Skenario Besar di Balik Dorongan Gibran Jadi Capres: Siapa Dalang Utamanya?

Rahasia Besar di Balik Dorongan Gibran Maju Capres: Ada Pertaruhan Kekuasaan!

(ERIZAL)

Munculnya dorongan agar Gibran maju sebagai Capres melawan Prabowo, itu bentuk dari kepercayaan diri, kemuakan, sekaligus kepasrahan pendukung Gibran (Jokowi) terhadap Prabowo.

Kepercayaan diri, karena sangat yakin bahwa Prabowo tidak ada apa-apanya tanpa Gibran (Jokowi).

Prabowo jadi Presiden karena Jokowi (Gibran). Jokowi dicintai rakyat, Prabowo tidak.

Kemuakan, karena Prabowo tak memberi peran lebih kepada Gibran (Jokowi).

Kasus ijazah Jokowi bertele-tele, dan Roy-Tifa tidak ditahan, dianggap peran Prabowo seperti teriakan loyalis Jokowi.

Kepasrahan, karena mustahil Prabowo akan tetap menggandeng Gibran pada periode kedua.

Tidak saja Prabowo, partai lain pun, tak ada satu pun yang menginginkan Prabowo-Gibran lanjut dua periode.

Makanya tak aneh, jauh hari, baik Gibran maupun Jokowi, sudah melakukan safari politik (blusukan) se-Indonesia.

Pilihan lain Gibran (Jokowi) memang hanya satu itu. Yakni, lebih awal berkampanye.

Kalau tidak, bukan mustahil nasib Gibran (Jokowi) tahun 2029 berakhir tragis. Ditinggal partai-partai dan ditinggal pemilih juga.

Hanya relawan yang setia bersama. Itupun jumlahnya tidak signifikan.

Mumpung, program unggulan Prabowo bermasalah. Siapa tahu sinar yang menerangi Gibran (Jokowi).

Penak jamanku to? Bisa begitu juga. Tapi, sudah terlambat. Apa yang dilakukan Prabowo tak sedikitpun menguntungkan Jokowi.

Misalnya, BUMN dipangkas hingga 700-san. Dan itu tidak menutup kasus korupsi di BUMN itu. Ambil alih lawan hingga 6 juta hektar.

Prabowo berusaha meluruskan arah bangsa yang salah selama ini.

Dorongan agar Gibran maju Capres dan Jokowi blusukan se-Indonesia, itu bagus bagi Prabowo dan partai lainnya.

Satu sisi Prabowo tak perlu lagi memilih, karena (Gibran) dan Jokowi sendiri sudah memilih.

Sisi lain akan teruji sendirinya, apakah penerimaan Jokowi itu masih besar di lapangan atau hanya di atas kertas saja?

Saya percaya, pemilih Indonesia itu berprinsip, sudah ya sudah, bukan sudah tapi belum. Pisang tak akan berbuah dua kali. ***

Artikel terkait lainnya