Oleh: MN Lapong
Diskusi _Aktivis api Perubahan Indonesia (aPI)_ yang dikemas dalam NgoPi (Ngobrol Pintar) Break Jumatan aPI bertempat di KopiZo Percetakan Negara IV dalam tema : NKRI BERDAULAT dan KRISIS MULTIDIMENSI.
Baik Pembicara yang hadir, terlebih lebih semangat peserta diskusi yang mengeritik keberlangsungan proses bernegara yang terjadi selama ini dalam era pemerintahan reformasi, telah menyimpulkan beberapa ageda besar yang mengerucut pada 3 hal, yakni 1. Ganyang Oliharkhi, 2. Ganyang Koruptor, dan 3. Adili Jokowi.
Diskusi yang dipandu bang Lapong dengan Pembicara yang hadir antara lain, Daeng Wahidin, Standarkia Latief, Ishak Rofiq, Thomas, dan Muslim Arbi.
Secara spesifik menyampaikan gagasan originilitasnya, di mulai dari bung Thomas yang menjawab issu issu seputar pemerintahan Prabowo, yang disambut dengan pertanyaan peserta dari sdr. Katje yang mengeritik habis kehadiran tentara dalam demo mahasiswa. Apa urgently TNI hadir dalam demo mahasiswa.
Standarkia Latief menyoroti secara Spesifik soal tema NKRI Berdaulat yang menurutnya keok di tangan para Oliharkhi yang menyebabkan 80% rakyat Indonesia hanya numpang di negerinya sendiri.
Peserta pun memberi Aplaus apa yang disampaikannya, dengan pertanyaan peserta pasal 33 UUD 45 hanya sebatas omon omon, masih fatamorgana.
Ishak Rofiq sebagai pembicara ke 3 lebih jauh menyoroti, ketidak adilan negeri oleh korupsi pejabat yang massif, kongkalikong dengan para Oliharkhi yang terjadi telanjang di depan mata kita khususnya 10 tahun di era pemerintahan Jokowi.
Puluhan atau ratusan Proyek Strategis Nasional (PSN), sengaja dirancang oleh Jokowi diperuntukkan kepada para oligakhi “chino” Yang nilainya pantastik ratusan atau hingga ribuan Trilyun, dimana rakyat dan sumber daya alam diekploitasi, bahkan rak yat terusir dari tanah leluhurnya.
Ishak Rofiq pun memberi contoh dalam kasus Rempang dan PIK 2.
Dimana dalam kasus PSN itu terjadi suap menyuap dan korupsi massif diberbagai level tingkatan struktur jabatan pusat dan daerah.
Diskusi memuncak hangat dan Emosional ketika Daeng Wahidin menyampaikan pendapatnya, bahwa sumber dari segala kerusakan di NKRI ini adalah Oliharkhi yang sudah sekian puluh tahun mengakar kuat di Indonesia yang secara estafet telah menindas dan menjajah bangsa Indonesia.
Dia memberi contoh bagaimana di era Jokowi yang dengan sengaja membuat UU OmnibusLaw untuk alasan investasi untuk target pertumbuhan, telah menjadi bancakan para oligarkhi dalam mengeksplorasi dan mengeksplotasi sumberdaya manusia Indonesia, khususnya Buruh, petani, nelayan dan umumnya masyarakat kecil Indonesia.
Daeng Wahidin Mendukung habis program pak Prabowo yang menutup semua pintu penyelundupan legal dan tipu tipu eksport hasil sumberdaya alam seperti sawit, baru bara dll.
Oleh para oligarkhi yang menurut catatan Daeng Wahidin dilakukan sekitar 30 perusahaan.
Pemberlakuan Ekspor satu pintu melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 2026, pemerintah secara resmi mewajibkan ekspor komoditas Sumber Daya Alam (SDA) strategis untuk melewati satu pintu, adalah tindakan yang tepat yang harus kita dukung menuju NKRI Berdaulat ungkapnya.
Daeng Wahidin Menambabkan, menjawab pertanyaan sdr. Fadil soal MBG dan kegagalan Prabowo dalam menjawab krisis hari ini yang belum terlihat seperti yang disampaikan dalam visi Indonesian Paradoksnya.
Bahwa menurut Daeng apa yang dilakukan Prabowo hari ini adalah siasah yang harus dilakukannya secara berhati hati dalam komplesitas politik hari ini yang sewaktu waktu bisa menelikungnya jika dia melakukannya secara emosional.
Itulah yang dilihat mata sebagai omon omon semata, Prabowo terpaksa menyiasati semua ini seperti makan bubur panas yang mulai dibenahi dari pinggir satu persatu.
Soal MBG Daeng menambahkan bahwa Prabowo tetap konsisten membenahi kekacauan program tersebut, terbukti anggaran mulai diefisienkan dan pelaku korupsinya ditangkapin dari kepala dan wakil BGN, sekalipun itu orang terdekatnya.
Muslim Arbi sebagai pembicara Terakhir, memberi titik tekan kepada tema pembicaraan diskusi, Yakni mengapa NKRI tak berdaulat dan terus menerus didera krisis multi dimensional, karena bangsa ini tak pernah serius membenahi tata kelola kekayaan alam kita, dan kita membiarkan hal tersebut di korupsi berjamaah oleh pejabat yang mengurus negara ini bersama koncone para oliharki.
Rakyat di biarkan hidup miskin dan tertindas. Sekarang menurut menurut Muslim Arbi mari kita dukung Prabowo jika benar dan serius melawan para oligarkhi.
Bang Lapong kemudian memandu isi substansi suara kritis dari keseluruhan peserta Diskusi Aktivis api Perubahan Indonesia untuk dilanjutkan pada diskusi berikutnya yang akan dilaksanakan sekali dua minggu pada diskusi NgoPi Break Jumatan berikutnya.
Akhirnya Diskusi di tutup dalam semangat yang diteriakkan peserta Diskusi yang di pandu bang Lapong, Ganyang Oligarkhi, Ganyang Koruptor dan Adili Jokowi sebagai biang Kerusakan multi Dimensi, dari tatanan politik, ekonomi dan hukum.
Merdeka!