melihat betapa krusialnya peran Febrie dalam kasus-kasus besar sebelumnya.

Rahasia di Balik “Jokowi’s Hitman”?

Sebelum Bakom beraksi, Sri Radjasa Chandra melalui kanal Obor Rakyat Reborn telah melempar bom waktu ke publik.

Ia mengungkap sisi gelap hubungan antara Jokowi dan Febrie.

Radjasa menyebut Febrie bertindak “begitu sadis” dalam memenuhi hasrat politik Jokowi, termasuk dalam manuver “sikat-menyikat” lawan politik, salah satunya yang dikaitkan dengan drama perebutan pengaruh di Partai Golkar.

“Jokowi pernah merasakan bagaimana ketika Jampidsus Febrie menjadi algojo-nya, begitu luar biasanya, begitu sadisnya dia… ada kepentingan politik di sana dalam rangka merebut Golkar, sikat!” beber Radjasa.

Upaya “Menghapus Jejak” atau Strategi Bertahan?

Tanggapan Bakom yang terkesan buru-buru membela institusi di atas figur ini justru memicu tanya: apakah pemerintah sedang mencoba menghapus jejak kedekatan antara mantan penguasa dengan “algojo” kepercayaannya?

Klaim bahwa korupsi akan “dilawan terus-menerus oleh Presiden Prabowo Subianto” terdengar indah di telinga, namun di saat yang sama, masyarakat masih menyimpan curiga besar.

Jika benar penegakan hukum adalah kerja kolektif 12 ribu jaksa yang bersih, mengapa justru Febrie Adriansyah—yang sempat menjadi “bintang” di Kejaksaan Agung—kini justru tersungkur sebagai tersangka kasus korupsi, gratifikasi, dan pencucian uang?

Bakom boleh saja mengklaim bahwa “institusi lebih besar dari figur,” namun di mata publik, drama ini tampak jelas sebagai upaya pembersihan internal yang penuh intrik.

Apakah Prabowo benar-benar akan “melawan” sisa-sisa pengaruh sang algojo, ataukah ini hanyalah babak baru dalam sandiwara politik yang mematikan?

Publik hanya bisa menunggu, sampai mana drama “algojo” ini akan berujung.

Artikel terkait lainnya