Kejatuhan Dimulai: Eks Penasihat Spiritual Jokowi Sebut Kekuatannya Tinggal 10 Persen, Hukum Alam Sedang Bekerja!

DEMOCRAZY.ID – Mantan penasihat spiritual Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Sri Eko Sriyanto Galgendu atau Eko Lemu, menilai pengaruh politik Joko Widodo tidak lagi sebesar saat Pemilihan Presiden 2014.

Dalam podcast Madilog Forum Keadilan yang dipandu Jurnalis Senior Darmawan Sepriyossa, Eko menyebut kekuatan politik Jokowi saat ini tidak mencapai 10 persen dibanding masa awal kemunculannya di panggung nasional.

Menurut Eko, salah satu penyebab menurunnya pengaruh Jokowi adalah perubahan komposisi orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Ia membandingkan situasi saat Pilpres 2014 dengan kondisi sekarang.

“Waktu Pak Jokowi maju Pilpres 2014, sekitar 95 persen yang datang adalah orang-orang yang ingin membantu dengan ikhlas. Mereka menjadi relawan, mendukung jaringan, logistik, dan bergerak tanpa pamrih. Sekarang yang datang justru kebanyakan mengejar kekuasaan dan uang,” kata Eko.

Ia menilai kondisi tersebut membuat dukungan politik yang dulu bersifat sukarela berubah menjadi dukungan yang sarat kepentingan.

Karena itu, Eko memperkirakan upaya Jokowi turun langsung mengampanyekan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak akan menghasilkan efek politik sebesar yang pernah terjadi pada masa lalu.

Dalam perbincangan itu, Eko juga menyoroti perubahan orientasi kepemimpinan Jokowi setelah menjabat Presiden.

Ia berpendapat lingkungan kekuasaan yang didominasi kalangan pengusaha ikut memengaruhi arah kebijakan pemerintah.

Menurutnya, seorang pengusaha dan seorang pemimpin negara memiliki cara berpikir yang berbeda.

Pengusaha, kata dia, fokus pada strategi untuk usaha dan kelompoknya, sedangkan pemimpin negara seharusnya bekerja sepenuhnya untuk kepentingan bangsa dan negara.

“Jokowi berpikir dengan menarik pengusaha ke lingkaran kekuasaan, negara akan menjadi lebih baik. Tetapi seorang pengusaha dan pemimpin negara memiliki orientasi yang berbeda. Ketika cara berpikir pengusaha lebih dominan, kebijakan bisa bergeser menjadi kepentingan kelompok,” ujarnya.

Eko juga mengaku mulai mengambil jarak dari Jokowi setelah melihat adanya perbedaan pandangan mengenai arah kepemimpinan nasional.

Sebagai tokoh spiritual yang pernah terlibat dalam perjalanan politik Jokowi sejak masa awal, ia mengaku berkali-kali mengingatkan agar tetap berada pada jalur yang menurutnya benar.

Dalam wawancara tersebut, Eko mengutip falsafah Jawa, “Sopo sing nandur bakal ngunduh” atau siapa yang menanam akan menuai.

Menurutnya, setiap kebijakan pemimpin akan meninggalkan konsekuensi yang pada akhirnya kembali kepada pemimpin itu sendiri.

“Derita, tangis, maupun doa rakyat akan terus mengikuti pemimpin sampai ke liang kuburnya. Sebaliknya, jika seorang pemimpin menghadirkan kebahagiaan dan kesejahteraan, doa baik rakyat juga akan mengikutinya,” katanya.

Meski menyampaikan kritik keras terhadap kepemimpinan Jokowi, Eko menegaskan pandangannya dimaksudkan sebagai bahan refleksi bagi seluruh pemimpin nasional, termasuk pemerintahan saat ini.

Ia menilai setiap pemimpin perlu memiliki “mental kenegaraan”, yakni kemampuan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Podcast tersebut juga membahas berbagai isu lain, mulai dari dinamika lingkaran dalam kekuasaan, relasi pemerintah dengan kelompok-kelompok tradisional di Nusantara, hingga evaluasi terhadap sejumlah kebijakan strategis selama pemerintahan Jokowi.

Namun seluruh pandangan yang disampaikan merupakan pendapat pribadi narasumber dalam forum diskusi tersebut.

[FULL VIDEO]

Sumber: Herald

Artikel terkait lainnya