Dunia Menahan Napas! Terungkap Bocoran Poin Proposal Perdamaian AS-Iran, Akankah Perang Benar-Benar Berakhir?

DEMOCRAZY.ID – Proses perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat masih terus berlangsung.

Namun, masih banyak kebingungan dan pertanyaan yang belum terjawab.

Mengutip Al Jazeera, Presiden AS Donald Trump menyebut, ia menginstruksikan timnya untuk tidak perlu terburu-buru dalam mencapai kesepakatan dengan Iran.

Trump juga mengatakan pada Sabtu (23/5/2026) bahwa sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan dan kini tinggal menunggu finalisasi antara AS, Iran, dan berbagai negara lain.

Para pejabat Iran mengonfirmasi bahwa negosiasi sedang berlangsung dan beberapa kemajuan telah dicapai.

Namun, sebuah sumber Iran mengatakan kepada Ali Hashem dari Al Jazeera bahwa ada tanda-tanda kemunduran AS pada dua isu utama, yakni mekanisme pencairan aset Iran dan cakupan gencatan senjata di Lebanon.

Selat Hormuz dan program nuklir Iran juga tampaknya masih menjadi poin yang diperdebatkan.

Poin-Poin Penting

Lalu, apa saja yang mungkin termasuk dalam usulan kesepakatan gencatan senjata Iran?

Menurut seorang pejabat AS kepada Axios, kesepakatan antara Iran dan AS akan mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, di mana Selat Hormuz akan dibuka kembali.

Di samping itu, Iran dapat menjual minyak secara bebas, dan pembicaraan mengenai pembatasan program nuklir Iran akan digelar.

Iran juga akan setuju untuk membersihkan ranjau yang telah dipasang di selat tersebut serta tidak mengenakan bea masuk pada kapal.

Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran yang telah berlaku sejak 13 April.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan pada Minggu (24/5/2026) bahwa kesepakatan itu dapat mewujudkan Selat Hormuz yang sepenuhnya terbuka tanpa pungutan tol jika berhasil.

Namun, media Iran melaporkan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali Iran.

Selain itu, pertempuran juga akan dihentikan di semua lini, termasuk Israel dan Lebanon.

Kesepakatan itu juga dilaporkan akan mencairkan sebagian aset Iran yang disimpan di bank-bank luar negeri.

Mengutip i24 News, perkiraan mengenai nilai sebenarnya dari aset Iran yang dibekukan bervariasi, tetapi sejumlah laporan menunjukkan nilainya berkisar antara 100 hingga 120 miliar dolar AS.

Aset-aset tersebut, mencakup saldo keuangan yang disimpan di bank-bank asing, selain investasi, real estat, dan aset lain yang dikenai pembatasan terkait sanksi internasional dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Sebagian besar dana itu terkonsentrasi di negara-negara Asia, khususnya China dan India, sementara hanya sebagian kecil yang berada di Amerika Serikat.

Apa yang kemungkinan besar tidak akan disertakan?

Sebuah sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Minggu bahwa Iran belum setuju untuk menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi (HEU) miliknya.

Sumber tersebut, mengatakan bahwa isu nuklir Iran bukan bagian dari perjanjian pendahuluan dengan AS.

The New York Times, mengutip dua pejabat AS, melaporkan bahwa Iran telah menyatakan kesediaan untuk melepaskan persediaannya.

Namun, bahkan jika Iran setuju untuk melepaskan sebagian persediaan HEU-nya, belum ada penjelasan mengenai bagaimana hal itu akan dilakukan dalam praktik.

Selain itu, hanya sedikit pembahasan mengenai program rudal balistik Iran atau pembatasan dukungan untuk sekutu regionalnya seperti Hizbullah di Lebanon maupun Houthi di Yaman.

Kata Pakar: “Perang Pilihan” Trump Merugikan Seluruh Kawasan

Abdullah Alshayji, profesor ilmu politik di Universitas Kuwait, mengatakan bahwa perang Iran-Amerika sejak awal merupakan perang pilihan, bukan perang karena kebutuhan.

“Trump percaya bahwa Iran sedang bertekuk lutut, dapat digulingkan, dan rezimnya dapat lenyap,” kata Alshayji kepada program Inside Story Al Jazeera.

“Namun pada akhirnya, jelas itu adalah kesalahan perhitungan besar.”

Alshayji menyebut, Iran memanfaatkan tekanan domestik terhadap Trump, termasuk meningkatnya frustrasi akibat melonjaknya harga bahan bakar di AS, sebagai tanda bahwa mereka dapat mendikte syarat-syarat kesepakatan apa pun.

“Dan karena itu, kita menderita di kawasan ini. Seluruh dunia menghadapi krisis energi paling parah dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Alshayji.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya