

DEMOCRAZY.ID -Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai langkah Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang bersiap “turun gunung” berkeliling Indonesia bukan sekadar aktivitas biasa mantan kepala negara, melainkan sarat kepentingan politik jangka panjang.
Dalam perbincangan bersama jurnalis senior Margi Syarif di kanal Forum Keadilan TV, Pangi menyebut rencana Jokowi menyerap aspirasi rakyat sebagai bagian dari agenda yang lebih besar, termasuk menjaga eksistensi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di panggung politik nasional.
“Kalau kita baca, ini bukan sekadar agenda rakyat. Ada agenda politik, ada upaya memastikan PSI tetap hidup dan bisa lolos ambang batas parlemen,” kata Pangi.
Ia menilai pernyataan Jokowi yang sebelumnya ingin kembali ke Solo sebagai rakyat biasa kini berbanding terbalik dengan aktivitas politik yang masih intens.
Menurutnya, hal itu memperlihatkan inkonsistensi antara pernyataan dan tindakan.
Pangi juga menyoroti klaim kesehatan Jokowi yang disebut telah pulih hingga 99 persen.
Ia melihat pernyataan itu sebagai sinyal kesiapan untuk kembali aktif secara politik dan turun langsung ke masyarakat.
“Pesan 99 persen itu bukan sekadar kesehatan, tapi sinyal bahwa beliau siap turun, bertemu rakyat, dan menguji apakah magnet elektoralnya masih kuat,” ujarnya.
Dalam analisisnya, kekuatan utama yang diandalkan Jokowi terletak pada figur personal.
Ia menyebut fenomena “Jokowi effect” masih menjadi faktor penting dibanding kekuatan kelembagaan partai seperti PSI.
Namun demikian, Pangi menilai efektivitas pengaruh tersebut belum tentu solid.
Ia menyebut adanya sentimen negatif dari sebagian publik terhadap warisan kebijakan masa lalu, termasuk isu utang negara dan kebijakan ekonomi.
“Ini akan diuji, apakah masyarakat masih rindu atau justru sudah punya penilaian lain,” katanya.
Lebih jauh, Pangi menilai langkah Jokowi berkaitan dengan upaya menjaga keberlanjutan pengaruh politik, termasuk terhadap keluarga.
Ia menyebut PSI sebagai salah satu instrumen penting dalam skenario tersebut.
“Ini bukan hanya soal Jokowi, tapi soal keberlanjutan kekuasaan. PSI jadi alat untuk itu,” ujarnya.
Ia juga menyinggung fenomena politik berbasis figur di Indonesia yang dinilai masih dominan.
Dalam konteks ini, partai politik cenderung bergantung pada tokoh sentral ketimbang sistem kaderisasi yang kuat.
Menariknya, dalam pernyataannya, Pangi secara terbuka mengakui bahwa ia banyak belajar strategi politik dari Jokowi, terutama dalam hal manuver dan taktik.
“Dalam politik itu, kalau kita tidak bergerak, kita bisa dikalahkan. Soal kelicikan dan manuver, Jokowi itu guru saya,” ucapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa aspek strategi politik berbeda dengan orientasi pada kepentingan publik.
Rencana Jokowi untuk kembali aktif di ruang publik politik dinilai akan menjadi variabel penting menjelang Pemilu 2029.
Pangi menyebut momentum saat ini sebagai fase awal pemanasan mesin politik.
“Ini baru mulai. Politik itu waktunya terasa cepat. Apa yang dilakukan sekarang akan berpengaruh ke depan,” katanya.
[FULL VIDEO]
Sumber: Herald