Dituding Tega ‘Korbankan’ Dokter Tifa Demi Menang Sidang, Roy Suryo Akhirnya Buka-Bukaan!

DEMOCRAZY.ID – Hubungan antara dua pesakitan kasus ijazah Jokowi, Roy Suryo dan Dokter Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa, kini diterpa isu tak sedap.

Di tengah kepungan proses hukum yang makin mencekik, muncul narasi miring yang menyebut Roy Suryo tega menjadikan Dokter Tifa sebagai “kelinci percobaan” atau test case demi kepentingan strategi hukum pribadinya.

Tudingan Keji: “Dokter Tifa Hanya Probandus?”

Roy Suryo tak tinggal diam saat mendengar isu bahwa dirinya sengaja membiarkan Dokter Tifa terlebih dahulu masuk ke kursi terdakwa.

Bagi Roy, narasi yang beredar tersebut adalah upaya adu domba yang amat jahat untuk menghancurkan kekompakan mereka.

“Upaya memecah belah itu bukan hanya dari kami berdua terhadap rakyat. Ini jahat banget,” sembur Roy dalam tayangan Forum Keadilan TV, Rabu (15/7/2026).

Ia menampik mentah-mentah tuduhan bahwa dirinya sengaja menjadikan Dokter Tifa sebagai probandus (objek uji coba) agar ia bisa memantau langkah jaksa dari jauh.

“Itu jahatnya,” tegas mantan Menpora itu.

Skenario “Test Case” yang Dibongkar PSI

Sebelumnya, politisi PSI, Dedek Prayudi alias Uki, memang sempat melontarkan sindiran pedas yang memicu polemik ini.

Uki menuding Dokter Tifa sengaja “dikorbankan” agar Roy Suryo dan timnya bisa mempelajari pola dakwaan jaksa.

Dengan melihat bagaimana jalannya sidang Tifa, Roy dianggap bisa menyiapkan “baju pelindung” lebih awal untuk menghadapi dakwaan serupa di masa depan.

“Biar mereka dengar nih materi dakwaan dari jaksa… sehingga mereka bisa mengira-ngira nih dakwaan yang mirip yang akan dikenakan ke mereka,” sindir Uki melalui kanal COKRO TV.

Strategi atau Sekadar Drama?

Terlepas dari tudingan “adu domba”, fakta di lapangan menunjukkan dinamika yang kontras.

Saat Dokter Tifa sibuk menghadapi tanggapan Jaksa atas eksepsinya di PN Jakarta Timur pada Kamis (16/7/2026), Roy Suryo justru sibuk bermain “catur” di PN Jakarta Selatan melalui jalur praperadilan.

Roy Suryo dengan agresif menggugat status tersangkanya dan meminta pembatalan tiga Sprindik Polda Metro Jaya, dengan berlindung di balik putusan Mahkamah Konstitusi.

Sementara Tifa tetap berada di jalur eksepsi, Roy memilih untuk menguji keabsahan proses hukum sejak dari akarnya.

Di balik klaim mereka tentang “kekompakan,” publik kini dibiarkan bertanya-tanya: Apakah mereka benar-benar solid dalam satu barisan, atau ini hanyalah drama perpecahan yang sengaja dipelihara?

Apakah Dokter Tifa memang sukarela menjadi “pion” di depan, sementara Roy Suryo bermanuver di belakang layar?

Satu hal yang pasti, jika drama ini terus berlanjut tanpa hasil nyata, publik mungkin akan segera bosan dan menganggap kasus ini tidak lebih dari sekadar tontonan untuk memenangkan opini, bukan untuk mencari keadilan yang sebenarnya.

Artikel terkait lainnya